SUSNO DUADJI; Sejarah Keberanian Apa?

Susno Duadji

Bukan semata karena saya ingin tahu secara mendalam sehingga Kamis (25/2/10) saya berketetapan hati untuk hadir dalam acara bedah buku “Bukan Testimoni Susno” di Toko Gramedia, Plaza Ekalokasi, Bogor. Bukan pula karena saya mengenal baik Bang Iz (IzHarry Agoesjaya Moenzir) sebagai penulis buku tersebut sehingga saya rela berebut dengan pengunjung lain demi tempat duduk di deretan depan.

Lebih dari itu, saya sungguh ingin mendengar suara Susno dari dekat. Siang itu. Suara Susno Duadji? Ya, suara Susno Duadji! Suara mantan Kabareskrim Polri yang akhir-akhir ini menyentil banyak kalangan, terlebih-lebih institusi tempatnya bertugas. Karena sentilannya itu, tidak sedikit kalangan dalam tubuh Polri, dan bahkan termasuk para petinggi Polri yang dibuat gerah olehnya.

Jujur, saya senang dengan gaya Susno berbicara. Lepas, tangkas, dan tanpa beban. Nada suaranya berirama, kadang naik, kadang turun. Bahasa tubuhnya sangat mendukung nada bicaranya itu. Beberapa kali pengunjung dibuat terhenyak dan kemudian memberikan aplaus kepadanya.

“Bagaimana mungkin bicara reformasi dalam tubuh Polri kalau polisinya repot nasi?!” kata Susno berapi-api. “Tidak mungkin itu!”

Susno mengawali pembicaraan dengan mengungkapkan bahwa, polisi yang baik adalah polisi yang sudah tidak lagi berpikir tentang dapurnya. Polisi yang masih berpikir tentang periuk nasi di dalam rumahnya tidak mungkin bisa menembak para penjahat secara tepat. Petugas yang belum membayar uang sekolah anaknya jelas akan kelimpungan berhadapan dengan para pelanggar hukum.

Maka Susno bisa memaklumi bila kebanyakan masyarakat tidak percaya seorang polisi mampu hidup mewah. Pasti ada yang tidak beres dengan polisi itu jika ia bermewah-mewahan! Sebab gaji seorang polisi di tanah air, bahkan jendral sekalipun tidak bisa dibilang besar. Gaji mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara sederhana dengan tiga anak. Susno mencontohkan dirinya yang mendapatkan gaji di kisaran angka 4-5 juta setelah dicopot dari jabatannya.

Akan tetapi, Susno tidak bisa memaklumi segala tipu daya yang dialamatkan kepada dirinya manakala ia menjabat sebagai Kabareskrim Polri. Isu suap 10 milyar, kasus cicak vs buaya, dan istilah Truno 3 adalah sebagian dari “tembakan” yang diarahkan kepadanya, tetapi sebenarnya keliru alias salah besar.

“Saya tidak pernah mendapat uang 10 milyar. Jangankan mendapat, melihatpun saya tidak pernah,” tegas Susno. “Pemeriksaan yang dilakukan Irwasum dan Propam terhadap saya membuktikan bahwa tuduhan terhadap saya tidak terbukti.”

Susno lalu menjelaskan tentang Surat Kapolri tertanggal 8 Oktober 2009 bernomor R/2647/X/2009/Itwasum yang isinya menyatakan bahwa Susno Duadji dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan yang diarahkan kepadanya. Ia tidak menerima uang sepersenpun dari Anggoro Wijoyo.

“Segalanya saya laporkan kepada atasan saya, Kapolri, termasuk kepergian saya ke Singapura untuk menemui Anggoro.”

Susno juga memaparkan mula kisruh istilah cicak vs buaya. Kata Susno, istilah itu sebenarnya dilontarkan dalam konteks penyadapan yang dilakukan KPK terhadap telepon genggam miliknya. Tidak benar bila istilah itu digunakan untuk menafikan keberadaan KPK di hadapan institusi Polri. Justru sejatinya, istilah cicak vs buaya menunjukkan KPK yang seperti buaya dan Polri yang seperti cicak.

“Kewenangan dan kekuasaan KPK lebih besar dibanding polisi. Jadi, ini terbalik,“ kata Susno. Susno bisa berbicara seperti itu karena dia ikut merancang Undang-Undang KPK. Namun, Susno menerima bila ada yang menyatakan bahwa perumpamaan istilah cicak vs buaya darinya memang keliru dan tidak bijak.

Kendati begitu, Susno Duadji juga berharap publik bisa menerima penjelasan darinya bahwa dirinya bukanlah “Truno 3” seperti yang didengung-dengungkan selama ini setelah munculnya rekaman Anggodo Wijoyo di Sidang Mahkamah Konstitusi. Sebagai Kabareskrim, dirinya adalah “Tribrata 5”, sedangkan “Truno 3” adalah call sign bagi Direktur III yang juga ketua Tim Penyidik kasus Komisioner KPK Bibit-Candra.

Lebih dari satu jam saya mendengarkan Susno Duadji bicara blak-blakan dan tanpa berusaha menutup-nutupi. Segalanya, baik tentang kehadirannya sebagai saksi di Sidang Kasus Antasari, kekecewaaannya karena dicopot dari jabatan Kabareskrim tanpa alasan yang masuk akal, berbagai kejanggalan dalam tubuh Polri, tangisannya di depan anggota DPR, bahkan tentang sikap dan kebijakan atasannya sendiri, Kapolri terhadapnya kini.

Terus terang saya tidak bisa mengambil kesimpulan benar dan tidaknya ucapan Susno dalam acara bedah buku tersebut karena saya memang tidak memahami institusi kepolisian beserta seluruh dinamikanya secara mendalam. Bahkan setelah saya tiba di rumah dan berusaha membaca buku “Bukan Testimoni Susno” tersebut secara jernih, saya tetap tidak kuasa menarik garis secara tegas pada posisi di mana saya harus meletakkan figur seorang Susno.

Satu hal yang menjadi pikiran saya. Apakah buku ini bisa menggugurkan segala macam stigma yang berkembang di mata publik selama ini tentang diri seorang Susno Duadji?

Kalau pertanyaan ini diajukan kepada Bang Iz sebagai penulis, saya yakin, ia akan menjawab tegas, BISA! Sebab, buat apa ia menulis susah-susah tentang Susno Duadji jika pada kenyataannya ia tidak bisa membalikkan opini publik yang berkembang perihal Mantan Kabareskrim itu. Sebab, untuk apa ia mempertaruhkan reputasi dan integritas pribadinya sebagai wartawan yang telah dibangunnya puluhan tahun hanya demi sosok Susno Duadji yang sudah kadung dianggap “bersalah”.

Namun, membaca buku Susno tiba-tiba saya teringat ucapan sejarawan Kuntowijoyo (2004). Kata Kuntowijoyo, sejarah keberanian “orang besar” memang ada dua. Pertama, sejarah keberanian versi manusia dan kedua, sejarah keberanian versi malaikat. Yang pertama didasarkan atas data-data empiris, seperti catatan harian, notulen, catatan intel, atau putusan pengadilan. Sedangkan, yang kedua, didasarkan atas data-data batin, seperti niat, pikiran, dan perasaan. Pasti, keduanya sangat berbeda!

Jadi, sejarah keberanian apa yang sedang dilakoni Susno Duadji dan ditulis Bang Iz? * * *

One Response

  1. Saya setuju pendapat anda…saya juga suka sama pak susno duadji,…gaya bhsanya mudeng dan pinter,..mudah di pahami serta mengena pda sasaran….!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: