KAMIYATUN: “”Hidup Itu…Ya, Biasa Saja!”

Mbak Mamiek yang tak mau difoto dari depan sedang melayani dua pelanggan "setianya"

Pukul dua dinihari ia sudah bangun dari tempat tidurnya. Sendirian. Tanpa siapa-siapa. Saat malam mulai beranjak pagi itu ia hanya sempat melihat suami dan dua buah hatinya masih terlelap dalam mimpi pada sebuah rumah kontrakan berukuran tak lebih dari 6 x 8 meter. Mungkin asyik! Mengasyikkan! Mungkin Indah! Memabukkan!

”Hidup itu tidak indah, tidak juga buruk. Hidup ya biasa saja!”

Kamiyatun (35) mengucapkan itu dalam nada yang sungguh biasa. Amat biasa malah. Tidak getir, apalagi riang. Benar! Sangat biasa. Namun, nada biasa itulah yang mengantarkan dirinya pada sikap pasrah terhadap hidup. Khas orang Jawa.

Urip niku mung mampir ngombe.” (Hidup itu hanya sekadar numpang minum).

Ia lalu menghilang dalam gulita jalanan. Di tengah pasar ia berkumpul dengan ratusan orang. Tumplek dalam kesibukan masing-masing. Mulanya ia tidak kenal mereka. Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, ia semakin mengenal mereka semua. Akhirnya, jam dua dinihari menjadi awal dari perkenalan. Kini semua ibarat sebuah keluarga.

Di pasar ia mencari bekal perlengkapan untuk jualannya. Jahe, kencur, kunir, beras kencur, dan sebagainya. Ya, Kamiyatun atau biasa dipanggil Mbak Mamik memang hanya seorang penjual jamu gendong. Hanya? Oh, Mbak Mamik tidak mengenal terminologi kata ”hanya”. Sebab kata ”hanya” tidak lebih sebagai sekadar penegasian terhadap status dirinya. Padahal, ia bisa hidup dari menjual jamu gendong.

”Jualan jamu itu hidup saya. Dari sini saya mampu membantu suami. Lumayan kalau suami lagi nganggur, dapur tetap bisa ngebul. Kalau suami kerja lagi, maka dapur tambah ngebul lagi, ” katanya sambil tersenyum.

Ah, Mbak Mamik memang Jawa tulen. Asli Wonogiri, Jawa Tengah. Bukan campuran dari suku bangsa lain. Maka ia tidak pernah mengeluh sekalipun sang suami kerjanya serabutan. Kadang menjadi kuli bangunan, kadang tukang kayu, bahkan kerap tidak bekerja. Ia tidak pernah menyesal karena hidup memang bukan untuk disesali.

”Wah, kalau saya menyesal, kasihan suami dan anak-anak. Wong Gusti Allah saja nggak pernah menyesal kok,” tutur Mbak Mamik lagi-lagi dengan senyumnya.

Maka di pagi hari ia sudah berkeliling menjajakan jamu gendongnya yang hanya bermodalkan uang limapuluh ribu rupiah. Di kompleks perumahan ia menemui pelanggan dan pembelinya. Jam sepuluh pagi ia sudah balik lagi ke rumah dengan laba yang tidak lebih dari duapuluhlima ribu rupiah.

”Jamu…! Jamu….! Jamu…..!” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: