BERPOLITIKLAH, MAKA ENGKAU ADA!

Saya suka politik. Semasa kuliah, ketika saya belajar ilmu sejarah, saya tahu bahwa saya tidak mungkin tidak bertemu dengan politik. Bahkan saat itu sudah berkembang subur adanya kesan bahwa sejarah Indonesia atau malah sejarah dunia sekalipun adalah sejarah yang bercerita tentang politik kemanusiaan manusia-manusia yang hidup.

Indonesia menjadi merdeka karena para tokohnya, Sukarno, Hatta, atau Sjahrir, canggih berpolitik. Jepang sukses menguasai Asia Timur dan Asia Tenggara di masa lalu sebab mereka lihai memainkan strategi politik sebagai “saudara tua”. Bahkan Perang Dunia I dan II muncul akibat pertikaian politik bangsa-bangsa besar di Eropa. Maka, bagi saya, tak ada sejarah yang tidak bercerita tentang politik. Betapa keringnya sejarah jika politik tidak boleh menyertainya.

Begitu intensnya saya belajar ilmu politik hingga saya berusaha memahami segala macam definisi dan makna politik dari para ilmuwan politik yang memiliki beragam spesialisasi. Saya lalu menjadi paham bahwa politik itu senantiasa akan bercerita mengenai persoalan negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy), dan pembagian kekuasaan (distribution of power).

Roger F. Soltau (1961) menjelaskan bahwa ilmu politik ialah ilmu yang mempelajari tentang negara, tujuan negara, dan lembaga-lembaga negara. Laswell (1972) menyebut politik ialah persoalan siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. David Easton (1971) mengungkapkan bahwa ilmu politik adalah studi mengenai terbentuknya kebijakan publik. Robson (Deliar Noer: 1965) menerangkan bahwa ilmu politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan.

Sayang, semua makna dan definisi ilmu politik yang pernah saya pahami itu belum berhasil memahami konstelasi sosio-politik yang terjadi di tanah air akhir-akhir ini. Apa karena saya tidak cerdas? Apa karena saya tidak memahami persoalan yang sebenar-benarnya terjadi? Apa karena latar belakang keilmuan yang saya miliki gagal membedah fakta di balik segala peristiwa yang terjadi. Mungkin, mungkin dan mungkin!

Saya belum mampu memahami tindakan dan perilaku yang secara fasih dilakukan oleh seorang mantan Kabareskrim Polri Susno Duadji terhadap kebobrokan di lingkungan institusinya. Saya juga tidak berhasil memetakan persoalan markus yang melibatkan Gayus Tambunan dalam kaitannya dengan politik pencitraan Presiden SBY melalui tangan Satgas Mafia Hukum. Saya bahkan tidak kuasa memahami niat dan perilaku Julia Perez alis Jupe sebagai selebriti yang tiba-tiba berkehendak mencalonkan diri sebagai Bupati/Wakil Bupati Kabupaten Pacitan.

Meskipun demikian, saya menyadari bahwa mereka semua itu, sadar atau tidak sadar, pada hakikatnya sedang memainkan seni berpolitik yang super tinggi dan super canggih demi mewujudkan cita-citanya itu. Mereka bergelut dan berbenah dengan segala perilaku yang diharapkan mampu membentuk persepsi dan kesadaran baru di mata dan benak publik. Maka, tentu tidak sedikit publik yang tiba-tiba terhenyak dan kemudian tidak kuasa memahaminya. Tidak apa.

Susno Duadji paham, kapan ia mesti berbicara di media televisi, menghilang sejenak dari keriuhan publik, tapi tiba-tiba menghentak kembali dengan informasi dan data-data yang baru. Para anggota Satgas Mafia Hukum tahu, saat mana ia bersemangat menjelaskan kasus Gayus ke publik sembari menyelipkan harapan Presiden terhadap pemberantasan mafia pajak di lingkungan lembaga negara, semacam Kementerian Keuangan dan Peradilan. Julia Perez tentu tahu “pesona” selebriti yang dimilikinya akan lebih mudah meraup suara di Pacitan dibanding tokoh-tokoh lain yang tidak pernah terlihat pesonanya.

Mesti diakui, politik memang variasi dan dinamika hidup, teristimewa bagi para pelaku yang menyadarinya. Ia setara dengan playing game dalam permainan anak-anak dewasa ini. Maka ia memerlukan siasat atau keberanian, strategi atau taktik, juga citra diri. Tentu tidak aneh jika pemersatu Jerman di masa lalu Otto von Bismarck menyebut politik sebagai seni. Politics is the art of the possible, begitu katanya. Politik adalah seni dari segala kemungkinan.

Sebagai sebuah seni, politik tak cukup hanya bermodal nekad. Politik selalu memerlukan kematangan berpikir agar laju politik berubah indah. Maka politik niscaya akan kehilangan keindahannya jika orang-orang yang memainkannya jauh dari kematangan berpikir. Mereka jauh dari pemahaman tentang sosiologi, psikologi, atau rasionalitas massa. Orang yang jauh dari kematangan berpikir tentu jauh dari rasa tanggung jawab. Relakah kita bila politik dimainkan oleh orang-orang yang jauh dari kematangan berpikir?* * *

2 Responses

  1. i like your post, keep update your blog !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: