MAGI KATA DALAM “IDEOLOGI” WORLD CUP 2010

Setiap kata mengandung sesuatu yang unik, aneh, dan seringkali misterius. Semua orang percaya itu. Kata hantu mungkin lebih membuat bulu kuduk kita merinding dibanding setan, jin, atau iblis. Tapi, kata setan justru lebih keras dan tajam bila diucapkan sebagai umpatan tinimbang hantu atau malah jin.

“Sssst…rumah itu ada hantunya lho!”

Setan!!! Dasar orang tak tahu diri!”

Perhelatan akbar semacam World Cup 2010 tak lepas dari magi kata. Kata dibuat bebas dan bahkan dibiarkan berjumpalitan. Akrobat kata seolah beriringan dengan semangat dan kolektivitas, sportivitas dan keindahan yang terjadi di dalam lapangan hijau. Para pemain bertanding, sang kuli disket pun menuliskannya.

Tersebutlah kata-kata seperti ini; mengalahkan, menggulung, memenangi, menghantam, melibas, menggempur, menghajar, memukul, menyikat, menghancurkan, menumpas, menggilas, merubuhkan, menaklukkan, menerjang, menampar, menggempur, menyikut, menghabisi, melumat, memangkas, menekuk, mencukur.

Peristiwa sepak bola yang tertulis di atas medium kertas bukan lagi merupakan realitas olah raga semata. Kekalahan dan kemenangan lebih dari dua sisi mata uang yang saling bergantian muncul. Ia serupa seni yang melahirkan banyak nilai pada jiwa manusia. Kekalahan mesti dibungkus dengan tangis dan duka, kemenangan harus dibalur dengan senyum dan cita. Tanpa itu semua, jiwa manusia seperti nirnuansa.

“Jerman mengalahkan Australia 4-0” tidaklah cukup sebagai berita semata. Pernyataan itu hambar untuk disajikan dan dinikmati oleh para pecandu bola di seluruh dunia. Sang pendukung Jerman jauh dari gempita, sang penyokong Australia jauh dari lara. Kemenangan Jerman dan kekalahan Australia mestilah mengikat rasa dan makna bagi kedua pendukungnya. Sang pemenang jauh tinggi melangit, si pecundang terhunjam deras di dasar tanah.

Namun, bisa juga sebaliknya. Sang pemenang dipandang biasa, sang pecundang malah dipuji setinggi langit. Kemenangan bukanlah obat yang mampu menyembuhkan karena seseorang sesungguhnya berada pada pihak pecundang. Ia tak rela kemenangan tim lawan menjadi pesta pora yang menghina dina dirinya. Cukuplah menang. Titik. Tidak lebih dan tidak kurang. Kekalahan tidak ingin menjadi sesuatu yang menyakitkan hatinya, meski hanya sekadar pendukung.

Jerman Melumat Habis Australia, 4-0. Pasukan Jerman Menggulung Pasukan Australia, 4-0. Gempur Australia, Jerman Unggul Telak. Socceros ditumpas Der Panser. Kangguru Menangis Diseruduk Mercy 4-0. Gilas Australia, Jerman Pimpin Grup 4 Kualifikasi. Jerman Menggempur, Australia Tergusur.

Meski Kalah 0-4, Australia Kobarkan Semangat Kangguru. Australia Tak Kenal Menyerah Meski Kalah di Tangan Raksasa Jerman. Jerman Pantas Menang, Australia Menangguk Pujian. Australi Harus Belajar dari Jerman. Australia Pantang Mundur Meski Tergusur, 0-4.

Katarsis? Entahlah. Maka jiwa-jiwa kita lepas dan bebas dari ketegangan menuju penyucian diri. Penyucian diri? Mungkin. Karena gairah menikmati sepak bola tidak beda dengan lepasnya katup pengikat pada otot-otot syaraf sehingga menjadi lembut dan lempeng. Ketegangan, kekerasan berubah menjadi kehalusan, kelembutan.

Tapi, jangan heran jika kita menemukan bahwa pada tim sepak bola dunia sebenarnya tersembul semangat pasukan menuju perang dalam pengertian yang sebenarnya. Mereka tegang, kita pun tegang. Lapangan menjadi arena pertempuran dengan segala kekuatan dan “senjata” yang mereka miliki. Setiap tim berusaha menampilkan kekhasan sesuai dengan julukan yang mereka titahkan.

Jepang dikenal sebagai The Samurai Blue karena para punggawa sepak bola Jepang bak para ninja memanggul samurai berwarna biru yang siap memenggal kepala musuh. Kesebelasan Nigeria berjuluk Super Eagles yang punya misi khusus mematuk kepala lawan sehingga kemenangan ada di tangan. Inggris tak cukup dengan satu singa, melainkan Tiga Singa yang diyakini mampu menjungkalkan setiap “binatang” yang bertarung di lapangan rumput.

Pasukan Denmark bertitel Dinamit yang menghancurkan lawan tanpa kenal ampun. Brazil bangga dengan Selecao yang membuktikan bahwa mereka senantiasa tak pernah kehilangan bakat-bakat bola pada setiap zaman. Jerman lebih suka dengan Der Panzer yang melumat musuh tanpa kenal istilah mundur.

Maka lapangan sepak bola berubah menjadi pergelaran spirit atas nama simbol bangsa, budaya masyarakat, dan bahkan ideologi negara. Korea Utara yang komunis datang dengan permainan yang disiplin, rapat, dan tertutup. Amerika Serikat yang liberal muncul dengan permainan yang bebas, terbuka, dan lepas. Italia yang susah lepas dari gaya “fasis” Mussolini tak lengkap tanpa pertahanan yang kuat dan tak kenal kompromi. Sepak bola seolah menjadi cermin kultur sebuah bangsa.

Tapi, ah, jadi rindu dengan sepak bola Pancasila!!! Seperti apa ya??? * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: