KINI, SAYA AKAN SELALU INGAT VALENTINE’S DAY!

Dokter yang baik hati itu duduk di ruang praktik dengan wajah yang seperti biasa; ramah, murah senyum, dan bersahabat. Namun, semburat ketegangan terpancar agak jelas. Dr. Roslina, SpOG, dokter spesialis kandungan/kebidanan pada Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina, Bogor.

Saya dan istri sedikit merasakan itu. Apalagi saat ia berbicara dengan bahasa yang terukur, seolah tidak ingin kata-katanya disalahpahmi oleh lawan bicaranya, kami berdua.

”Bapak, ibu…,” Dr. Roslina menghentikan sekejap gerak bibirnya. ”Bayi yang ada dalam kandungan ibu harus segera dikeluarkan dengan operasi cesar. Jika tidak, saya khawatir sesuatu yang fatal bisa terjadi.”

Saya terhenyak, apalagi istri saya. Raut kecemasan langsung muncul. Bayangan buruk berkelebat di mata istri saya. Saya tahu, keputusan Dr. Roslina sungguh di luar dugaan istri saya, juga saya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan melahirkan bayi dengan operasi cesar. Setiap datang ke ruang praktik Dr. Roslina, istri saya selalu berbicara tentang proses kelahiran secara normal, seperti halnya kelahiran dua anak kami sebelumnya. Dr. Roslina pun mahfum, dan bahkan mendukung keinginan istri saya.

Dokter Roslina lalu menjelaskan persoalannya. Dari hasil pemeriksaan CTG. diketahui bahwa tali pusar bayi yang ada dalam kandungan istri saya terjepit oleh kepalanya sendiri dan dinding jalan lahir istri saya. Karena terjepit, asupan makanan dan oksigen yang masuk menjadi tidak lancar. Akibatnya, detak jantung bayi bergerak tidak normal. Nah, persoalan ini hanya dapat diatasi dengan mengeluarkan bayi sesegera mungkin dari kandungan ibunya.

”Apa tidak bisa ditunda, dokter?” tanya istri saya tak mampu menutupi cemas.

Dr. Roslina menggeleng pelan. Senyum masam menyembul dari wajahnya yang diselimuti jilbab berwarna coklat.

”Lalu, kapan operasi cesar dilakukan?” tanya istri saya lagi.

”Hari ini dan waktu ini juga.”

Saya tidak terkejut dengan jawaban Dr. Roslina. Bagi saya, lebih cepat lebih baik, seperti bunyi tagline iklan salah seorang calon presiden pada pemilu lalu. Apalagi jabang bayi yang ada dalam perut istri saya memang sudah melewati batas usianya, 42 minggu. Namun, tidak demikian dengan istri saya. Ucapan dokter ”hari ini juga” menimbulkan efek guncangan pada perasaannya. Wajahnya pucat. Muka takut menyembul jelas.

Dr. Roslina paham perasaan istri saya. Ia lalu meminta izin keluar. Saya tahu, ia memberi kesempatan kepada saya dan istri saya untuk menemukan kesepahaman. Semacam jalan keluar.

”Mas, saya keberatan kalau operasi dilakukan hari ini,” ujar istri saya.

”Lho, memang kenapa?” tanya saya penasaran. ”Kan dokter sudah bilang, tidak ada hari yang lebih baik untuk operasi selain hari ini.”

”Hari ini Hari Raya Valentine, Mas! 14 Februari!” seru istri saya dalam nada tertahan.

Sejenak saya kaget. Ha, bener juga kata istri saya. Hari ini, Minggu, 14 Februari 2010. Kok saya bisa lupa kalau hari ini adalah Hari Raya Valentine. Bukankah hari ini disimbolkan sebagai perayaan kasih sayang antar umat manusia di seluruh dunia? Tapi, apa hubungannya Hari Raya Valentine ini dengan penolakan istri saya atas kelahiran bayi yang dikandungnya?

Saya pandangi wajah istri saya dalam-dalam. Saya berusaha meraba jawabannya. Ah, kini saya tahu. Sangat tahu. Istri saya pasti keberatan anaknya lahir bertepatan dengan perayaan Hari Raya Valentine yang kemunculannya diadopsi dari tradisi umat Kristiani. Selanjutnya, istri saya pasti menolak bila anaknya kelak menjadi lambang kelam dari keriuhan muda-muda yang bebas-merdeka dalam mengejawantahkan Hari Raya Valentine.

”Kalau kamu keberatan, ya nggak apa-apa. Apalagi bila menurutmu baik. Tapi, kamu harus berani menanggung sendiri risikonya bila terjadi apa-apa pada diri bayi yang ada dalam kandunganmu,” cetus saya memberi terapi kejut. Bagi saya pemahaman istri saya tidak masuk akal. Karena tidak masuk akal, ia pasti keliru.

Istri saya terkejut dengan ucapan saya. Ia sepertinya sadar suaminya telah berlepas tangan atas segala keputusan yang dibuatnya. Dengan lepas tangan, saya tidak akan ikut bertanggung jawab atas segala akibat yang terjadi. (Tapi, ah, mana ada sih suami yang berlepas tangan atas derita yang dialami sang istri?)

Istri saya terdiam. Lama. Saya tahu, ia dilanda keraguan hebat. Pertempuran pasti sedang terjadi dalam batinnya. Tiba-tiba…

”Ya, sudah. Aku siap hari ini…”

“Bener nih?”

“Iya. Bener!”

Saya tersenyum. Lega. Kesepahaman sudah diambil. Maknanya, saya dan istri saya bertanggung jawab atas segala keputusan yang telah diambil dengan segala konsekuensinya.

Tepat pukul 15.00 WIB Hari Minggu, tanggal 14 Februari 2010, operasi cesar dilakukan oleh Tim yang dipimpin Dr. Roslina, Sp.OG di RSIA Hermina, Bogor. Hampir sejam saya menunggu dalam cemas. Beberapa saat kemudian Dr. Roslina mengabarkan operasi berjalan lancar. Bayi dan ibunya dalam kondisi sehat. Satu jam kemudian saya dipersilakan menemui istri saya.

Dalam ruang bersalin yang dingin ber-AC, saya melihat istri saya terbujur dengan wajah lelah. Namun, rasa lega menyembul dari wajahnya. Ia tersenyum saat saya datang.

”Mas, sudah lahir. Perempuan!” cetus istri saya girang, tak mampu menutupi kegembiraan atas keinginannya terhadap bayi perempuan demi melengkapi dua laki-laki sebelumnya.

Saya mengangguk karena dokter telah mengabarkan sebelumnya. Tak lama, saya bergerak keluar setelah perawat memanggil. Di depan pintu keluar, istri saya berseru tertahan.

”Mas, nama bayi kita siapa?!”

Langkah saya terhenti. Sekejap.

”Hepi Valentina….!” seloroh saya.

Istri saya tersenyum. Kecut. Manja. * * *

4 Responses

  1. Fotonya Hepi Valentina mana mas? Namanya bagus loh. Hehehe…Btw, “rumah” saya dikunjungi dong ah…;)

    • Ha..ha… Hepi Valentina? Nama yg asal comot. Fotonya ada di hati bapak-ibunya he..he.. Pasti nanti sy kunjungi “rumah” yg indah itu.

  2. sayangnya kejadian yang menimpa anda tidak terjadi pada istri saya.
    operasi sesar itu tak kunjung dilakukan oleh dr. Roslina, hingga bayi kami kepayahan dan akhirnya meninggal saat lahir.
    apa mungkin karena saya merujuknya di RSD. Ciawi rmh sakit pemerintah yang kecil honornya ?!?!?!?!?!
    salam buat keluarga di rumah

    • Ikut berduka….
      Semoga itu bkn krn persoalan rumah sakit pemerintah atau swasta. Tp, sy juga punya pengalaman seperti Anda saat istri sy mengalami kehamilan yg pertama. Kami hr kehilangan janin yg dikandung istri sy [usia kandungan tujuh bulan] -mulanya- dengan menyalahkan sang dokter krn dia tidak memberi informasi yg cukup tentang perihal kandungan istri yg lemah. Tp, lama-kelamaan sy merasa ini tdk banyak manfaatnya….
      Salam kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: