ACHMAD DJUWAHIR; Politik yang Tak Juga Mengubahnya

Achmad Djuwahir atau Pak Dju

Ia masih seperti dulu. Tak berubah. Keras, lantang, dan meledak-ledak.  Bahkan dunia politik yang terkesan luwes dan penuh basa-basi tak mampu mengubahnya. Meski usianya sudah mulai meninggalkan kepala tujuh. Ia tetap dengan karakternya yang khas, yang pernah saya kenal sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri III Krandegan, Banjarnegara.

Achmad Djuwahir atau Pak Dju demikian ia biasa dipanggil oleh kolega atau anak-anak didiknya. Saya menemuinya dalam kesempatan hari raya Lebaran (Senin, 13/9/10) setelah -entah- berapa tahun saya tak pernah bertemu, atau bahkan sekadar menyapanya. Sekolah, pekerjaan, dan jarak membuat saya seperti melupakan. Dalih yang semestinya tidak boleh dikenakan terhadap orang-orang yang menjunjung tinggi nilai silaturahim. Sebab, selalu ada kerinduan, penghargaan, dan kehormatan saat kita bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi.

Kaget, berteriak kegirangan, dan merangkul penuh keakraban. Itu reaksi pertama Pak Dju saat bertemu dengan saya. Malam itu. Sungguh! Saya senang karena Pak Dju masih mengenal saya dan tidak pangling dengan saya. Saya? Kebangetan kalau saya tidak lagi mengenalnya. Saya tetap tidak pangling dengan tubuhnya yang tinggi besar, gagah, dan berkulit sedikit gelap, kecuali -mungkin- barisan giginya yang mulai tanggal satu demi satu.

Namun, bagaimanapun juga, ia tetaplah Pak Dju; guru, orang tua, dan -mungkin- sahabat. Maka pertemuan kami adalah pertemuan yang menggagas dan menebarkan sebuah kerinduan yang akut. Di tangan Pak Dju waktu terasa bergulir sangat cepat dan seakan tak terasa. Politik, Muhammadiyah, dan budaya menjadi menu utama percakapan yang berlangsung tidak seimbang. Tidak seimbang?

Benar. Ya, benar. Karena Pak Dju secara terus terang meminta saya berperan layaknya pendengar setia. Tak apa, saya memang berniat menggali kedalaman ilmu dan hatinya yang penuh sungguh. Tak apa, karena saya menjadi paham bahwa kelugasan lisan, kejujuran benak, dan kebersihan hati tak selamanya mampu bergaul secara rapat dengan dunia politik kita yang jauh dari santun dan tertib.

“I am not a politician. I am a teacher,” tegas Pak Dju dalam bahasa Inggris yang memang dikuasainya secara fasih.

Jiwa dan nurani Pak Dju adalah guru. Pendidik. Maka gedung DPRD II Kab. Banjarnegara tak ubahnya sebuah ruang kelas yang sarat dengan ujaran moral dan nilai ketika dia berbicara. Pak Dju tak merasa sungkan dengan itu. Bahkan pada sebuah sidang, ia tak ragu “memarahi” bupati dan wakil bupati kala itu yang terus berselisih paham tanpa kunjung selesai dalam penanganan masalah di daerah Banjarnegara.

“Mereka adik-adik saya”, begitu Pak Dju memberi perumpamaan terhadap Drs. Djasri dan Drs. Hadi Supeno hingga ia berani menegur keduanya.

Tapi, punyakah ia rasa sungkan untuk menegur M. Amien Rais saat sang lokomotif reformasi 1998 itu menjadi bosnya di PAN? Pak Dju bukannya tak berani, melainkan malah kasihan kepada Mantan Ketua MPR-RI itu. Bagaimana tak kasihan bila Amien Rais mesti datang malam-malam ke rumahnya di Parakancanggah demi mementahkan hati Pak Dju yang pupus setelah ia dikecewakan oleh partai yang justru dirintis pendiriannya di kota tercinta Banjarnegara?

Amien Rais tak sukses merayunya. Pak Dju tetap berketetapan hati untuk mundur dari PAN. Cukup baginya satu periode sebagai Ketua DPD II PAN Banjarnegara dan anggota DPRD Kab. Banjarnegara. Hati dan jiwanya tidak dekat dan lekat dengan politik. Politik tidak memungkinkan dirinya memunculkan karakternya yang asli; berkata benar, lugas, dan apa adanya. Bahkan meskipun lingkup politik yang dimainkannya adalah komunitas ormas Islam modern yang sangat dicintainya, Muhammadiyah.

Budaya dan sastra diyakini lebih menyatu dengan dirinya. Apalagi Pak Dju memang mumpuni dalam dunia tulis-menulis, mencipta lagu, dan bahkan menyanyi. Perlombaan menulis novel ataupun cerpen tingkat Jawa Tengah pernah dimenangkannya di waktu lalu. Cerpennya juga pernah dimuat di beberapa majalah. Tak hanya dalam bahasa Indonesia, karena tulisan Pak Dju juga bisa dinikmati dalam bahasa  Jawa.

Di usianya yang terus merambat, saya terperangah oleh vitalitas hidup dan kreativitasnya yang seolah tak terhentikan. Novel dan cerpennya terus berusaha dicari dan didokumentasikan. Ratusan lagu karyanya tengah dipertimbangkan untuk dikenalkan ke khalayak. Atas desakan teman dan anak-anaknya, suaranya yang terkesan berat setuju untuk direkam meski ia sendiri kadang tak tahu ke mana arah tujuannya.

Saya membatin, adakah di Banjarnegara tokoh yang begitu mumpuni dalam bidang seni dan budaya selain dia? Saya tak tahu. Mungkin ada. Bahkan banyak. Tapi, hingga kini saya belum menemukannya. Atau karena saya tak tahu? Entahlah. Terlepas dari itu semua, sebagai mantan siswa didiknya, saya tak pernah menanggalkan kekaguman terhadap dirinya. Namun, adakah sesuatu yang sudah diberikan Banjarnegara untuk Pak Dju? * * *

2 Responses

  1. hebat lah…

  2. mantaap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: