SUDAHLAH… MOTOR ADALAH DUNIA LAKI-LAKI

Saya tidak paham kenapa istri saya begitu kepingin naik motor. Bahkan saking ngebetnya naik motor istri saya berusaha untuk membohongi saya terus-menerus. Untung ada dua anak lelaki saya yang begitu jujur memberitahu saya.

“Bapak, Ibu tadi naik motor ke kantor.”

“Iya. Pas Bapak belum pulang, Ibu sudah pulang duluan. Jadi, Bapak nggak tahu.”

Hah! Saya terkejut. Sungguh terkejut. Berarti entah untuk ke berapa kalinya istri saya tidak mau menuruti kata saya, suaminya sendiri, untuk tidak naik motor di jalan-jalan besar di kota Bogor.

Terlalu berbahaya! Saya memang ngeman kepadanya, bukan kepada motor bebek yang dibeli dengan keringat yang tak kunjung tuntas. Saya ngeman kepadanya karena jalanan besar di kota Bogor tidak terlalu ramah bagi seorang pengendara motor perempuan. Selain kaya dengan lubang, jalanan kota Bogor juga dipenuhi para pengendara sepeda motor lain yang kebanyakan laki-laki.

Setiap pagi, ribuan pengendara motor mesti berlaku nyetan alias bertingkah laku mirip setan. Mereka ngebut demi bersaing dengan waktu yang memburu tak pandang bulu. Bagi yang bekerja di Jakarta, terminal Baranangsiang dan Stasiun KA Bogor menjadi tempat pemberhentian dan penitipan sepeda motornya. Kecepatan adalah modal utama agar tidak tertinggal bis atau kereta di pagi hari. Bagi yang bekerja di Bogor, ribuan angkot yang berdesak-desak menjadi musuh dalam selimut bagi para pengendara motor yang menjadikan mereka tidak leluasa menggerakkan motornya.

Saya tak cukup berhasil diyakinkan istri saya untuk percaya dengan keberaniannya naik motor menjelajahi jalan raya kota Bogor, bahkan kelihaiannya dalam meliuk-liukkan si bebek bermerk Honda.

“Mas, saya sudah bisa naik motor sejak kelas satu SMP. Vespa saya juga bisa. Sewaktu kuliah, saya biasa naik motor saat ke kampus.”

Saya menggeleng. Saya tetap tidak bisa menuruti kehendak istri saya meski hati ini tidak tega melihat keinginannya yang demikian melangit.

“Mas, tidak percaya sama saya? Kasih kesempatan sekali saja untuk mencoba. Kalau saya memang merasa tidak mampu, saya pasti akan berhenti dengan sendirinya. Tidak usah Mas larang-larang.”

Saya menolak. Saya tetap tidak dapat memenuhi kemauan istri saya sekalipun wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca. Saya berkeyakinan, silakan naik motor, tapi tidak di jalanan raya kota Bogor yang semrawut, sumpek, dan mengandung risiko kecelakaan yang tinggi.

Istri saya memang menuruti kehendak saya. Karena saya tidak lagi mendengar suara dari anak-anak saya tentang ibunya dan motor bebek. Namun, suatu hari, saat berada di kantor, saya dikejutkan dengan suara istri saya yang bergetar di seberang telepon. Mirip orang yang terdera rasa panik.

“Mas, saya terserempet mobil. Angkot. Lecet-lecet di kaki. Jari tangan saya luka dan dijahit di rumah sakit….”

“Kamu naik motor?”

Tak ada suara jawaban di telepon. Saya tahu, istri saya telah menentang peringatan saya, suaminya sendiri. Ia sembunyi-sembunyi naik motor tatkala saya sudah berangkat ke kantor. Ia percaya, ia tidak akan ketahuan karena saya selalu berangkat lebih pagi dibanding dirinya dan pulang lebih malam.

Kecelakaan itu membuat saya bingung dengan tindakan istri saya yang nekad tak mengindahkan nasihat saya sebagai suaminya. Kendati demikian, saya lebih bingung lagi dengan kejadian itu. Ribuan pertanyaan menggelayut.

Apakah yang menjadi sebab timbulnya kecelakaan itu? Apakah karena istri saya tidak hati-hati dalam mengendarai motor atau karena mobil yang menyerempet istri saya bertindak ugal-ugalan? Apakah karena istri saya sedang melamun saat mengendarai motor atau karena ia menentang peringatan saya, suaminya sendiri?

Saya tak bisa menjawab. Benar, saya tak mampu menjawab. Yang saya tahu, istri saya, kini tak pernah berani lagi naik motor di jalanan raya kota Bogor, seperti Jalan Raya Pajajaran, Juanda, Kapten Muslihat, dan lain-lain. Istri saya hanya berani naik motor di sekitar komplek perumahan.

Apakah karena saya tetap berusaha mencegah dan melarangnya?

Tidak! Saya bahkan kini berusaha untuk belajar mengikhlaskannya menaiki motor di jalanan raya agar ia tidak terpenjara oleh ucapan dan peringatan saya, suaminya sendiri yang mesti dihormati dan ditaati.

Istri saya tetap tidak mau dan tidak akan pernah mau meskipun saya terus mendorongnya. Kata istri saya.

“Sudahlah, Mas. Saya tahu kok motor di jalanan raya kota semacam Bogor bukanlah dunia perempuan. Ia adalah dunia laki-laki. Kasar, ugal-ugalan, nekad, tak tahu aturan.”

Saya tak kuasa menanggapinya. Saya diam. Terpekur. * * *

One Response

  1. Salahe Ko lah…kepriwe kok ora oleh…wah wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: