KETIKA MBAH PUTRI MENINGGAL DI ATAS SAJADAHNYA

Jumat 9 Mei 2006. Kota Bogor dibasahi rintik-rintik air dari langit. Sejak siang mendung di angkasa memang tampak mengkilat. Saya tidak tahu pertanda apa sebab seharusnya musim kemarau sudah tiba. Hari itu yang sejatinya, saya, istri, dan anak saya cuti untuk pulang ke kota kelahiran, Banjarnegara terpaksa ditunda hingga esok harinya. Anak saya yang bungsu tiba-tiba demam.

Menjelang isya, telepon rumah berdering. Istri saya yang lebih dekat dengan pesawat telepon diletakkan, mengangkatnya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, ucap istri saya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Saya tersentak. Siapa yang meninggal? Tak lama istri saya berucap lirih.

” Mas, Mbah Ti meninggal….”

Mata saya mendadak gelap. Kabut seperti menutup deras. Hitam. Air mata seketika mengalir perlahan. Namun, mendadak kabut itu sirna manakala istri saya kembali berkata.

” Mas, Mbah Ti meninggal seusai sholat Maghrib. Ia masih memakai mukena. Mbah Ti meninggal di atas sajadahnya….”

Cahaya berpendar tipis di muka saya. Allahu Akbar! Ini hari Jumat! Bukankah ini hari yang dimuliakan oleh segenap umat Islam di seluruh penjuru dunia? Meninggal ketika selesai sholat! Bukankah saat-saat kematian seperti itu yang diidam-idamkan setiap hamba Allah yang mengaku beriman? Maha Besar Engkau ya Allah. Wajah Mbah Ti membayang jelas dan menari-nari di hadapan saya.

* * *

Mbah Ti -begitu biasa saya, kakak, dan adik saya memanggil Mbah Putri -(nenek dari pihak Ibu)- dilahirkan 82 tahun yang lalu, tepatnya pada 10 Oktober 1924 di Gombong, sebuah kota kecil yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ia lahir sebagai Sariyem, anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Kartodikromo yang mandor bangunan di zaman Belanda dan Satiyem, perempuan rumah tangga biasa.

Hidup Mbah Ti penuh warna. Sejak kecil ia sudah dekat dengan agama (Islam). Ayah dan ibunya memberi peran yang cukup penting kepada agama sebagai bekal dalam mengarungi hidup. Karena itu, praktik sholat dan puasa dijalaninya dengan patuh. Namun, ketika Mbah Ti menikah dengan Mbah Kakung (kakek), Salimin Brotosoehardjo, militer tulen yang mantan tentara HEIHO, sikap Mbah Ti berubah total. Sholat lima waktu mulai ditinggalkannya, juga puasa di bulan Ramadhan. Entah kenapa. Mungkin Mbah Ti memang tipe istri penurut sehingga apa kata suami mesti diikutinya.

Mbah Kakung jauh dari agama. Ia malah lebih dekat dengan kepercayaan kejawen. Bagi Mbah Kakung, semua agama itu sama; sama baiknya, tapi juga sama buruknya. Tidak ada satu agama pun yang berhak mengklaim sebagai yang terbaik. Tidak juga Islam. Pengalaman Mbah Kakung menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Jawa Barat mempertegas keyakinan tersebut. “Orang Islam suka berontak,” demikian simpul Mbah Kakung kepada para cucunya saat bercerita tentang perjuangannya dulu menghadapi DI/TII dan Masyumi. Tidak aneh kalau Mbah Kakung dan Mbah Ti lebih aktif di Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), sebuah organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Tapi, hidup memang sebuah siklus, roda yang berputar. Kehidupan keagamaan Mbah Ti tiba-tiba berubah drastis semenjak Mbah Kakung meninggal dunia pada 24 Agustus 1989. Saya yang saat itu sudah kuliah di Yogya tidak tahu kenapa Mbah Ti berubah begitu rupa. Ayah dan ibu, kakak dan adik saya setali tiga uang. Kami hanya sanggup menebak-nebak. Mungkin Mbah Ti memang sejak mula mau tetap mengamalkan ajaran Islam, tapi terhalang faktor Mbah Kakung. Mungkin Mbah Ti sudah bosan dengan kepercayaannya selama ini yang ternyata tidak terlalu memberi manfaat apa-apa baginya.

Mbah Ti berubah menjadi alim. Ia rajin pergi ke Masjid Abubakar, satu-satunya masjid yang ada di kampung saya. Mbah Ti juga tak pernah ketinggalan untuk sekadar sholat berjamaah atau mendengarkan ceramah di situ. Tak jarang Mbah Ti nekad pergi ke rumah seorang ustadz jika diketahui ustadz itu memiliki amalan-amalan yang perlu dibaca. Bila amalan itu sudah didapat, setiap waktu bibir Mbah Ti selalu basah oleh bacaan itu.

Aliran kepercayaan Pangestu yang lama ditekuni secara perlahan mulai ditinggalkan. Mbah Ti seperti ingin menebus usianya yang selama ini terbuang percuma. Ketika saya pulang dari Pesantren Ibnul Qoyyim di Yogya setelah mengikuti pesantren kilat selama satu bulan di masa liburan semester, Mbah Ti tak lelah untuk bertanya kepada saya mengenai Islam. Mbah Ti dahaga untuk meminum ilmu yang amat sedikit dari saya di pesantren. Saya kadang kerepotan untuk menjawab pertanyaan Mbah Ti yang sederhana tapi terasa sangat mengena.

Saat usia Mbah Ti mencapai angka tujuhpuluh, mulai terlihat kalau ia seperti memendam sesuatu. Mbah Ti seringkali terlihat murung. Kami semua tidak mengetahui apa penyebab kemurungan Mbah Ti. Meski demikian, Mbah Ti tak pernah lupa untuk mendekatkan dirinya kepada Allah. Pertanyaan dari kemurungan Mbah Ti akhirnya terjawab saat saya pulang dari Yogya dan menemuinya.

Sambil menitikkan air mata Mbah Ti mengungkapkan ketakutannya terhadap penyakit yang selalu diderita oleh para orang tua, pikun. Mbah Ti begitu takut dengan pikun karena penyakit itulah yang akan menjadikan dirinya beban bagi anak dan cucunya. Lebih-lebih lagi, penyakit itulah yang bisa menyebabkan ia lupa kepada Allah.

Saya terharu dengan ucapan Mbah Ti. Saya begitu ingin memeluknya. Saat itu pula saya yakinkan kepadanya bahwa Mbah Ti tidak akan pernah pikun! Mbah Ti senantiasa akan dekat dengan Allah. Mbah Ti tersentak mendengar jaminan saya. Dengan terbata-bata ia bertanya, bagaimana bisa? Jawab saya kemudian, kalau bibir Mbah Ti tetap dibasahi oleh kalimat-kalimat Allah di waktu pagi, siang, sore, atau malam hari. Mbah Ti tersenyum mendengar penjelasan saya. Ia tampak begitu senang. Hari itu saya tak pernah melihat senyum seindah senyuman Mbah Ti.

Agaknya, jaminan bahwa Mbah Ti tidak akan pernah pikun tak berlaku bagi kedua orang tuaku dan kakak serta adikku. Di usianya yang menapaki 80 tahun, di mata mereka, pandangan Mbah Ti seringkali terasa aneh. Mbah Ti sangat suka menghentikan langkah penjual kayu bakar yang lalu lalang di depan rumah dan membelinya. Dengan uang pensiun yang dimiliki, Mbah Ti bisa membeli seberapa pun harganya.

Tak cuma itu. Mbah Ti juga menyilakan penjual kayu bakar itu masuk, duduk, dan menghadiahi segelas kopi atau teh beserta jajanan kecil. Tak ayal, rumah Mbah Ti lebih mirip tempat penampungan kayu bakar. Padahal sebatang kayu bakar untuk masak sehari saja sudah cukup. Padahal di rumah Mbah Ti sudah tersedia kompor gas yang lebih mudah dipakai. Bila kedua orang tua saya menegur, Mbah Ti malah balik bertanya, apakah kalian tidak merasa kasihan melihat orang-orang itu mengangkat kayu bakar puluhan kilometer jauhnya tanpa tahu siapa yang membelinya?

Kedua orang tua saya, kakak serta adik saya hanya diam membisu tanpa mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya berharap Mbah Ti segera berubah. Tapi, keinginan itu nyatanya jauh panggang dari api. Mbah Ti malah semakin menjadi-jadi sehingga keluarga saya harus selalu menyiapkan jawaban untuk menangkis setiap pertanyaan dan pernyataan yang muncul dari kerabat atau tetangga dekat.

Mbah Ti suka mengumpulkan botol-botol air mineral. Ia tidak memperbolehkan siapa pun membuang botol-botol dari air mineral yang telah dibelinya itu. Kalau ada yang coba-coba berani membuangnya Mbah Ti pasti akan sangat marah. Mengapa? Karena botol-botol itu memang telah ada yang punya.

Setiap pagi Mbah Ti akan memberikan sebotol air minum kepada petugas sampah keliling yang berjumlah lima orang. Dan Mbah Ti menerima botol air mineral kosong dari petugas sampah itu untuk diisi dan diserahkan pada keesokan harinya. Ini pula yang dilakukan Mbah Ti kepada para pengemis, penjual kayu bakar, peminta-minta, dan orang-orang kesusahan lain yang ditemuinya di dekat rumah. Di ujung usianya Mbah Ti memang bersikap “aneh” bagi keluarga saya, kerabat, dan para tetangga.

* * *

Apa yang saya pikirkan saat mendengar kabar Mbah Ti meninggal tanpa didahului sakit?

Sore itu saya memang menatap senyum yang murung dalam gerimis kota Bogor. Namun, tidak demikian dengan kota kecil saya Banjarnegara. Meninggalnya Mbah Ti seperti menjadi lentera yang menggugah relung-relung kemanusiaan keluarga kami, juga bagi orang-orang yang mendengarnya. Ia ibarat sumur ilmu yang tidak akan pernah habis ditimba oleh kedangkalan pengetahuan kami.

Mbah Ti memang telah tiada. Tapi, kami percaya, kematian Mbah Ti bukanlah kematian yang sia-sia. Mbah Ti meninggal dengan pertanda kemuliaan. Siapa yang tidak ingin meninggal di hari Jumat, hari yang begitu diagungkan oleh segenap orang-orang beriman? Siapa pula yang tidak rindu dipeluk Izrail, sang pencabut nyawa, dalam keadaan suci sehabis sholat ketika masih bermukena?

Kematian Mbah Ti niscaya memang sebuah cita-cita. Ia tidak pernah lapuk sebagai pelajaran bagi ingatan keluarga saya; ayah, ibu, kakak, adik, juga istri dan ketiga anak saya.***

2 Responses

  1. info yg actual tuk meningkatkan ketaqwaan padaIlahi Robbi , sukron katsir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: