BUYA SYAFII; Kebersahajaan dalam Pikir dan Sikap

Buya Syafii (Ahmad Syafii Maarif)

Jujur, saya dulu sangat mengaguminya! Kata-katanya cerdas dan bernas, selalu berisi. Sikapnya bersahaja, jujur, dan apa adanya. Bila sudah berdiri di depan kelas, tidak ada sepasang matapun yang berusaha lepas dari sosoknya. Semua mahasiswa selalu tidak ingin kehilangan momen indah bagaimana ia menjelaskan peristiwa besar dengan nama-nama hebat dalam pentas sejarah Indonesia. Natsir yang santun, tapi berprinsip. Hatta yang lembut, namun tidak mudah goyah. Sukarno yang penuh gelora, tapi romantik.

Di kampus, ia ibarat menara yang sulit ditandingi. Namanya menjulang di level nasional, sementara rekan-rekannya terseok-seok di dataran lokal. Dengan gelar MA dan Phd. dari Ohio University dan Chicago University yang penuh gengsi, ia berkibar beriringan dengan nama kondang yang notabene adalah teman karib dan teman almamaternya, Nurcholish Madjid dan Amien Rais. Gus Dur dalam salah satu tulisannya di sebuah majalah terkemuka ibukota bahkan menjuluki ketiganya sebagai ”Trisula Maut dari Chicago”.

Begitu kagum dan bangganya saya kepadanya sehingga saya bersikeras untuk menjadi mahasiswa bimbingannya saat menulis skripsi. Saya ingin ia membubuhkan nama dan tanda tangannya di atas skripsi saya. Saya bahkan tidak peduli ketika secara halus ia menolak dengan alasan, ”Dua tahun saya akan di Malaysia. Saya akan mengajar di sana. Kamu bisa terlambat studinya nanti”. Tidak apa-apa! Saya pasti akan menunggunya, dan bahkan menunggu meski ia kemudian berlabuh juga di Kanada selama setahun.

Saya biasa memanggilnya Pak Syafii dari nama lengkap Ahmad Syafii Ma’arif. Entah sudah berapa kali saya wira-wiri ke rumahnya yang tidak terbilang mewah di perumahan Nogotirto, Yogya. Jika sudah bertemu, Pak Syafii akan melayani pertanyaan dan pernyataan saya dengan ramah meski hingga larut. Segelas sirup atau teh dan makanan kecil kadang tersedia walau yang duduk di hadapannya hanya seorang mahasiswa tingkat sarjana yang sedang dibimbingnya. Pak Syafii telaten. Pak Syafii menaruh hormat. Kepada siapapun.

Untuk mendapatkan respek darinya saya bela-belain mengupas habis bukunya yang saat itu baru diterbitkan Penerbit Mizan, Peta Bumi Intelektualisme Islam. Saya baca buku itu siang-malam. Saya renungkan intisarinya. Saya korek kekuatan dan kelemahannya. Dan saya tulis semuanya itu untuk kemudian saya kirimkan dalam rubrik Resensi di sebuah koran harian di Jawa Tengah. Ketika tulisan saya dimuat, saya kegirangan. Saya langsung berniat menjadikan tulisan itu sebagai sebuah kejutan baginya.

Di suatu malam di rumahnya pada sekitar tahun 1990-an saya berikan resensi itu kepada Pak Syafii dengan kebahagiaan yang membuncah. Saya terhanyut saat ia berkata tulus, penuh sungguh,” Belajar dan belajarlah terus! Menulis dan menulislah terus!” Saya makin terpesona ketika ia meyakini di ruang ujian bahwa saya layak mendapat nilai A untuk skripsi yang saya susun mengenai sejarah dan pemikiran Ali Syariati, seorang intelektual dan ideolog Revolusi Islam Iran 1979.

Saya tahu Pak Syafii tidak terlalu terpesona oleh gemuruh revolusi Islam yang dipancangkan Syariati beserta kaum mullah di Iran, seperti Ayatullah Khomeini, Ayatullah Montazeri, dan lain-lain. Yang saya tahu Pak Syafii lebih terpana kehanyutan pikiran puitik seorang M. Iqbal, cendekiawan muslim dari Pakistan. Begitu terkagum-kagumnya Pak Syafii dengan Iqbal hingga ia pernah memelihara kumisnya agar terlihat seperti Iqbal.

Beberapa hari sesudah saya diwisuda Pak Syafii memberikan selamat kepada saya setelah kami bertemu secara kebetulan di halaman kampus. Di ruang kantornya yang amat sederhana ia bertanya hendak ke mana setelah lulus. Saya menjawab, tidak tahu. Namun, dengan setengah bercanda, saya berkata bahwa saya akan berterima kasih sekali dan sungguh berbahagia bila Pak Syafii memberikan referensi untuk saya, ke mana saya sebaiknya melangkah.

Tak dinyana dan tak diduga, Pak Syafii tiba-tiba mengeluarkan secarik kertas dari lacinya dan menuliskan referensi untuk saya. Pak Syafii memberikan referensi kepada saya agar saya bekerja sebagai wartawan di sebuah harian Islam terkemuka di ibukota. Saya berterima kasih atas sarannya, tapi saya menolak secara halus. Andaikata boleh memilih saya lebih ingin bekerja di media massa daerah. Lagi-lagi Pak Syafii pun meluluskannya meski akhirnya saya kemudian malah kecemplung di Jakarta hingga sekarang.

Kini, sayup-sayup saya paham Pak Syafii sudah menjelma menjadi tokoh yang setara dengan tokoh-tokoh nasional yang dulu sering dikomentarinya di ruang-ruang kuliah. Saya paham, Pak Syafii adalah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, organisasi Islam modern terbesar di tanah air. Saya juga paham ia memperoleh penghargaan ”Nobel Asia”, Ramon Magsaysay Award 2008 atas perannya di bidang kemanusiaan dan perdamaian. Saya paham banyak orang yang mendaulatnya sebagai guru bangsa bagi negeri ini sehingga ia menjelma menjadi Buya Syafii.

Saya paham semua itu. Sangat paham. Bahkan saya juga paham saat buku kisah hidup Pak Syafii yang berjudul Si Anak Kampoeng (Gramedia dan Maarif Institute) hendak difilmkan dengan judul yang sama oleh sutradara Damien Dematra. Namun, yang tidak saya pahami kemudian, tidak sedikit orang kecewa, tidak menyukai, dan bahkan membencinya, tidak terkecuali tokoh-tokoh Islam yang pasti amat dikenalnya. Apa karena Pak Syafii pembela ide-ide pluralisme? Apa karena Pak Syafii pencetus idiom sarkastik, ”preman berjubah”? Apa karena Pak Syafii penyerang gagasan-gagasan yang berasal dari kalangan Islam ”garis keras”?

Entahlah! Tapi, ah, jangan-jangan Pak Syafii memang sudah menjadi tokoh yang menyejarah. Bukankah tokoh yang menyejarah selalu dipuja dan dirindui, tapi di seberang sana selalu dicaci dan dimaki? * * *

One Response

  1. Ayu Buya, pulkam. Sumbar menunggu anda di ujung perjalanan hidup.
    jangan hanya di Jawa hidup…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: