HALAL?! YA ALLAH, BETAPA SUSAHNYA!!!

Sepulang dari pengajian rutin kantor yang biasa diikutinya setiap bulan, -masih dengan jilbab putih yang dikenakan-, istri saya berucap serius kepada saya.

”Mas, mulai sekarang kita mesti hati-hati. Sebagai muslim tidak patut kita menikmati makanan yang tidak ada label halalnya. Dosa! Kata Pak Ustadz tadi, makanan yang kita makan menyatu dalam aliran darah kita. Kalau kita suka makan makanan yang tidak halal bisa dipastikan pikiran dan perilaku kita akan cenderung kepada hal-hal yang dilarang Allah.”

Istri saya diam sebentar. Seperti berpikir. Sesaat kemudian istri saya melanjutkan ucapannya.

“Kata Pak Ustadz tadi, apa yang kita makan itulah yang keluar dari mulut kita. Kalau orang gemar berkata dan bertindak kotor, bisa jadi ada yang salah dengan apa yang selama ini dimakannya.”

Saya tidak terlalu peduli dengan suara istri saya. Bagi saya, itu sudah biasa. Setiap sehabis hadir dari forum-forum, seperti pengajian, seminar, atau rapat, istri saya senantiasa menumpahkan masalah dan pengetahuan yang baru diperolehnya. Semacam sharing. Tapi, itu hanya sesaat. Sesudahnya ia kembali melupakan topik yang baru saja dibicarakan.

Agaknya, kali ini saya mesti kecele. Istri saya benar-benar tidak melupakan percakapan tentang makanan halal tempo hari itu. Bahkan ia seperti berusaha mempraktikkan makna halal itu dalam kehidupan keluarga kami.

”Ingat, Mas. Pilih produk yang halal. Saya sedih campur marah kalau Mas nekad memilih produk-produk makanan yang tidak ada label halalnya. Kasihan kita dan anak-anak kita.”

Sebuah “ancaman” datang dari istri saya ketika kami sekeluarga sedang berbelanja keperluan bulanan di sebuah mal besar. Kata hati saya, alhamdulilah istri saya sudah mengingatkan. Maka saya berusaha mengikuti anjuran istri saya sebaik-baiknya.

Sepanjang lorong-lorong produk makanan yang tersedia, saya hanya memilih produk-produk yang di kemasannya tertera kata ”halal”. Selain kata itu, tidak sama sekali. Tapi, ya Allah! Sungguh, betapa susahnya! Sangat tidak mudah menemukan kata “halal” tertera dalam setiap produk makanan atau minuman yang tersaji dalam pusat perbelanjaan besar di kota kami.

“Jangan ya! Saus tomat itu tidak ada kata halalnya…”

“Minuman ringan itu meragukan. Lihat saja, nggak ada keterangannya.”

“Ganti dengan susu yang lain. Susu ini tidak baik bagi kalian semua.”

Malam itu, sepanjang perjalanan dari lorong ke lorong, istri saya bertindak layaknya “polisi syariah” bagi saya dan kedua anak saya. Ia menentukan mana makanan yang harus, boleh, dan tidak boleh dibawa pulang. Perangkatnya hanya satu, ada atau tidaknya kata “halal” dalam kemasan produk makanan-minuman.

Saya menyerah lelah. Dua anak saya memerah marah. Tetapi, tidak dengan istri saya. Ia tetap mengambil dan membaca, mengamati dan meneliti semua produk makanan-minuman yang hendak dimasukkan ke troli untuk dikonsumsi keluarga kami.

Hampir dua jam kami berbelanja di mal. Di mobil, saat pulang, istri saya berceramah ringan.

“Ingat, Mas. Lawan halal itu haram. Dalam Islam, makanan haram itu ada dua. Pertama, haram karena zatnya, seperti bangkai, darah, khamar, atau babi. Kedua, haram karena sebab yang tidak berhubungan dengan zatnya, seperti makanan hasil mencuri, makanan dari upah dari perzinahan, atau makanan dari gaji suatu profesi yang dilarang.”

Istri saya berhenti berbicara. Namun, ia tak ingin menghentikan ceramahnya.

“Saya ingin kita mampu menjadi teladan bagi anak-anak kita. Mulai sekarang usahakan kita menghindari mengkonsumsi makanan yang tidak jelas asal dan sumbernya. Saya yakin, kita bisa kalau kita benar-benar berusaha keras sekeras-kerasnya.”

Saya bergetar mendengar suara istri saya. Bisakah saya menanggung beban yang sedemikian tidak ringan itu? Ada hati yang terbelah dalam tubuh saya. Sebab, saya tidak hanya memikirkan semata-mata pengertian halal dan haram yang diucapkan istri saya.

Saya membayangkan banyaknya produk makanan yang tidak berlabel halal bersemayam di tubuh saya. Saya juga membayangkan betapa banyak jajanan di jalan, warung, kantin, rumah makan, atau hotel yang leluasa masuk ke mulut saya tanpa saya ketahui kehalalannya. Saya membayangkan produk makanan kemasan yang “memaksa” larut dalam aliran darah saya padahal produk-produk itu dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang menyengsarakan dan merampas hak milik rakyat.

“Mas, itu baru halal. Belum lagi toyyib atau baik. Selain halal, makanan yang kita makan juga harus baik untuk kesehatan kita. Jauh dari kandungan racun dan zat yang berbahaya bagi tubuh.”

Saya dipenuhi ketegangan dalam mobil yang saya kemudikan. Tercekam. Di depan mata saya tiba-tiba seolah menyerbu ribuan makhluk menjijikkan yang berebut menggerogoti tubuh saya. Keras. Kasar. Namun, makhluk itu seketika tertawa aneh saat mendengar suara Irfan, anak pertama saya yang menginjak usia 11 tahun.

“Bapak, ibu. Kita pindah ke Arab saja, yuk….” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: