FILOSOFI “SEPAKBOLA INDAH” TELAH BERUBAH?

Zico, Brazil (kiri) dan Maradona, Argentina (kanan) saat berhadapan di World Cup 1982.

Apa itu sepakbola indah? Ah, itu sih istilah yang ngaco dan bikin puyeng tujuh keliling. Boro-boro berpikir tentang sepakbola indah, memikirkan cara agar terhindar dari kekalahan dan berusaha memenangkan pertandingan saja susahnya setengah mati. Lalu, kenapa mesti dituntut dengan sepabola indah segala? Macam-macam saja….

Bagi para pelatih atau pemain sepakbola, istilah sepakbola indah mungkin mudah diucapkan, tapi amat sangat sulit dipraktikkan. Istilah sepakbola indah ibarat langit. Pesonanya hanya mampu dipandang, tapi sangat susah diraih. Sebab, bagaimana tidak mudah bila dalam kacamata kebanyakan orang, sepakbola indah kerap dipahami sebagai sebuah permainan sepakbola yang enak dilihat, asyik ditonton, dan sedap dinikmati. Jelas debatable!

Tapi, eits… Tunggu dulu! Adakah sepakbola indah pernah dimainkan? Faktanya, sejarah sepakbola di dunia pernah melahirkan tim-tim yang mampu memainkan sepakbola indah hampir mendekati sempurna. Tim-tim itu tak hanya mengandalkan permainan yang asyik ditonton dan sedap dinikmati, tapi lebih-lebih lagi, mereka mampu memperlihatkan keterampilan teknik menyerang yang tinggi di segala lini dan waktu, tanpa henti.

Mari kita catat!

Pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, Pelatih Belanda Rinus Michels meracik sebuah tim yang andal dalam menyuguhkan permainan sepakbola indah di lapangan. Dengan talenta unik yang ada pada Johan Cruyff, dkk. Belanda menyihir para pecinta bola kala itu. Belanda 1974 yang runner up adalah keunikan dibandingkan dengan tim peraih juara, Jerman Barat. Dunia lebih mengenang Belanda sebagai “juara tak bermahkota” dengan total football-nya yang ciamik dan merangsang.

Rinus Michels kembali dengan total football-nya pada Piala Eropa 1988 di Jerman. Namun, ia tak mau peragaan sepakbola indahnya hanya diberi label tanpa gelar. Ia memberontak. Maka dunia tak hanya dikejutkan dengan gol indah Van Basten ke gawang Renat Dassayev (Uni Soviet) di final, tapi dunia juga diberi pertunjukan seni sepakbola maha tinggi pada nama Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan lain-lain. Belanda pulang dengan dua gelar, mahkota dan label.

Tele Santana terkenal sebagai master of jogo-bonito, empu sepakbola indah. Filosofi kepelatihannya sangat jelas. Sepakbola adalah seni. Karena seni, maka sepakbola harus disuguhkan dengan racikan yang indah dan mempesona agar setiap orang bisa menikmati. Beautiful football Brasil disuguhkan Tele Santana pada Piala Dunia 1982 (juga Piala Dunia 1986). Talenta emas Zico, Socrates, Falcao, dkk. diminta mempertontonkannya. Dunia takjub. Sayang Santana tak punya tukang gedor yang bisa bikin gol sehingga Brazil harus tersingkir dari perhelatan.

Sepakbola indah, total football, jogo bonito, beautiful football, sepakbola seksi, atau -apapun istilahnya-, tak pernah menghapus kisahnya. Ia malah terus menularkan jejaknya itu kepada para pengusung dan pencintanya. Hukumnya pasti, permainan sepakbola bukan sekadar merebut kemenangan demi kejayaan sebuah tim, melainkan kemenangan itu niscaya disuguhkan dengan pola permainan yang memikat. Kemenangan tak akan cukup berarti tanpa keindahan di lapangan.

Banyak orang menyepakati, termasuk Johan Cruyff, Guardiola, dan yang lainnya. Sebab kemenangan dan keindahan itulah yang menjadikan para penonton berduyun-duyun dan kemudian pulang dengan kenangan di benak. Mereka tak pernah menyesal telah mengeluarkan sejumlah uang yang banyak karena mereka tahu, saat duduk di balkon, di lapangan para pemain sepakbola akan menyuguhi peragaan teknik dan keterampilan sepakbola yang hebat.

Namun, di Inggris, berbeda pemahamannya. Sepakbola indah bukanlah pilihan. Ada nilai yang lebih tinggi dibanding sekadar memperagakan sepak bola menyerang dengan gerakan-gerakan atraktif. Apa itu?

Sepakbola di Inggris adalah permainan laki-laki yang menjunjung tinggi jiwa kelelakiannya. Karena itu, sikap-sikap, seperti sportivitas, fair play, dan gentlemanship harus dipegang teguh oleh semua pemain sepakbola yang berlabuh di klub-klub Inggris. Perilaku curang di lapangan dan diving (tipuan jatuh) tidak ditolerir. Kemenangan mesti diraih dengan jiwa sportivitas, bukan keindahan semata.

Maka Fabio Capello, pelatih tim nasional Inggris saat ini, melebarkan sayap pengertiannya terhadap sepakbola indah. Capello yang berjaya dengan trisula Belanda, Basten-Gullit-Rijkarrd- hingga AC Milan (Italia) dijuluki sebagai “The Dream Team” di era 90-an tak memungkiri fakta perlunya teknik, keterampilan, dan kerja sama pemain sebagai syarat lahirnya sepakbola indah. Namun, bukan itu esensi sebenarnya dari sepakbola indah.

Di era kini, sepakbola sudah menjadi sebuah industri. Semua orang berusaha merenggut kenikmatan dari permainan yang diperagakan duapuluhdua orang itu. Bisa kenikmatan uang yang diperoleh dari bergulirnya iklan atau hadiah uang. Bisa kenikmatan kebanggaan karena memenangi banyak kejuaraan. Bisa pula kenikmatan kejayaan sebab beberapa rekor dapat terciptakan.

Agaknya, dalam batas inilah Capello meyakini bahwa sepakbola indah bukan semata permainan yang dipertontonkan di lapangan. Sepak bola indah hadir jika semua orang bisa pergi ke stadion bersama teman, keluarga, dan anak-anak dengan rasa aman dan nyaman. Mereka datang tanpa takut akan datangnya kerusuhan atau keributan. Inilah sepak bola indah yang sebenarnya, demikian kata Capello.

Tapi, apa makna sepakbola indah di negeri kita, Indonesia? * * *

Sumber gambar: http://www.whoateallthepies.tv

One Response

  1. Kalau di Indonesia nonton bola di stadion mah harus pake helm…sebab khawatir kena lemparan benda-benda nggak penting dari penonton. Belum lagi kalau wasitnya dianggap berat sebelah…Akan ada tontonan tambahan: pertandingan silat antara pemain vs wasit…suporter vs tim yang dianggap menang karena curang…hiks.

    Entah, mo dibawa kemana sepakbola indonesia.
    Nyari 11 orang yang jago maen bola aja susahnya setengah mati…hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: