JANGAN TAKUT SAMA AMERIKA!

Robert Gates muncul di Jakarta tidak tanpa pesan! Menteri Pertahanan AS itu datang baru-baru ini (Kompas, 25/7) dengan satu pesan tunggal. Peningkatan hubungan bilateral RI-AS di segala bidang hanya mungkin terjadi bila syarat utama telah terpenuhi. Apa syarat utama yang dikehendaki AS dari negeri kita?

Kata Gates, perbaikan hak asasi manusia (HAM) dan reformasi di lingkaran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tanpa kedua syarat itu, AS ogah menjalin hubungan bilateral yang layak dengan negeri kita, apalagi sampai memberikan “sesuatu” yang berharga.

Lucu? Kok gitu ya? Hubungan setara antar dua negara mesti dipersyaratkan. Tapi, adakah kita punya nyali untuk berani menentang tekanan AS di sini, di negeri sendiri? Jawabnya, TIDAK! Bahkan hingga kini!

Pemerintah RI sepertinya lebih mudah mengangguk kepada negeri Paman Sam itu dibanding mengangguk kepada kehendak rakyat, pemilik sah negeri ini. Pemerintah takut sebab kalau dimusuhi AS, bantuan ekonomi, keuangan, pendidikan, atau militer bisa-bisa diembargo. Dalam kepala elit politik kita, sulit bagi RI membangun kekuatan sosio-politik-ekonominya tanpa AS. Negeri Obama itu adalah sebuah keniscayaan bagi keberadaan negeri kita.

Kita mafhum, sistem politik dunia kini tidak lagi bipolar. Sejak Uni Soviet hancur, AS sudah menjadi penguasa tunggal dunia. Semua negara tak ada yang berani menentang AS. Ibarat orkestra, AS adalah konduktornya. Semua dipaksa memainkan musik yang dimainkan sang konduktor. Maka AS bebas menjalankan politik luar negerinya seiring dengan kepentingan di dalam negerinya.

Bila sebuah negara berani menentang AS, bersiap-siaplah menerima hukumannya. Dikucilkan atau dimusuhi, diberi sanksi atau malah diperangi. Irak dan Afghanistan telah menjadi korbannya. AS dapat melakukan manuver politik apa saja tanpa takut mendapatkan perlawanan dari negara lain.

Di era bipolar, keadaan seperti di atas tidak mungkin terjadi. Negara-negara berkembang efektif memainkan peran politiknya karena situasi Perang Dingin (Mas’oed, 2003). Bahkan mereka dikesankan mampu “mempermainkan” negara adidaya. Di era itu, bila suatu negara mendapat ancaman dari salah satu negara adidaya -AS atau Uni Soviet-, maka negara yang terancam itu akan mendekat ke salah satu negara adidaya.

Akibatnya, negara adidaya yang mengancam tidak akan berani berbuat macam-macam. Intervensi negara adidaya terhadap negara lain susah terwujud (kecuali mungkin di Afganistan semasa dipimpin Presiden Babrak Karmal!) karena mereka sendiri khawatir terjadi perang yang lebih besar. Bukankah AS dan Uni Soviet -sekalipun memiliki nuklir- tidak pernah berlaga di medan tempur yang sesungguhnya karena dihinggapi rasa takut antara yang satu dan yang lain?

Jadi, benar bahwa rasa takut sebenarnya adalah persoalan psikologis. Jika takut adalah masalah psikologis, maka berani sejatinya juga psikologis. Dalam logika politik awam, tidak sulit untuk menghindari rasa takut terhadap AS. Cukup memompa keberanian yang penuh sehingga kita bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Bukankah kita diwirisi darah para pahlawan pemberani yang lahir dari seantero tanah di bumi Nusantara? Bukankah kita memiliki kekayaan alam berupa pertambangan, minyak, gas, tembaga, dan lainnya yang susah ditandingi negeri-negeri lain? Bukankah kita memiliki modal sosial, yakni jumlah penduduk yang besar yang hampir mencapai 300 juta? Bukankah ratusan perusahaan AS yang bergerak di berbagai macam sektor di negeri kita ini menggantungkan hidupnya dari “kebaikan” hati kita?

Maka tentu, semua itu, idealnya menjadi modal berharga saat kita berhadapan dengan AS. Namun, sebelum memompa keberanian terhadap AS, sebaiknya kita lebih dulu belajar berani dalam hal-hal berikut. Pertama, berani dalam menangkap dan menghukum para koruptor yang terbukti menghancurkan kekayaan negara. Kedua, berani dalam penyelesaian masalah sosio-politik, seperti lumpur Lapindo, ledakan gas, atau ilegal logging. Ketiga, berani dalam menghadapi Malaysia yang bertindak semena-mena terhadap TKI; Singapura yang melindungi para pengemplang BLBI dan mengeruk lumput laut; Australia yang menumpahkan minyak mentah di Laut Timor.

Andai itu semua sudah dilakukan, maka bolehlah kita berharap negeri kita tidak takut lagi dengan AS! Apa bisa? Pasti Bisa!!! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: