NEGERI JARKONIS

Jarkoni? Orang Jawa pasti amat mengenal kata itu. Jarkoni adalah sebuah kata berbentuk kerata basa yang merupakan kepanjangan dari iso ngajar, nanging ora iso nglakoni alias cakap berbicara, tetapi tidak cakap dalam bertindak. Sebutan jarkoni ditimpakan kepada orang yang gemar berbicara tentang suatu masalah dan bahkan terlihat sangat menguasai, tetapi sejatinya ia gagal membuktikannya. Dalam bahasa pergaulan anak sekarang, jarkoni sebangun dengan omdo atawa omong doang dan NATO atawa No Action Talk Only.

Karena kontradiksi antara ucapan dan tindakan dari -sebut saja para jarkonis- itu, kehadiran mereka tentu menjengkelkan. Ia fasih berbicara dalam waktu yang lama hingga mulutnya berbusa-busa, tetapi saat diminta menunjukkan bukti atas apa yang dibicarakannya itu, ia menggelengkan kepala sebagai tanda tidak mampu. Kebiasaan jarkonis hanya ada dua; menyalahkan dan menggurui. Menyalahkan menjadi bukti bahwa dia merasa paling benar, menggurui adalah pertanda bahwa dirinya merasa sebagai sang empunya tunggal suatu pengetahuan.

Para jarkonis melekat dalam kehidupan kita. Baik di lingkungan rumah maupun luar rumah, kita tak bisa lepas dari orang-orang seperti itu. Ironisnya, mereka bisa leluasa masuk menyelusup ke dalam segala aspek kehidupan kita. Aspek politik, hukum, sosial, bahkan olah raga menjadi rambahannya. Melalui medium kotak ajaib bernama televisi, pada momen-momen yang dianggap penting, para jarkonis berbicara seolah-olah mereka adalah manusia yang paling tahu. Bahkan dalam bayangan jarkonis, tidak sempurna sebuah acara di televisi tanpa kehadirannya.

Pada momen-momen politik penting, seperti pemilihan presiden (pilpres), para jarkonis muncul dengan jurus paparan yang melambung tinggi agar terkesan canggih. Semakin susah publik memahami ucapannya, semakin canggih pula kadar intelektualitasnya. Gagasan-gagasan penting nan ilmiah sengaja dihadirkan supaya basis intelektual mereka mendapat legitimasi dari publik pemirsa. Pada tataran inilah para jarkonis merasakan bahwa dirinya lebih besar dari mereka yang tidak pernah tampil di televisi.

Para jarkonis politik tidak peduli seandainyapun publik pemirsa televisi merasa tidak memperoleh apa-apa dari setiap kehadirannya. Hal yang penting bagi dirinya adalah menunjukkan kemampuan berbicara di depan publik sebanyak-banyaknya. Ia bahkan berusaha untuk selalu mengabaikan jika gagasan dan argumentasinya itu tak lebih dari -meminjam istilah Amien Rais (2008)- sekadar memindahkan gagasan dan argumentasi masyarakat borjuis di Barat yang belum tentu sesuai dengan masyarakat Indonesia, apalagi mampu memecahkannya.

Pada kasus mafia hukum, para jarkonis datang dengan berbagai gagasan, dalih dan malah kepentingan. Ia berucap dan berargumentasi bak pendekar hukum yang suci, bersih, dan jauh dari kotoran. Kekotoran hukum menjadi milik aparat hukum semata, bukan dirinya. Para jarkonis itu seolah sengaja melupakan bahwa elemen hukum menyangkut sebuah sistem yang berputar dan melibatkan segala macam tabiat, tingkah polah, dan kultur yang melembaga.

Prinsip para jarkonis hukum itu pendek, sependek nalarnya. Sepanjang masalah hukum tidak menyinggung integritas dan kepentingan dirinya, maka ia bebas berpendapat, berdiskusi, dan berdebat, tanpa rasa malu. Andaipun banyak orang mentertawakan, ia tidak peduli karena ada kalanya ia pun mentertawakan orang lain. Maka benar jika ada sementara orang yang menilai para jarkonis hukum sebagai berkepala tanpa otak, bertubuh tanpa hati.

Piala Dunia 2010? Sama saja! Piala Dunia 2010 juga tak jauh dari para jarkonis sepak bola. Mereka membahas tim-tim yang bertanding dengan segala macam ulasannya, bahkan termasuk ramalan skor pertandingan. Karena itu, kedudukan mereka tidak bisa dibedakan antara analisis, pengamat, atau peramal. Semua sah saja sebab dianggapnya para pemirsa televisi di rumah tidak pernah membaca segala macam analisis, opini, dan ramalan sepak bola.

Jika merasa tidak sepaham dengan permainan yang ditampilkan sebuah tim, para jarkonis sepak bola tak ragu menyalahkan pemain atau pelatih tim tersebut. Tak cukup dengan itu, mereka malah menyalahkan tradisi sepak bola yang telah lama dianut oleh tim-tim itu. Italia disebutnya tidak menarik karena dekat dengan pertahanan sistem grendel atau cattenacio. Inggris dijuluki sepak bola ketinggalan zaman karena model kick and rush. Belanda terlalu pongah sebab memburu total football, tanpa ambisi menang.

Para jarkonis terbukti melanda segala aspek kehidupan kita, tanpa mampu kita cegah apalagi usir. Mulut mereka menyerbu pintu-pintu telinga dan hati kita kadang tanpa kita sadari. Saya percaya, ucapan para jarkonis tak lebih dari sampah yang mesti dibuang atau dibakar sebab jauh dari manfaat. Namun, saya juga percaya bahwa sindrom jarkonis bisa diidap siapa saja. Penguasa, pengusaha, pejabat, politisi, jendral, intelektual, wartawan, guru, birokrat, aktivis, mahasiswa, atau artis; pokoknya siapa saja.

Meski demikian, saya yakin para jarkonis itu tidak semata adalah mereka. Kita, kami, kamu, bahkan saya kemungkinan juga terinfeksi sindrom jarkonis. Sindrom jarkonis diidap oleh siapa saja yang di dalam hatinya tertimbun perasaan paling tahu, paling paham, paling pintar, paling menguasai segalanya, tetapi tak kuasa menunjukkan atau membuktikan atas apa yang diucapkannya itu.

Kalau begitu, bagaimana mungkin bangsa tercinta ini dapat maju bila mereka, kita, kami, kamu, dan saya hanyalah sebatas rakyat yang bertipe jarkoni alias iso ngajar, nanging ora iso nglakoni?***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: