“BAJU BESI” KAUM INTELEKTUAL

Baju Besi

Baju besi bukanlah baju yang terbuat dari besi. Baju besi sebenarnya adalah idiom untuk menamai baju safari yang berciri khas; baju  model jas berlengan pendek (khusus pria), bersaku empat, tiga, atau dua, dan dibuat dari bahan yang tebal, seperti dril atau katun.

Lalu, kok baju safari disamakan dengan baju besi?

Istilah baju besi pertama kali saya dengar sewaktu saya masih kuliah program sarjana di Universitas Negeri Yogyakarta (dulu: IKIP Negeri Yogyakarta). Adalah Pak Syafii Ma’arif  (Buya Syafii/Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif) yang mempopulerkannya di ruang-ruang kelas yang dia ajarkan. Sambil terkekeh nyinyir, Pak Syafii kerap menyebut “lucu” terhadap orang-orang yang senang memakai baju safari, apalagi kalangan intelektual seperti dirinya.

Saya tidak tahu maksud kata “lucu” meski saya berusaha untuk memahaminya. Pak Syafii tentu paham makna simbolik di balik pemakaian baju safari. Tidak hanya melulu bersinggungan dengan rasa panas sehingga membuat orang yang memakainya akan merasa gerah, baju safari juga menyedot upah jahitan yang cukup tinggi bagi orang-orang yang berkantong cekak atau pas-pasan.

Saya yakin, Pak Syafii memaknai baju safari lebih dari itu. Nuansa simbolik pada istilah “baju besi” menunjukkan bahwa baju safari niscaya kerap “berbicara” lebih dari sekadar baju yang kerap dikenakan oleh para pejabat di negeri kita, pegawai negeri sipil (PNS), dan kaum birokrat lain. Baju safari sesungguhnya melampaui batas-batas makna bahwa sebuah baju itu bermanfaat sebagai pelindung tubuh dari panas atau dingin, penutup aurat agar tidak malu, dan mode atau gaya hidup seseorang.

Pertama, keseragaman. Siapa yang biasanya memakai baju safari? Tentu bisa ditebak. Baju safari adalah pakaian khas kalangan pejabat sipil, PNS, atau kaum birokrat. Dapat dipahami karena birokrasi mengharuskan keseragaman dalam segala hal. Apa jadinya jika “kreatifitas” menjadi modal utama bagi PNS dan birokrat sipil lain layaknya para seniman, wartawan, atau ilmuwan. Baju safari adalah salah satu jalan keluarnya.

Katz dan Kahn (1966) menjelaskan bahwa seorang birokrat hanya dapat bekerja dalam bidang yang sudah ada aturannya. Apabila ada sesuatu yang belum ada aturannya sebagai dasar pengurusan, maka seorang birokrat akan merasa dirinya tidak berkompeten untuk mengurusnya. Dalam konteks inilah faktor keseragaman menjadi begitu penting.

Kedua, ketundukan. Baju safari adalah simbol struktur, ketundukan dari yang di bawah kepada pegawai yang lebih atas. Tentu pula, ini sangat khas birokrat sipil. Sebuah sistem birokrasi bersifat mengikat dan terstruktur. Sebuah sistem birokrasi tidak memungkinkan seseorang berlepas diri dari aturan baku yang membingkai, baik yang tersurat maupun yang tersirat sekalipun.

Karena itu, Katz dan Kahn melanjutkan, bahwa seorang birokrat adalah anggota dari suatu birokrasi yang merupakan suatu organisasi dengan tugas melaksanakan kebijakan (policy) yang sudah ditentukan oleh sang pembuat kebijakan (policy makers).

Ketiga, elitis. Tidak semua orang bisa masuk dan kemudian terlibat secara mendalam dalam kinerja pemerintahan yang birokratis. Hanya orang-orang terpilih yang diseleksi secara ketat oleh tim penilai yang berhak mendudukinya. Bahkan untuk merebut struktur birokratis yang lebih atas para birokrat sipil itu mesti bersaing dengan sesama birokrat lain.

Tidak terlalu keliru bila Almond dan Powell (1963) menggambarkan birokrasi sebagai suatu kelompok orang yang terdiri atas para petugas pemerintahan dan jabatan yang dipertautkan oleh sebuah hierarki yang terperinci dan tunduk kepada aturan formal. Aturan formal itu menjadi acuan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.

Pak Syafii tidak terlalu suka kepada baju safari sehingga ia “tega” menggantinya dengan idiom “baju besi”. Sepanjang saya menjadi mahasiswanya, tidak pernah sekalipun saya melihat Pak Syafii menggunakan baju safari saat mengajar di kampus. Ia biasa mengenakan kemeja dengan paduan celana kerja. Dan ia tetap teguh dengan pendiriannya itu. Baginya, baju safari menjadikan gerak badan dan gerak benaknya terhambat.

Saya memahami kenapa Pak Syafii menentang baju safari di lingkungan kampus yang sarat dengan kaum intelektual dan akademisi. Ia bukan menentang sistem birokrasi karena -bagaimanapun juga- sebuah sistem dan struktur birokrasi tidak mungkin tidak ada dalam sebuah negara (state). Pak Syafii menentang baju safari dalam konteks bila aturan-aturan birokrasi sudah mengungkung dan menjerat gagasan-gagasan besar kaum intelektual. Dan baju safari adalah simbol besar yang mesti dilawan.

Maka bila kaum intelektual berkehendak untuk memakai baju safari alias menduduki jabatan birokrasi di negeri ini, hanya ada dua pilihan untuknya. Pertama, ia akan larut dalam sistem yang telah baku dan formal tanpa kuasa menentangnya. Kedua, ia merasa tak tahan dengan suasana yang tercipta dan memutuskan keluar dari jejaring birokrasi yang sesak dan menghambat.

Persoalannya, siapakah yang semestinya menduduki kursi dalam jajaran birokrasi pemerintahan bila bukan kaum intelektual? Bukankah kaum intelektual adalah prototipe kaum yang menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran dalam sikap hidupnya? * * *

2 Responses

  1. baju besi kaku dipakainya klo emg baju besi beneran yach..

  2. Istilah baju besi sudah cukup membaur lama di masyarakat, setiap orang yang memakainya tidak tahu kenapa terkesan membentengi diri, angkuh, dan terkadang sering suka mempersulit permasalahan, aduh saya kok jadi suudzhon begini. maaf ya para birokrat saya yakin tidak semuanya kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: