BAGI MOURINHO, KEMENANGAN ADALAH HAL TERINDAH

Van Gaal dan Mourinho saat masih di Barcelona

Jose Mourinho membuktikan janjinya. Di hadapan ribuan penonton yang menyemut di Santiago Bernabeu, stadion kebanggaan klub Real Madrid (Spanyol), Inter Milan (Italia) yang dilatihnya sukses melibas Bayern Munich (Jerman) dalam partai final Liga Campions, Minggu dinihari (23/5). Diego Milito menjadi bintang dengan dua gol emasnya ke gawang Hans Jorg Butt sehingga menyudahi pertandingan dengan skor akhir 2-0.

Milito-kah bintang sesungguhnya dalam pertandingan yang berlangsung cukup menegangkan selama 2×45 menit itu? Bukan! Bukan Diego Milito, penyerang berkebangsaan Argentina yang naik pamornya di Inter Milan setelah ditarik dari Genoa sesudah sebelumnya bermain di Real Mallorca!

Weshley Sneijder? Juga bukan! Bukan Sneijder, si otak serangan La Beneamata bernomor punggung 10 yang kerap bermain menawan pada setiap partai yang dilakoni klub milik Massimo Moratti itu meskipun dirinya dibuang oleh Real Madrid demi mendatangkan Kaka dan Christiano Ronaldo. Kalau bukan Diego Milito atau Weshley Sneijder, lalu siapa bintang sejatinya?

Jose Mourinho! The Special One! Manajer-Pelatih asal Portugal itulah bintang paling terang di balik para bintang kemenangan Inter Milan dalam laga final, dan bahkan di balik melejitnya prestasi Inter Milan pada kancah persepakbolaan Eropa setahun belakangan ini. Tanpa tangan dingin Mourinho yang mampu membangun mentalitas kubu Inter secara keseluruhan, mungkin Inter akan tetap rela menjadi bayang-bayang klub rival sekotanya yang memang memiliki prestasi lebih jos dan mentereng, AC Milan.

Mourinho datang ke Italia untuk mengubah segalanya. Masuk ke Inter Milan setelah sempat ”terusir” dari Chelsea (Inggris) meskipun dirinya sukses membawa Chelsea ke tangga juara Liga Premiere setelah menunggu 80 tahun, Mourinho tetap muncul dengan karakter yang khas dirinya dan tidak berubah. Kontroversial, tinggi hati, provokatif, dan sinis.

”Jose Mourinho dulunya tidak seperti itu. Sewaktu masih di Barcelona menjadi asisten saya, Jose adalah pribadi yang rendah hati,” kenang Louis van Gaal, Manajer FC Hollywood, julukan Bayern Munich, yang pernah menjadi atasan Mourinho sewaktu masih bergabung dengan raksasa Catalan, Barcelona.

Mourinho yang asisten memang berbeda dengan Mourinho yang manajer. Ia tahu dirinya harus berubah jika ingin menuai sukses besar dalam sepak bola. Asisten adalah ekor yang mesti mengikuti kehendak kepala, sang manajer. Sebaliknya, manajer adalah kepala yang harus mampu menuntun gerak langkah ekor, si asisten. Manajer adalah otak, pusat sepak bola sebagai seni bermula.

Maka Mourinho tidak peduli dengan tudingan bahwa dirinya arogan, sombong, provokatif, bahkan dinilai tidak mengerti filosofi sepak bola. Seperti halnya di Inggris, di negeri spagheti, Mourinho bak raja panggung dalam pentas sepak bola. Aksi dan reaksi di dalam stadion kerap menjadi berita yang tidak kalah dengan aksi dan reaksinya di luar stadion. Bagi media massa, Mourinho adalah news maker yang sulit ditandingi oleh jajaran manajer top Italia, bahkan figur sekelas Trappatoni, Lippi, Ancelotti, atau Ranieri.

Mourinho tutup kuping ketika ia sempat dilecehkan Carlo Ancelotti yang diisukan hendak dipecat dan digantikan dirinya dalam menukangi AC Milan yang terus-menerus terjerembab tanpa bisa bangkit dalam perebutan gelar scudetto.

”Mourinho? Ah, menendang bola saja ia tak becus,” ketus Ancelotti dengan nada meledek.

Mourinho tidak hendak ke Milan, itu fakta akhirnya. Mourinho juga tidak berniat menutup mulut Ancelotti yang telah merendahkannya. Namun, lebih daripada itu, ibarat drunken master ia datang seolah hendak mengobrak-abrik jantung dan nafas persepakbolaan Italia.

”Sepak bola Italia? Ah, membosankan!” cetus Mourinho dengan gaya seenak udelnya.

Publik sepak bola Italia tersentak. Mereka marah. Serentak mereka menumpahkan kejengkelannya kepada allenatore berwajah Latin itu. Namun, bukan Mourinho jika tak mampu membalikkan keadaan. Ia amat paham psikologi publik pecinta sepak bola, di manapun mereka berada. Hanya satu yang diinginkan semua publik pecinta bola agar kemarahan mereka dapat mereda. Kemenangan! Prestasi! Gelar juara!

Maka tatkala Inter Milan dibawanya menggondol gelar Liga Campions sehingga berhak atas treble winner (Scudetto, Coppa Italia, dan Campions League) di musim ini, pecinta sepak bola di Italia bersorak gembira. Pendukung Inter Milan bahagia karena kerinduan terhadap gelar Liga Champions mampu mereka raih setelah menunggu 45 tahun. Seluruh pecinta sepak bola Italia gembira sebab Inter Milan telah sukses menegakkan panji-panji dunia persepakbolaan Italia yang sempat terpuruk akibat skandal Calcioppoli beberapa tahun lalu.

Semua memuja dan memuji Mourinho? Mungkin tidak! Para pecinta sepak bola indah niscaya sedih karena kemenangan Inter Milan dan Mourinho bukanlah kemenangan sepak bola indah. Tahun ini, era sepak bola indah yang bertumpu pada total football dengan skill individu pemain, penguasaan bola, dan kerja sama operan dari kaki ke kaki berakhir di tangan sepak bola versi Mourinho yang efektif, efisien, dan penuh dengan detil.

Tapi, sepak bola indah? Ah, kemenangan dan menjadi juara pasti lebih indah, begitu pikir Jose Mourinho. Sepak bola indah bisa diperdebatkan, tetapi kemenangan dan gelar juara tidak untuk diperdebatkan. Siapa yang mampu mengubah gelar juara jika piala sudah di tangan dan sejarah telah menuliskan?

Maka bravo Mou yang kini namanya tercatat dalam sejarah sebagai manajer-pelatih ketiga yang sukses meraih juara Liga Champions bersama dua klub yang berbeda, bersama Ernst Happel (Feyenoord 1970 dan Hamburg 1983) dan Ottmar Hitzfeld (Dortmund 1997 dan Bayern Muenchen 2001) !***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: