UJIAN NASIONAL (UN) DAN KB

Ia datang dengan sedikit tergesa-gesa. Ke rumah saya, Pak Zakir, tetangga saya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada sebuah kantor departemen di Jakarta.

“Saya mau ngurus KTP yang baru….,” kata Pak Zakir kepada saya.

Sebagai Sekretaris RT di perumahan tempat saya tinggal kedatangan warga semacam Pak Zakir bukankah hal yang tidak lumrah bagi saya. Bahkan saya justru merasa aneh bila banyak warga yang tidak mendatangi rumah saya. Jelas, pasti ada apa-apa. Makanya kedatangan Pak Zakir saya sambut dengan biasa-biasa saja.

Rupanya, tidak dengan Pak Zakir. Wajahnya sedikit keruh. Dari pandangan mata sekejap, saya tahu Pak Zakir lagi dirundung masalah. Cukup berat mungkin. Tapi, saya tidak berusaha membuka persoalan meski dalam hati saya ingin Pak Zakir berbagi. Siapa tahu saya punya usulan.

“Saya lagi pusing mikirin UN, Pak. Stres saya ini. Tapi, kalau stres, saya jadi kasihan sama anak-anak yang lagi UN. Mereka jadi tambah stresnya nanti,” terang Pak Zakir yang tiba-tiba saja mengeluarkan uneg-unegnya tanpa saya minta.

UN! Oh, UN! Ujian Nasional!

Saya tersenyum mendengar uneg-uneg Pak Zakir. Saya coba berusaha memahami perasaannya. Saya sadar, Pak Zakir bukanlah satu-satunya orang yang sedang menghadapi tekanan berat dalam hidup akhir-akhir ini. Semua siswa di sekolah! Semua orang tua murid! Semua guru di semua jenjang pendidikan! Semua kepala sekolah! Semua pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Daerah! Bahkan Menteri Pendidikan Nasiona! Mereka semua dituntut kata “LULUS” dalam penyelenggaraan UN.

Para siswa tentu tak ingin label “bodoh” menyertainya kala gagal dalam UN. Rasa malu akan terbuang jauh dalam diri orang tua murid andai anaknya berhasil di UN. Para guru dan kepala sekolah bisa tersenyum karena lepas dari ancaman pejabat di atasnya sambil berharap kredit poin mampir bila siswa didik sukses UN. Para pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Daerah dan Menteri Pendidikan Nasiona dapat tersenyum lega karena mereka tahu generasi bangsa tidak kalah dari generas-generasi bangsa lain.

“Sebagai rakyat, saya benar-benar tidak mampu memahami alur pikiran pemerintah dalam penyelenggaraan UN ini. Sudah capek sekolah bertahun-tahun, mosok lulus dan tidaknya seseorang hanya ditentukan dalam waktu dua hari di sekolah, pas saat ujian itu. Kacau ini!”

Pak Zakir melanjutkan kicauannya.

“Yang bikin stres saya tambah parah karena ketiga anak saya, semua sedang menghadapi UN. Satu saja pusing, lha ini tiga. Yang pertama di SMA, kedua SMP, si bungsu di SD.”

Pak Zakir sedikit emosi.

“Saya jadi menyesal ikut KB. Coba kalau saya dulu tidak mengikuti anjuran pemerintah dengan ber-KB, pasti saya nggak stres kayak begini….”

Saya terkaget-kaget. Ha? KB! Keluarga Berencana? Apa hubungannya Ujian Nasional dengan Keluarga Berencana?

“Iya! Keluarga Berencana! Coba dipikir, gara-gara dulu menunda kelahiran, anak-anak saya jaraknya hampir tiga tahun lebih. Nah, saat satu hendak lulus SMA, eh yang kedua juga mau lulus SMP, dan yang ketiga mau rampung dari SD. Coba kalau jaraknya dekat-dekat, nggak kejadian seperti ini. Jadilah, mereka semua ber-UN ria dan stres semua di rumah, ” terang Pak Zakir dengan mimik yang susah ditebak.

Saya tidak tahu apa saya harus tertawa terbahak-bahak, tersenyum kecut, atau terdiam seribu bahasa. Sebab, dalam benak saya sebelumnya, Pak Zakir hendak menggugat penyelenggaraan UN yang telah memangkas habis gagasan dari ahli psikologi pendidikan ternama berkebangsaan Amerika Serikat, Benjamin  S. Bloom.

Kata Bloom, tujuan dari setiap proses pendidikan pada setiap jenjang mesti berintikan kepada tiga domain, yakni domain kognitif (intelektual), afektif (perasaan dan emosi), dan psikomotor (keterampilan motorik). Jadi, bukan semata kognitif, seperti halnya penyelenggaraan ujian nasional.

Lha ini, UN kok dihubungkan dengan KB?

“Saya jadi menyesal ber-KB…” pungkas Pak Zakir sambil ngeloyor pergi meninggalkan saya yang terbengong-bengong. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: