ISRAEL DAN BANGSA YANG SAKIT

Entah kosakata apa yang pas buat melukiskan sepak terjang negara zionis Israel -sebuah negeri yang hanya diperuntukkan dan dihuni khusus bangsa Yahudi- dalam pentas sejarah sosio-politik dunia di abad kontemporer ini. Sepanjang saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang tebalnya minta ampun itu, saya seperti tidak menemukan kata yang cocok untuk menggambarkan negara yang didirikan demi satu bangsa yang berserakan di muka bumi itu.

Kejam! Bengis! Biadab! Sederet kata sifat kasar itu tak kuasa menenangkan rasa hati saya yang panas membara. Bahkan ketika saya coba menancapkan lusinan binatang bagi Israel, perasaan saya tetap tidak terobati. Anjing! Babi! Monyet! Apalagi tatkala saya menggunakan energi kedaerahan demi rasa puas yang tersalurkan. Semprul! Jancuk! Sia! Semua sia-sia belaka. Saya kehilangan kata-kata yang cocok, pas, dan mengena di hati untuk Israel.

Tetapi, Israel memang sebuah negeri paradoks. Banyak orang dan banyak bangsa di dunia yang sedemikian membencinya, tetapi banyak orang dan banyak bangsa yang niscaya mengakui kehebatannya. Banyak orang dan banyak bangsa yang berusaha menghindarinya, namun tidak sedikit orang dan bangsa yang kepingin meniru dan bahkan belajar darinya. Perasaan terhadap Israel seolah diinginkan dalam dua suasana, keterbukaan dan ketersembunyian.

Tokoh aktivis dan Senator Partai Republik Paul Findley mungkin pantas menjadi gambaran pikiran yang paradoks itu. Penulis buku They Dare to Speak Out: People and Institutions Confronting Israel’s Lobby (Connecticut,1985) itu dengan jitu memaparkan sepak terjang bangsa Yahudi dalam mempengaruhi pandangan dan pemikiran mayoritas negeri adikuasa kini, AS. Meski hanya minoritas dalam keseluruhan bangsa Amerika, lobi Yahudi mampu menguasai ”infrastruktur” bangsa Amerika bahkan hingga ke sudut-sudutnya. Kongres, Senat, partai politik, perusahaan, dan media massa tak kuasa lepas dari jerat lobi Yahudi.

Pada satu sisi Findley menunjukkan kejengkelannya terhadap bangsanya sendiri yang tidak berdaya di hadapan lobi-lobi Yahudi sehingga sejatinya bangsa AS adalah bangsa yang ”tidak bebas” dalam pandangan politiknya. Tapi, pada sisi lain, ia mengakui kepiawaian dan kepintaran bangsa Yahudi dalam merangkai jalinan peta sosial dan peta budaya Amerika sehingga ia mampu menjadi ”the number one friend” dalam perjalanan sejarah politik bangsa Anglo Saxon itu. Entah bagaimana nasib Amerika jika tanpa bangsa Yahudi dalam dirinya.

Sejarah pilu nan kelam yang dialami bangsa Yahudi di masa silam merupakan penanda bahwa sebuah bangsa yang ”hidup” tentu memiliki sejarah yang keras di masa lalunya. Seorang orientalis Hongaria Arminius Vambery dalam The Story of Struggle (London, tt) mengungkapkan bagaimana terlunta-lunta dan nelangsanya kehidupan bangsa Yahudi yang tercerai berai di berbagai wilayah negara-negara di kawasan Eropa, Asia, atau Amerika akibat nasib sejarah hitam di masa lalunya.

Vambery menulis seperti ini:

”Saya tidak pernah mengetahui ada umat Tuhan di muka bumi ini yang begitu memprihatinkan, tanpa harapan, dan menyedihkan melebihi apa yang dialami oleh Yahudi di negara-negara tersebut.”

”Yahudi yang miskin begitu terhina, tersisih di mata orang-orang Kristen, umat Islam dan Brahmin, sebagai umat yang paling miskin di antara yang miskin, dan ditindas oleh orang-orang Armenia, Yunani, dan Brahmin.”

Arminius Vambery tentu bukan satu-satunya orientalis, sejarawan, atau penulis yang mengakui sejarah masa lalu yang kelam dari bangsa Yahudi. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan orientalis, sejarawan, atau penulis yang sepaham dengan Vambery. Namun, mestikah sejarah yang kelam dan menyedihkan itu menjadi pengesah bagi sikap apologi bangsa Yahudi untuk bertindak serampangan dan enigmatik, bahkan terhadap misi kemanusian kapal “Mavi Marmara” yang hendak menolong orang-orang Palestina yang tertindas di Gaza?

Israel yang zionis dan Israel yang Yahudi sedang lupa dan melupakan sejarahnya sendiri. Mereka nyaman dengan perasaan lupa karena mereka merasa pada lupalah mereka mampu mengubur semua aroma kesedihan dan keterhinaan di masa lalu. Pada lupalah mereka hendak berterima kasih. Namun, benarkah demikian? Tentu tidak! Sebab bangsa yang lupa dan melupakan sejarahnya sendiri sejatinya adalah bangsa yang terkapar sakit. Ia ingin tegak di masa kini dan masa depan, tapi rapuh pijakannya di masa silam.

Ironisnya, tidak hanya zionis Israel yang sakit sebab umat Islam pun sedang didera sakit yang berkepanjangan. Dalam kaitannya dengan perjuangan Palestina, umat Islam sakit karena lupa terhadap dua hal penting.

Pertama, umat Islam lupa bahwa penyelesaian masalah Palestina semestinya tidak terlalu bergantung kepada politik luar negeri AS yang niscaya hipokrit dan penuh dengan lobi Yahudi. Kedua, penyelesaian masalah Palestina tidak selayaknya menunggu penyatuan ide dan gagasan, serta kesamaan pandangan bangsa-bangsa Arab karena menunggu bangsa Arab bersatu ibaratnya sama dengan menunggu langit runtuh.

Maka konflik dua komunitas bangsa yang sakit selalu tidak mudah diselesaikan. Sejarah mencatat bahwa kerapkali jalan diplomasi tidak pernah mencapai ujung dan pangkal, awal dan akhir karena masing-masing bersikeras dan bersikukuh dengan pendiriannya. Rumus diplomasi berupa ”take and give” tidak membawa hasil apa-apa karena diplomasi telah dimaknai sebagai perang di medan lain. Jadi, haruskah konflik Israel-Palestina diselesaikan di medan perang?!!

Saya tidak paham itu. Saya hanya paham sebuah diktum bahwa setiap perdamaian tidak akan pernah abadi tanpa hadirnya keadilan! * * *

10 Responses

  1. Menunggu bangsa Arab bersatu seperti menunggu langit runtuh…saya sependapat Mas.

    Barangkali Izrael itu berpendapat bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa karena banyak nabi-nabi yang diturunkan di sana…

    atau mereka balas dendam karena kekejaman Hitler, membantai semua keturunan Yahudi (Israel) saya dapat cerita dari tuturan catatan harian Anne Frank…sehingga bangsa Palestina jadi tumbal balas dendam mereka.

    Entahlah, dengan cara apalagi kita dapat menyadarkan mereka (Israel), membuat bangsa Arab, kaum muslimin dan Amerika Serikat sadar akan kekeliruannya!

  2. Israel memang harus saya akui sebagai bangsa hebat…sekaligus bejad/membaca..historis di tahun 1971 ketika israel berperang melawan 5 negara disekitarnya….dan memperoleh kemenangan telak…membuatku tersadar bangsa ini bgs yang hebat….tapi kelakuannya dan pengecutnya membuat kebencian saya pada bangsa ini melebihi apapun……sampai kapanpun….

    • Ada hal yang menarik tentang persoalan kamp konsentrasi Hitler di masa lalu terhadap bangsa Yahudi yang hingga kini rasa-rasanya belum terjawab. Kenapa Hitler begitu tidak menyukai bangsa Yahudi? Apa yang menyebabkan Yahudi dimusuhi Hitler? Benarkah Hitler sungguh2 memusuhi orang2 Yahudi? Atau adakah “grand design” yg membuat bangsa Yahudi menjadi korban sejarah?
      Uniknya, tak hanya Hitler. Bahkan seperti yang Vambery tulis, bangsa-bangsa di belahan dunia lain pun sangat tidak menyukai bangsa Yahudi. So, ada apa sebenarnya dengan karakter bangsa Yahudi?
      Bob dan Bije, itulah….makanya saya menyebut Israel sebagai bangsa paradoks yg membuat kita pun kadangkala bersikap paradoks. Tabik…

  3. israel kayak anjing
    mereka nyerang palestina doang bisanya
    yg lain takut
    dasar israel kayak banci

  4. Schindlers list film tentang pembunuhan Yahudi secara besar-besaran. Nyawa mereka tak ubahnya seperti lalat yang “mudah dibunuh”.

    Life is Bautiful, perjuangan seorang ayah menunjukkan kepada anaknya meski kamu dan saya Yahudi dunia tetap indah.

    Anne Frank, catatan harian seorang anak kecil tentang penderitaan menjadi orang Yahudi.

    Semoga perang ini cepat berakhir, siapa pun pemenangnya…anak-anak, dan perempuan yang selalu jadi korban….

  5. jgn lupa ….
    yg namanya HAMAS sgt meresahkan rakyat israel…logikanya mereka jg ga mau ditindas kelompok HAMAS,,anda pikir itu
    dan mereka seolah menantang,,setelah dibuktikan perang kemaren,,mna yg menang?israel khan ,,ya itu kemenangan telak….!!!klo mmg perang kmren negara arab mo keroyok dia ,pasti ud keroyok..mn? ga ada khan?
    dan skrg byk fanatik hamas ramai2 galang dukungan,,dg kedok misi kemanusiaan,,setelah mo digeledah kapalnya dia ga mau khan? ya menurut dia berarti ada senjata…
    seharusnya tentara israel turun dari heli ga ush digebukin gw rasa ga mungkin dia menembak…
    ude de ampe kiamat ga mungkin yg dukung hamas mo menang
    ud mending daftar skrng jihad ke gaza biar asuk surga konyol…

    • to bro: kayaknya pro israel ya????
      sebaiknya anda pelajari kenapa hamas terlahir ditengah-tengah penindasan bangsa isra3l……., apakah bangsa palestina harus berdiam diri dan tidak melakukan perlawanan apabila mereka dijajah… mkn juga anda termasuk org2 yahudi… ingat kawan, bangsa kita merdeka atas perlawanan dan pertumpahan darah melawan penjajah belanda….
      Allah telah mennjanjikan dalam AL-QUR”AN… suatu saat orang-arng yahudi itu akan musnah dari muka bumi ini..

    • saya heran mengapa begitu bangga sekali menjadi budak Yahudi…saya yakin anda bukan muslim ataupun nasrani yang taat,karena seorang yang memgang teguh ajaran nasrani (murni) dan muslim bahkan agama yahudipun sangat menghinakan ajaran zionis…jadi jika anda tidak percaya tanyakan ke tokoh agama anda(klo dia tidak menyimpang)

  6. harap di ingat semua hampir semua nabi terlahir dr israel, semua org bilang mereka itu jahat, tapi mrk adalah bangsa atau umat pilihan Tuhan, meskipun mereka tidak percaya Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: