MANG INANG: “Bersetubuh dengan Bumi”

Ia mudah sekali dikenali. Tubuhnya kuat dengan otot-otot yang seolah

Mang Inang, sepanjang usianya tak kenal sepatu atau sandal

melepuh. Jarang sekali ia didera sakit pada usia yang mendekati 70 tahun. Badannya kokoh untuk menolak segala penyakit masa kini; stroke, asam urat, atau yang lainnya. Paling-paling keluhan yang kerap terdengar adalah kelelahan.

Mang Inang. Warga sangat tahu dengan penampilannya yang khas. Nyeker! Tak pernah kedua kakinya terlindungi sandal, apalagi sepatu. Ke mana-mana telapak kakinya senantiasa ”bersetubuh” dengan bumi.

”Puluhan tahun saya seperti ini. Tidak pernah berubah. Ke mana-mana selalu nyeker. Alhamdulillah saya tak pernah sakit. Penyakit mungkin malas mendekati saya yang seperti ini, ”terangnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Musuh Mang Inang yang paling dibencinya adalah paku. Besi kecil lancip nan tajam itu susah sekali untuk dikalahkannya. Ia melawan paku hanya dengan kehati-hatian. Meski demikian, tidak terhitung lagi berapa paku yang pernah menancap di telapak kakinya.

Mang Inang seorang pedagang pisang kelililing. Dengan gerobaknya yang sudah mulai dimakan usia setiap hari ia menjajakan pisangnya. Pagi hari ia memulai dan di siang hari ia sudah balik ke rumah. Selalu habis?

”Alhamdulillah… Berapapun pisang yang saya bawa selalu habis,” tandasnya.

Tapi, Mang Inang bukan manusia tanpa keluhan. Wajarnya seorang manusia ia punya persoalan. Bukan pada tubuhnya karena tubuhnya seolah kebal dengan masalah. Mang Inang punya persoalan pada rumahnya.

”Rumah saya banyak yang menawar. Setiap waktu orang pada datang. Merayu agar rumah saya dijual. Lha kalau saya jual, saya terus tinggal di mana….” katanya seperti mengeluh.

Bisa dimaklumi rumah Mang Inang memang strategis. Rumahnya hanya beberapa jengkal dari kompleks perumahan. Bahkan rumahnya seperti menyatu dengan perumahan. Sekitar 200 meter persegi luasnya. Di rumah itu Mang Inang tinggal dengan istri dan seorang anaknya. Dua anak yang lain sudah memisahkan diri.

Mang Inang ingin menghabiskan sisa usianya di rumah itu. Rumah peninggalan orang tuanya yang tidak tergusur oleh pembangunan kompleks perumahan. Tapi, bagaimana kalau orang tetap datang menawarnya?

”Ah, kaki saya sudah tidak seperti dulu. Kalau masih kuat seperti dulu rumah itu akan saya jual biar saya bisa bebas berjalan ke mana saja, ” tuturnya diakhiri dengan tawanya yang lebar. Lho…. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: