VIDEO “LUNA-ARIEL” DAN HIKAYAT SEKSUALITAS BANGSA KITA

Saya bukan ahli telematika semacam Roy Suryo. Saya sama sekali tidak kuasa

Arca Candi Sukuh

membuktikan secara teknis, teknologis, dan digitalis bahwa rekaman video mesum yang beredar akhir-akhir ini di tengah masyarakat adalah benar dimainkan oleh dua artis tenar, Luna Maya dan Ariel Peterpan.

Meski tak mampu membuktikan, tapi saya yakin dan bahkan haqul yakin bahwa mereka berdua, pemeran pria dan wanita itu, adalah orang Indonesia asli! Lho kok? Ya, simpel saja. Karena video itu beredar di negeri kita, -konon- dilakukan di sebuah wilayah di negeri kita, dan tidak sedikit orang yang mengenali pemain dalam video itu sebagai orang dari negeri kita.

Kok nggak malu ya ?

“Jangan sebut bangsa Indonesia adalah bangsa pemalu. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang amat terbuka, bahkan dalam urusan seks!”

Ucapan arkeolog terkemuka Drs MM. Sukarto K. Atmodjo pada suatu ketika di akhir tahun 1990 tiba-tiba terngiang kembali dan menghentak benak kesadaran saya.

Udara dingin di kaki puncak Gunung Lawu, dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah tidak membuat kami, para mahasiswa jurusan sejarah menyerah kalah dan kemudian minggir. Ucapan Pak Karto, demikian kami biasa memanggil arkeolog bertubuh prima itu, justru menjadikan kami tersengat.

Bahkan di tengah gerimis yang kemudian datang dan mendedahkan gemetar di tubuh, Pak Karto menerangkan dengan amat detil perihal Candi Sukuh, candi yang kerapkali disebut dan diasosiasikan sebagai bangunan candi paling porno di tanah air. Beliau menerangkan segala seluk beluk candi itu dengan bahasa yang lugas dan kadang diselingi dengan humor yang jauh dari kesan jorok dan vulgar.

Tapi, candi paling porno? Ya, benar karena di lingkungan Candi Sukuh memang banyak bertebaran lingga dan yoni, lambang seksualitas kaum pria dan wanita. Hampir di setiap sudut candi, kami seolah disuguhi lingga dan yoni yang terlukis dengan sangat jelas sehingga siapapun yang melihat akan mengamini bahwa apa yang terlukis di situ adalah sesuatu yang “semestinya” bersifat sangat pribadi.

Di lantai dasar dari gapura utama, misalnya terpampang relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas relief itu memang terkesan porno, meski tidak demikian maksud si pembuat. Sebab, bagaimana mungkin disebut porno bila Candi Sukuh merupakan tempat peribadatan suci warisan budaya Hindu? Adakah di tempat yang suci dilegalkan sesuatu yang porno?

Hakikatnya, relief itu justru mengandung makna yang mendalam. Dalam agama Hindu, relief itu melambangkan Dewa Syiwa dan Parwati, istrinya. Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief itu dipahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan akan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk” (medium untuk menakut-nakuti dan mengusir roh jahat).

Apakah hanya bangunan candi yang membuktikan hikayat “ketelanjangan” bangsa kita?

Tentu tidak. Karena tidak sedikit naskah masa lalu yang memuat seks dan segala problematikanya dengan bahasa yang gamblang. Serat Centini adalah contohnya. Serat yang digubah tiga pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V pada sekitar 1815 dianggap sebagai buku Kamasutera versi Indonesia.

Bagi Otto Sukatno CR, meski bangsa Indonesia teristimewa suku Jawa memiliki budaya masa lalu yang represif-feodalistik, tetapi dalam persoalan seksualitas ternyata jauh dari apa yang dibayangkan. Dalam bukunya yang berjudul Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), Otto memaparkan bagaimana seks menjadi sesuatu yang sifatnya terbuka di kalangan bangsawan keraton seperti halnya yang terpaparkan dalam Serat Centini.

Dalam Centini II (Pupuh Asmaradana), misalnya Otto Sukatno mengungkapkan bahwa soal “permainan asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks ditulis secara gamblang. Pelajaran-pelajaran seks, seperti cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi, dan lain-lain diungkapkan dengan detil.

Sedangkan dalam Centini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana atau berbagai macam gaya persetubuhan yang berlangsung di ranjang antara lelaki dan perempuan. Tidak lupa dijelaskan pula sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmara saat berada di ranjang.

“Hikayat ketelanjangan dan seks sudah lama tumbuh di negeri kita, bahkan lama sekali…!”

Ucapan Pak Karto terus terngiang di telinga saya. Adakah kasus video Ariel-Luna merupakan bukti bahwa seks dan “ketelanjangan” merupakan sesuatu yang sifatnya permisif dalam kehidupan budaya bangsa kita, tidak peduli itu urusan privat atau publik? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: