BAMBU RUNCING ASALNYA DARI JEPANG?

Pada buku-buku pelajaran yang diajarkan di sekolah, seperti buku PKn, IPS, atau Sejarah, ada hal yang menarik. Ilustrasi yang ditampilkan dalam tema perang kemerdekaan selalu menampilkan para pejuang kemerdekaan bersenjatakan bambu runcing. Bambu runcing seolah menjadi simbol senjata bagi perlawanan rakyat menentang penjajah, bukan keris, rencong, clurit, golok, atau senjata lainnya.

Sejarah mencatat, bambu runcing lekat dengan perlawanan rakyat di masa perang kemerdekaan. Di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 25 Februari 1944 ratusan santri yang dipimpin KH. Zaenal Mustofa melakukan perlawanan terhadap Jepang dengan menggunakan bambu runcing. Mereka terlibat pertempuran jarak dekat dengan militer Jepang yang bersenjatakan senapan mesin, pistol, dan granat.

Di Temanggung, Jawa Tengah, muncul ”Barisan Bambu Runcing” atau ”Barisan Muslimin Temanggung” yang melakukan perlawanan terhadap tentara NICA dan Sekutu. Kelompok yang dipimpin Kiai Subkhi ini secara khusus menggunakan bambu runcing sebagai senjatanya. Bambu runcing yang digunakan bukan bambu runcing sembarangan, melainkan bambu runcing yang ”diisi” sehingga para pemegangnya memiliki kekebalan tubuh.

* * *

Bambu runcing bermakna bambu yang diruncingkan ujungnya dan dipakai sebagai senjata dalam perang di kala merebut kemerdekaan. Bambu runcing dapat disebut sebagai senjata yang berkarakter ”seadanya” karena memang tidak sulit membuatnya. Cukup diambil sebilah bambu, dipotong, dan diruncingkan ujungnya, maka jadilah bambu runcing yang langsung bisa dimanfaatkan sebagai senjata.

Sepengetahuan penulis belum ada literatur sejarah yang cukup komprehensif mengungkapkan; kapan, di mana, bagaimana, dan siapa yang memulai perlawanan bersenjatakan bambu runcing. Kalaupun ada kisah yang mengungkapkan kemunculan bambu runcing, hal itu masih perlu diperdebatkan kebenarannya. Seperti halnya cerita yang menerangkan bahwa penggunaan bambu runcing sebagai senjata bermula dari ”kecerdasan” Belanda saat menghadapi Jepang.

Konon, ketika mengetahui Jepang hendak masuk dan menguasai pulau Jawa sebagai bagian dari strategi Perang Pasifik (1942-1945), Belanda menyiapkan puluhan ribu bambu runcing di wilayah Kalijati. Harapan Belanda saat pasukan payung Jepang mendarat, mereka akan tewas di ujung barisan bambu runcing yang sudah tertancap di tanah. Sayang, usaha Belanda gagal karena Jepang tidak mendarat di Kalijati, tapi di Laut Eretan, dekat Subang. Sejak peristiwa itu bangsa Indonesia tahu, sebilah bambu dapat dijadikan sebagai senjata yang mematikan.

Kendati demikian, tidak sedikit sejarawan yang percaya bahwa Jepanglah yang lebih dahulu mengenalkan bambu runcing sebagai senjata kepada bangsa Indonesia. Bagi Jepang, bambu yang diruncingkan dan dibuat sebagai senjata merupakan hal biasa dan bahkan sudah menjadi tradisi. Bangsa Jepang menyebutnya sebagai takeyari. Namun, takeyari, tidak bisa dibuat dari bambu sembarangan, seperti bambu-bambu yang dikenal umumnya.

Takeyari dibuat dari bambu yang berwarna kuning. Bambu jenis ini memang lebih kecil dari bambu yang jamak kita temukan yang biasanya berwarna hijau atau coklat kehitam-hitaman. Tetapi, bambu kuning lebih memiliki kekuatan dibanding bambu-bambu di atas tadi. Bambu kuning lebih keras, kokoh, dan tidak mudah lapuk. Agaknya, hal inilah yang menjadikan Jepang memanfaatkan takeyari sebagai senjata hingga akhirnya bangsa Indonesia mengenalnya.

* * *

Bambu runcing sebagai senjata tajam nan mematikan muncul seiring dengan kehadiran militer Jepang saat menduduki wilayah di tanah air. Pasukan Jepang mulai mengenalkan bambu runcing dalam pelatihan-pelatihan militer. Melalui organisasi militer dan semi milter, seperti Peta, Heiho, Keibodan, dan Seinendan, Jepang menggunakan bambu runcing sebagai medium peragaan bersenjata, baik perang-perangan, seni bela diri, atau latihan baris-berbaris.

Namun, bukan persoalan militer yang menjadi faktor utama sehingga bambu runcing dikenal sebagai senjata. Kehadiran pasukan militer Jepang yang merasuk ke dalam denyut kehidupan bangsa Indonesia niscaya membuatnya berubah. Sistem nilai yang dibawa Jepang cepat masuk karena bangsa Indonesia dipaksa menerimanya sebagai konsekuensi dari sebuah bangsa yang sedang dijajah.

Di antara sekian banyak perubahan sosial yang paling menonjol adalah hadirnya perubahan di lingkungan masyarakat desa. Tidak seperti masa penjajahan Belanda yang membiarkan masyarakat pedesaan mengatur dirinya sendiri, pendudukan Jepang berbeda sekali. Seperti digambarkan Aiko Kurasawa-Shiraishi, pendudukan Jepang menjadikan organisasi-organisasi pedesaan langsung dihubungkan dengan dunia luar dalam pengertian politik, militer, ekonomi, dan spiritual.    

Dalam konteks ini sedikit dapat diimpulkan jawaban dari pertanyaan kenapa bambu yang merupakan tanaman khas masyarakat di desa kemudian dimanfaatkan sebagai senjata dalam perlawanan rakyat. Hal ini disebabkan pihak militer Jepang telah mempraktikkan kebijakan mobilisasi massa terhadap masyarakat pedesaan sehingga masyarakat di desa menyadari pentingnya informasi, kesempatan mendapatkan pendidikan, dan kehidupan berorganisasi.

Keberadaan bambu runcing dimanfaatkan karena ia memang mudah didapatkan di desa. Di belakang dan depan rumah, atau di kebun, masyarakat tak pernah melewatkan pohon bambu. Bahkan bambu juga dijadikan sebagai perlengkapan dalam pembuatan rumah. Jepang tidak peduli bahwa bambu berjenis takeyari yang kuning dan kokoh susah ditemukan.

Bagi Jepang, hal yang penting adalah mengajarkan pembuatan bambu sebagai senjata yang sepadan dengan pedang, golok, atau keris sehingga masyarakat dapat dimobilisasi. Hanya Jepang mungkin tidak menyadari bahwa perlawanan rakyat yang sporadis mengharuskan rakyat Indonesia membawa bambu runcing untuk melawan dirinya. * * *

One Response

  1. Sejarah

    Pencetus gerakan perjuangan dengan senjata bambu runcing, dalam pengertian sebagai senjata perjuangan yang bersifat massal dan nasional, sampai saat ini memang belumlah sangat jelas. Senjata Bambu Runcing pernah di pakai latihan ketentaraan Seinendan pada zaman Jepang. Tetapi khusus penggunaan senjata Bambu Runcing dengan doa, pengisian tenaga dalam, memang hal ini secara tegas dapat dikatakan, di mulai dai Parakan, Temanggung. Siapa para kiai yang terlibat ada beragam pandangan. Namun semua mengerucut kepada tokoh penting di Parakan yakni K.H. Subkhi (Subuki) dan K.H.R Sumo Gunardo, dan para kiai lain di Parakan dan Temanggung seperti K.H. M Ali (pengasuh pesantren tertua di Parakan), K.H. Abdurrahman, K.H. Nawawi, K.H. Istakhori dan kelanjutannya juga KH. Mandzur dari Temanggung dan berbagai kiai di NU Temangggung, khususnya MWC Parakan.
    Senjata Bambu Runcing di gunakan sebagai alat perjuangan, berangkat dari ketiadaan, kekurangan peralatan perang yang tersedia, sementara perjuangan harus di lajutkan terutama setelah Indonesia meredeka. Musuh Indonesia setelah proklamasi menjadi sangat banyak dan dengan kekuatan besar, Jepang yang masih bercokol, Belanda yang ingin menguasai lagi dan Sekutu yang juga akan menjajah menggantikan Jepang dan Belanda. Maka praktis, keperluan persenjataan yang di butuhkan. Bambu Runcing dan peralatan tradisional lain menjadi alternatif, murah dan bisa bersiaft massal. Kekuatan doa menjadi faktor utama kekuatan alat-alat tradisional tersebut.
    Ternyata dalam realitas sejarah, perjuangan dengan menggunakan senjata bambu runcing, terjadi pada hampir semua medan perang. Lasykar-lasykar rakyat BKR, AMRI, Hizbullah, Sabilillah dan sebagainya yang terlibat pada pertempuran di berbagai peristiwa, menggunakan senjata Bambu Runcing sebagai senjata utama, sebelum mereka mampu merebut senjata musuh.
    Peninggalan-peninggalan sejarah Bambu Runcing khusus yang berhubungan dengan Bambu Runcing Parakan bisa di lacak ke tempat, atau para kiai yang pernah terlibat dalam berbagai peristiwa Bambu Runcing. Sampai sekarang Rumah KH. Subkhi masih berdiri dan berbagai peninggalannya, Rumah KH. R Sumo Gunardo masih adan juga beberapa peninggalanya, ada yang di Museum Monjali (Monumen Jogja Kembali), Pondok Pesantren KH. M. Ali sampai sekarang masih berdiri dan terus berkembang. Bekas kantor BMT dan pusat penyepuhan walaupun telah berubah, namun jejak-jejaknya masih ada. Dan khusus sumur yang sering di ambil airnya untuk penyepuhan Bambu Runcing juga masih ada. Khusus di Temanggung bahkan tempat Kiai Mandzur di kenal dengan Mujahidin, samapi sekarang menjadi pusat kegiatan Tarekat.
    Perjuangan bersenjata yang melibatkan senjata Bambu Runcing oleh berbagai lasykar rakyat dalam perjuangan kemerdekaan sangat jelas dan nyata. Bahkan selama masa setelah Proklamasi Kemerdekaan dengan musuh utama Jepang, Belanda dan Sekutu, di mana pada saat itu bangsa Indonesia belum memiliki cukup senjata, maka Bambu Runcing menjadi senjata massal rakyat Indonesia. Kepemlikan senjata modern oleh rakyat, setelah mampu merebut dari senjata musuh terutama dari Jepang yang telah menyerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: