KURSI BEMO, KURSI JABATAN, DAN KURSI KEKUASAAN

Bemo

Lama saya tidak naik bemo lagi. Mungkin sudah lebih dari dua atau tiga tahun, bahkan mungkin malah lima tahun. Saya memang berharap bisa naik bemo lagi, tapi entah kapan. Sayangnya, harapan itu tampaknya sirna. Pemerintah Kota Bogor, tempat saya berdiam kini, sudah jelas melarang bemo beroperasi di wilayah kota hujan itu.

Meski harapan itu lenyap, saya tetap mengenang bemo sebagai kendaraan yang unik. Tubuh bemo memang bisa dibilang kecil, tapi suara bemo mampu menggilas suara-suara kendaraan lain yang lebih mentereng. Mobil angkot, sedang, jeep, bahkan truk; lewat semua! Pokoknya, suara bemo teramat memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengarnya.

Satu pengalaman bergaul akrab dengan bemo yang tidak pernah bisa saya lupakan adalah sewaktu saya diminta lungsur secara sangat terhormat oleh sopir bemo. Sambil tersenyum, bapak sopir bemo yang manis itu menyuruh saya turun hingga membuat muka saya merah padam. Malu. Sangat malu. Lho kok?

Begini ceritanya!

Suatu hari saya ada urusan dengan seorang teman. Untuk lebih praktisnya saya sengaja memilih naik kendaraan umum. Kecele! Rupanya, tempat teman saya tinggal itu tidak dilalui angkot. Adanya hanya bemo!

“Nggak papa, bemo juga bagus kok. Di sini bemonya kuat-kuat…,” terang teman saya di seberang telepon.

Benar juga. Deretan bemo berjajar rapi menunggu penumpang yang hendak naik tatkala saya datang di dekat jalan menuju rumah teman saya itu. Saya lihat-lihat sebentar. Lalu, saya pilih bemo yang menurut saya layak dan enak dinaiki.

“Maaf, pak, ” seseorang menegur saya. “Jangan naik yang ini. Itu dulu yang akan berangkat.”

Oh, ternyata saya keliru pilih dan keliru naik. Saya kemudian naik bemo yang ditunjukkan oleh orang yang ternyata calo bemo. Bemo segera berangkat!

Sepanjang jalan saya mulai dirasuki waswas. Bemo yang saya naiki jalannya tidak normal. Sedikit oleng. Suara mesinnya juga menderu sangat keras. Perasaan saya tidak keliru. Di sebuah tanjakan, bemo yang saya tumpangi ngadat. Berhenti. Tak bisa jalan.

Anehnya, meski tak bisa jalan, bemo itu tetap menderu-deru. Suara mesinnya seolah tak tertahan. Bising. Sopirnya sedikit gelisah. Para penumpangnya apalagi.

“Maaf, pak. Lungsur sekedap….”

Sopir bemo itu memandang saya dengan pandangan mendua; antara meminta dan memerintah. Saya tak peduli karena saya memang tidak tahu apa yang sopir itu omongkan. Sunda banget sih.

Mesin bemo tetap menderu.

“Maaf, pak. Lungsur sekedap…”

Kembali sopir itu bersuara. Kali ini dengan senyuman yang manis. Saya tak mungkin tidak peduli karena beberapa orang telah mengambil alih suara si sopir.

“Maaf. Bapak diminta turun sebentar…” jelas seorang ibu.

“Memang kenapa, Bu?” protes saya.

“Kalau Bapak turun, bemo ini pasti jalan. Keberatan penumpang soalnya. Bapak kan paling besar badannya, jadi diminta turun dulu. nanti naik lagi kok.”

Saya tertohok. Malu. Muka saya merah padam. Pelan-pelan saya turun. Tapi, benar. Setelah saya turun bemo itu berjalan lagi. Alhasil, saya mesti berlari-lari kecil di belakang bemo itu agar saya dapat naik lagi saat bemo itu sudah berada di jalan yang rata. Tentu, dengan disaksikan para penumpang lain yang terkekeh menahan ketawa.

Sepanjang jalan saya nggrundel abis. Mengutuk dalam hati. Sialan! Saya jengkel karena saya diminta lungsur alias turun. Saya kecewa karena saya didakwa menjadi penyebab mogoknya bemo. Saya marah karena saya harus rela kehilangan kursi yang saya duduki meski hanya untuk sesaat.

Tapi, oihhh! Apa begini ya rasanya kehilangan kursi meski hanya sekadar kursi bemo? Marah! Jengkel! Kecewa! Malu! Sedih! Lha, kalau kursi jabatan atau kekuasaan, bagaimana?

“Ah, mana bisa kursi jabatan atau kekuasaan dibandingkan dengan kursi bemo. Jauh itu!” tegas teman saya ketika saya sudah sampai di rumahnya.* * *

3 Responses

  1. Jaman saya masih ABG ongkos bemonya masih 50 rupiah mas. Dengkul penumpang saling beradu,

    kalau ngetem di pasar Bogor lamaaaa banget, jika cuaca buruk, bemo pun menghilang…karena banjir bisa bikin mesinnya mati…

    Saya mengantar papi saya terakhir kalinya ke RS Salak
    dengan mencarter bemo, pulangnya naik ambulan…
    pukul 10 pagi beliau sesak nafas, obat sesak nafas dari warung tak kuasa menghilangkan rasa sesaknya..
    kata dokter kena serangan jantung.

    Hari itu Sabtu 28 April 2010
    Saya bilang ke papi saya : “Pi, kita naik bemo ke RS Salak. Beliau bilang : “Duh naik bemo lagi, sambil sesekali mami menyeka keringat dinginnya yang bercucuran dengan sebuah handuk kecil.

    Pukul 10 pagi kami papi masuk (ICU) ruang gawat darurat
    setengah jam kemudian setelah saya membeli infus,
    mami dipanggil pak dokter. Beliau bilang : “Bu, suami ibu nggak bisa ditolong lagi…”

    Itulah kepingan kenangan saya dengan bemo Mas Sigit…

    • 28 April 2010? Gak salah Bob? Ikut berduka!
      Ya, begitulah…. Setiap orang punya kenangan terhadap bemo di kota Bogor. Kenangan yg tak bisa kembali he..he..

      • Maksudnya 28 April 2001…nggak bisa diralat ya Mas? maaf salah ketik, terlalu terhanyut dengan cerita tentang bemo…jadi lupa diperiksa kembali tanggalnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: