SEJARAH BANGSA KITA YANG KORUP

Jangan pernah berpikir bahwa bangsa kita diajari bangsa lain dalam melakukan praktik-praktik penyimpangan kekuasaan pada beragam sektor kehidupan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ahli, lihai, dan cerdik dalam kaitannya dengan korupsi, kolusi, atau manipulasi. Sejarah mencatat bahwa bangsa-bangsa yang pernah menduduki tanah air, seperti Spanyol, Portugis, Belanda, dan Jepang, tidak secara langsung mengajarkan praktik-praktik jahat tersebut.

Di tanah Nusantara, saat raja-raja dahulu berkuasa, praktik ”korupsi” merupakan sesuatu yang lazim karena kekuasaan raja memang mengesahkan hal demikian. Bagi sebuah kerajaan, raja adalah negara sehingga prinsip tersebut tidak secara otomatis menitahkan kekuasaan raja sebagai pemerintahan yang korup. Sebagai penguasa, raja wajib menunjukkan keagungan pribadi dan kehormatannya di hadapan rakyat. Raja tidak mungkin tidak terlihat agung dan berwibawa.

”Kultus kemegahan” merupakan cara yang paling manjur untuk meningkatkan kewibawaan seorang raja. Sejarawan Soemarsaid Moertono (1985) menerangkan bahwa kultus kemegahan selalu diperoleh para raja dengan dua sarana, yakni konkrit dan abstrak. Sarana konkrit dikaitkan dengan seorang raja yang memiliki kekayaan dan harta berlimpah, sedangkan sarana abstrak dihubungkan dengan keunggulan spiritual raja yang lebih dibanding tokoh atau orang lain.

Di Jawa, konsep kekuasaan raja yang berintikan pada fakta jumbuhing kawula-gusti (bersatunya tuan-hamba) menjadikan masyarakat memiliki kepercayaan yang tidak tergoyahkan terhadap nasib, hal-hal yang sudah ditakdirkan, atau pinesti (Moertono:1985). Kehadiran wong cilik (orang bawah) dan penggede (orang berkuasa), yang tidak hanya dipandang dari sisi ekonomis, melainkan juga dari sisi hubungan dan perilaku sosial, disikapi sebagai kepastian yang tidak bisa diubah dari Tuhan.

Maka kedudukan dan kekuasaan raja niscaya merupakan ketentuan langit yang wajib diterima dengan rasa pasrah. Tuhan, dengan segala pengetahuan dan kecintaan terhadap manusia, telah menunjuk seseorang sebagai penguasa melalui karunianya, pulung. Pulung digambarkan dalam berbagai bentuk dan rupa. Kuntowijoyo (1992) melukiskan pulung sebagai cahaya terang, tapi lebih sering terlihat sebagai bola cahaya biru, hijau, atau putih yang menyilaukan, melintasi angkasa malam.

Kewajiban seorang hamba terhadap pulung yang dimiliki seseorang sehingga ia berhak atas kekuasaan hanyalah menerima, bukan menolak. Alhasil, setiap raja dilekati sifat dan watak agung binatara (raja yang didewakan). Ia berhak atas segala kepemilikan harta dalam wilayah kekuasaannya, bahkan atas hak hidup dan hak mati rakyatnya. Sejarawan Onghokkam (1988) menuturkan bahwa hak yang dimiliki raja itu biasanya diterjemahkan ke dalam penuntutan berupa upeti dan tenaga bakti (kerja) dari rakyat.

Para raja akan menuntut upeti yang cukup kepada rakyat demi mempertahankan taraf dan gaya hidup mereka yang layak bagi seorang penguasa, termasuk istri, kerabat, saudara, dan para pengikutnya. Taraf dan gaya hidup seorang raja itu erat kaitannya dengan prestise kekuasaan itu sendiri dan menjadi bagian resmi dari upacara yang dilakukan raja atau elit penguasa.

Namun, kendati kekuasaan raja berwatak tunggal karena hanya dimiliki seorang diri, raja tidak mungkin melaksanakan praktiknya itu tanpa dukungan dari pihak lain. Upeti dan pajak dari rakyat mesti ada yang menarik dan mengumpulkannya. Upeti dan pajak itu harus ada yang mengurus dan mengorganisirnya. Di sinilah raja kemudian bertindak untuk menciptakan ruling class baru yang sengaja dibentuknya. Kawan-kawan seperjuangan atau para tokoh yang mendukungnya adalah ruling class baru.

Cukupkah itu? Tentu tidak!

Kekuasaan raja atas wilayah geografis yang luas memerlukan perangkat jabatan yang banyak. Maka raja memberikan lungguh (kedudukan) kepada setiap orang dari golongan elit penguasa (Onghokkam:1988) untuk menduduki sebuah jabatan. Namun, jabatan itu bukan tanpa tanggung jawab dan konsekuensi. Tanggung jawab utama adalah menarik, mengumpulkan, dan menyerahkan upeti dan pajak dari rakyat kepada raja. Kalau gagal, konsekuensi harus ditanggung, termasuk lengser dari kedudukan sebagai pejabat dan pudarnya seseorang dari golongan ruling class.

Sebagai penguasa, raja tahu, golongan ruling class amat diminati banyak orang, terutama orang kaya yang tidak memiliki kedudukan dan jabatan dalam strata masyarakat tertentu. Dengan cerdik raja menawarkan jabatan dan kedudukan itu kepada setiap orang yang berani dengan menawarkan harga paling tinggi. Penjualan jabatan inilah yang kemudian disebut Gabriel Adrant (1975) sebagai venality of office yang terjadi hingga pertengahan abad ke-19.

Onghokkam (1988) mencatat Kerajaan Mataram Islam mempraktikkan venality of office pada wilayah-wilayah tertentu. Jabatan dan kedudukan bupati, di Madiun misalnya, dapat dibeli dengan harga lebih dari 10.000 real. Saat VOC mulai berkuasa, jabatan dan kedudukan itu tidak hanya bisa dibeli oleh orang-orang pribumi, tetapi orang-orang Cina pun dapat dengan mudah membelinya. Yang penting kesepakatan atas penawaran dan harga terjadi pada kedua belah pihak.

Dari sinilah penyelewengan kekuasaan itu bermunculan dalam berbagai bentuk dan variasinya. Upeti dan pajak menjadi objeknya. Namun, penyelewengan kekuasaan itu sendiri tidak disebut sebagai korupsi andaikata tidak terjadi peristiwa semacam Revolusi Prancis (1789) yang disusul dengan pemikiran-pemikiran berkelanjutan di negara, seperti AS dan Inggris hingga ke Indonesia, mengenai kekuasaan korup. Sebab dari peristiwa di atas kemudian muncul pengertian bahwa korupsi terjadi bila seseorang tidak mampu melakukan pemisahan kepentingan antara keuangan pribadi dan keuangan jabatan atau kedudukannya.

Andai peristiwa di atas tidak terjadi? Ah, so what gitu loh….* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: