“ANAK CIWEK, PEMIMPIN GEMBENG”

Saya tidak terlalu familiar dengan kata gembeng walaupun saya paham maknanya. Dalam khasanah bahasa lokal tempat saya berasal, yakni Banjarnegara (wilayah Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah), orang lebih fasih menggunakan kata ciwek dibanding gembeng. Gembeng lebih bergaya ”Mataraman”, sedangkan ciwek lebih ”Banyumasan”. Meski demikian, gembeng dan ciwek tidak berbeda maknanya alias keduanya sebangun.

Gembeng dan ciwek dipahami sebagai julukan atau padanan terhadap anak-anak yang suka menangis ketika berhadapan dengan masalah yang menderanya. Lebih dari sekedar menangis, ia niscaya juga tak kuasa untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga ia berharap ada orang lain yang membantunya. Bisa kakak, bisa saudara, bisa kerabat, atau malah orang tuanya sekalipun. Dengan menangis ia berharap dikasihani. Dengan menangis ia berpikir masalah itu langsung selesai. Menangis bagi anak-anak gembeng atau ciwek adalah sebuah jalan keluar.

Cengeng! Ya, cengeng! Bangsa Indonesia lebih mengenal kata cengeng dibanding gembeng atau ciwek. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencantumkan kata cengeng dan gembeng, tapi tidak dengan kata ciwek. Gembeng diartikan sebagai mudah terharu dan menangis. Sedangkan, cengeng lebih komplit lagi. Cengeng bisa bermakna mudah atau suka menangis. Namun, cengeng juga berarti gampang tersinggung. Karena cenderung mudah menangis dan gampang tersinggung, cengeng mengarah pula kepada arti yang ketiga, yakni lemah semangat (dalam berhadapan dengan ujian hidup).

Di masa saya kecil dahulu, anak-anak yang berkonotasi ciwek adalah anak-anak yang menjengkelkan dan menyebalkan. Karena menjengkelkan dan menyebalkan, ia kerap dicerca kawan-kawannya yang sebaya. Bahkan tidak sedikit anak-anak yang sengaja menjauhinya. Tidak nyaman rasanya berteman dengan anak-anak yang ciwek. Sedikit-sedikit menangis. Sedikit-sedikit mengeluarkan air mata. Sedikit-sedikit wadul (melaporkan masalah) kepada orang tuanya.

Tidaklah mudah menandai anak-anak yang ciwek. Sebab, sifat dan watak ciwek tidak akan memilih bentuk tubuh, rupa atau wajah, apalagi keturunan. Ciwek bisa menghinggapi anak-anak yang bertubuh tinggi besar, meskipun teman-teman sebayanya berbadan lebih kecil. Ciwek mampu menimpa anak-anak yang berparas tampan walaupun teman-temannya berwajah di bawah standar. Ciwek dapat menerjang anak-anak yang berpredikat keturunan orang penting/berada meski kawan-kawannya anak orang biasa.

Anak yang ciwek hanya bisa diketahui ketika ia berhadapan dengan masalah-masalah yang ada di depannya. Satu masalah akan dijawab dengan tetesan air mata. Dua masalah disikapi dengan tangisan keras. Bertubi-tubi masalah ditangkis dengan tetesan dan tangisan yang menggelegar. Tidak ada jawaban, sikap, dan tangkisan yang lain. Jurus pertama dan terakhir yang dimiliki anak ciwek hanya tangisan air mata. Dengan tangisan ia berkeyakinan bahwa dirinya akan terlepas dari masalah yang menghimpitnya. Dan ia…selamat!

Apa jadinya sebuah bangsa andai ia dikuasai oleh para pemimpin yang ciwek? Saya tidak tahu, tetapi saya -mungkin- sedikit dapat membayangkannya.

Saya membayangkan bahwa bangsa itu pasti tertatih-tatih dalam melewati proses perjalanan sejarahnya. Bangsa lain sudah berlari jauh, bangsa itu berjalan pelan. Bangsa lain berjalan cepat, bangsa itu berjalan di tempat. Bangsa lain berjalan di tempat, bangsa itu mundur beberapa langkah. Bangsa lain mundur beberapa langkah, bangsa itu malah terhempas. Bangsa lain terhempas, bangsa itu sudah tidak terdengar lagi degup jantungnya.

Saya membayangkan bahwa rakyat akan kebingungan menentukan pegangan dan arahnya. Secara formal rakyat memang memiliki para pemimpin yang sah dan diakui. Namun, rakyat tidak pernah tahu tempat para pemimpin itu bermukim, apalagi merasakan denyut kebijakan dari sang pemimpin yang menyentuh dirinya. Para pemimpin itu ada, tapi ia serasa tiada. Segala perjalanan yang dilakukan rakyat bukan karena arahan komando para pemimpin, melainkan digerakkan dan dikendalikan oleh naluri alam bawah sadar akibat tempaan sejarah hidupnya.

Saya membayangkan bahwa para pemimpin yang ciwek akan lebih suka wadul kepada rakyat dibanding rakyat yang wadul kepada dirinya. Rakyat tidak mampu lagi mengeluhkesahkan segala derita dan nestapa yang menimpa sepanjang hidup. Rakyat tidak bisa wadul karena sang pemimpin telah lebih dahulu wadul kepada dirinya bahwa ia kerap difitnah, didzolimi, dan bahkan diancam hendak dibunuh. Entah oleh siapa. Rakyat tidak kuasa wadul karena melihat para pemimpinnya ternyata lebih ”menderita” dibanding dirinya.

Saya membayangkan bahwa bangsa itu pasti penuh dengan air mata. Hutan yang menjadi hunian paling sejuk dan sehat telah berubah menjadi hutan air mata. Laut yang menjadi tempat paling nyaman bagi nelayan mengayuh hidup sudah berubah menjadi lautan air mata. Sawah yang subur yang menghasilkan panenan berkelas pada akhirnya beralih menjadi sawah air mata. Bahkan pabrik-pabrik sebagai tempat penghasil produk-produk berkualitas hanya membuahkan pabrik air mata.

Anak yang ciwek jelas menjengkelkan, tetapi para pemimpin yang ciwek -lebih-lebih lagi- pasti menyebalkan, selain tentu saja menjengkelkan. Kenapa? Karena, para pemimpin yang ciwek hanya akan menghasilkan air mata! * * *

One Response

  1. Paradigma Jawa kuno yg mengikutkan “Wahyu” sebagai syarat utama untuk mjd pemimpin sebenarnya memuat banyak hal positif. Ksatria yg punya wahyu, itu sudah mencakup segala atribut ke-gentle-an, kebijaksanaan, kecerdasan, ketangguhan, di samping kemampuan untuk memimpin.
    Sayangnya hal itu hanya berlaku utk sistem monarki konvensional, di mana paradigma lain yg disebut “Satriyo Piningit” juga bisa berlaku. Ga bisa paradigma wahyu dipaksakan muncul dlm sistem Indonesia di mana pemimpin negara dipilih di antara kontestan berbasis parpol. Ga ada itu jargon satriyo piningit dlm sistem konstitusi.
    Nah, celakanya… Indonesia sekarang, klo dr peneropongan spiritualis bs dikatakan dipimpin Raja yg tak punya wahyu. Sebenarnya tak ada yg salah dg “tak punya wahyu” ini, asalkan si Raja itu menggandeng satriyo valid yg punya wahyu dan atau begawan bonafid sebagai penasehatnya.
    Ga punya wahyu tp jalan sendiri yaa.. kacau.. Ga punya wahyu tp salah milih punggawa dan penasehat jg ga kalah kacau jadinya.
    Dlm sebuah komik wayang diceritakan bhw Kurupati raja Hastina sebenarnya ga terlalu jahat. Ia hanya suka bimbang dan malas berpikir. Akibatnya, ambisi Sengkuni lah yang selalu mewarnai segala keputusannya.. Hastina yg sebenarnya gemah ripah loh jinawi itu pun di bawah pemerintahan Kurupati menjadi negara yg korup, boros, dan (sedikit) amoral..
    Btw, dg sistem undang2 yg melindungi atau bahkan melanggengkan pemerintahan yg amat sangat “under-estimatable” ini rakyat mesti bersabar menunggu hingga PEMILU mendatang.. terpaksa… kecuali kita semua bisa membalik waktu shg kita semua berada di suatu waktu di mana sejarah Majapahit dengan KALAGEMET-nya sudah terselesaikan.. dengan baik… menuju zaman keemasan Hayam Wuruk dan Gajah Mada-nya.. meski harus tetep lewat Tribuwana Tunggadewi..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: