HIKAYAT KETERGANTUNGAN SEBUAH BANGSA

Ketika kecil saya akrab dengan sumur timba. Bapak membuat sumur timba yang berdiameter dua meter dan memiliki kedalaman sekitar 40 meter. Sumur timba itu terletak di samping belakang rumah kami. Setiap waktu saya atau Bapak berkesempatan mengambil air lewat ember dan tali karet yang tergantung pada sebilah besi yang melintang dari sumur itu untuk berbagai keperluan, seperti minum, memasak, mandi, atau mencuci pakaian.

Kami tidak memanfaatkan sumur timba itu sendirian. Para tetangga dapat ikut mengambil air dari sumur timba milik kami itu. Para tetangga yang tidak memiliki sumur berduyun-duyun datang pada waktu tertentu, seperti pagi, siang, atau sore hari. Mereka bebas mengambil air dalam jumlah yang mereka kehendaki karena kami percaya bahwa air di dalam sumur timba itu tidak bakal habis meskipun dikuras setiap orang pada setiap saat.

Tidak hanya sumur timba yang akrab dengan saya saat kecil. Saya juga berteman karib dengan pawon. Pawon ialah sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang dari rumah kami dan berfungsi sebagai tempat untuk memasak. Di pawon ini Ibu biasanya mengolah makanan mentah agar menjadi matang sehingga dapat dinikmati kami sekeluarga.

Ciri khas ruangan yang disebut pawon terletak pada hadirnya bangunan berupa gundukan kecil memanjang yang terbuat dari tumpukan batu bata atau tanah liat berplester. Melalui lubang-lubang yang dibuat pada gundukan bangunan itu Ibu menyalakan kayu bakar sehingga muncul api yang dimanfaatkan untuk keperluan memasak. Keberadaan pawon dimanfaatkan Ibu pada waktu pagi atau sore hari.

* * *

Sumur timba dan pawon dapat diibaratkan sebagai roh bagi keluarga kami. Sumur timba menyediakan sumber kehidupan yang vital berupa air, sedangkan pawon menyediakan nyala api demi olahan makanan yang layak masuk ke dalam perut kami. Sumur timba dan pawon membuat keberlangsungan kehidupan keluarga kami menjadi tidak terlalu sulit.

Saya percaya, sumur timba dan pawon tidak berfungsi semata-mata menyediakan air dan api. Sebab, sering saya jumpai Ibu atau Bapak bercakap-cakap dengan para tetangga terdekat mengenai sesuatu hal di dekat sumur timba atau pawon. Entah apa yang dibicarakan karena Bapak-Ibu dan tetangga menyelingi setiap pembicaraan itu dengan tawa lepas dan akrab atau serius dan penuh perhatian.

Ketika saya menginjak remaja Bapak ”melenyapkan” sumur timba. Sumur timba itu digantinya dengan sumur pompa. Kata Bapak, biar otot kamu tidak mengeras dan menggumpal. Jujur, saya kecewa dengan Bapak. Sebab di usia remaja, gairah pubertas saya sedang melonjak sehingga yang saya inginkan justru adalah otot yang keras dan menggumpal. Mungkin mirip Rambo, pahlawan perang imajiner AS di layar lebar. Saat itu, hanya sumur timba yang mampu membuat saya seolah Rambo. Gagah, dada bidang, dan otot menggumpal.

Saya tahu, sejatinya Bapak tidak kuasa menahan kesadaran dirinya untuk tidak mau disebut ”ketinggalan zaman”. Karena tak sedikit tetangga yang meninggalkan sumur timba dan beralih ke sumur pompa. Bapak ingin disebut modern seperti para tetangga yang bersumur pompa itu. Dengan melenyapkan sumur timba, pikiran dan sikap Bapak tidak dituding kaku dan kolot. Bapak dinilai terbuka dan mau menerima teknologi baru pada sumur pompa yang lebih ”maju”.

Lenyapnya sumur timba membuat Ibu tidak ingin ketinggalan langkah. Ibu lalu ”melenyapkan” pawon dan menggantinya dengan dapur. Kata Ibu, tuduhan pencuri kayu hutan kepada para penjual kayu bakar keliling menjadikan kayu bakar susah didapat. Para penjual kayu bakar keliling ketakutan. Maka mengganti pawon dengan dapur merupakan langkah paling masuk akal agar kami sekeluarga tidak mengalami kesulitan dalam mengolah kebutuhan pangan.

Dengan hilangnya pawon, kami tidak lagi dapat melihat api yang menyala dari kayu yang terbakar. Dengan hadirnya dapur, kami tidak mungkin lagi merasakan asap yang kadang memerihkan mata dan menyesakkan dada. Dengan hilangnya pawon, kami kehilangan semprong, bambu pendek yang difungsikan untuk membuat api dengan cara ditiup. Dengan hadirnya dapur, kami  tidak lagi dapat menikmati ”rasa alamiah” yang muncul dari masakan yang sudah matang.

Masakan Ibu tidak lagi sesedap dulu, seperti sewaktu dimasak di atas kayu bakar yang menyala-nyala merah. Dapur mengharuskan Ibu menyediakan kompor bersumbu dengan bahan minyak tanah. Sewaktu saya protes bahwa masakan Ibu sudah berubah, Ibu tidak menjawab dan seperti menyadarinya. Apa kompor yang dinyalakan dengan minyak tanah yang berbau itu faktor penyebabnya?

Saat menjelang dewasa, saya terkejut ketika suatu saat saya tidak lagi menemukan sumur pompa di rumah. Rupanya, Bapak mematikan sumur pompa karena di lingkungan rumah kami mulai muncul air ledeng yang dihasilkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sosialisasi aparat pemerintah bahwa air PDAM jauh lebih bersih dan steril dibanding air sumur yang pasti mengandung bakteri coli membuat Bapak terpaksa menggantinya.

Sekarang setiap hari Bapak tidak perlu repot-repot mengayunkan tangan sepuh-nya pada pegangan sumur pompa. Bapak hanya cukup memutar jari-jarinya di atas keran air pada titik-titik yang ditentukan dan mengalirlah air itu dengan cukup deras. Bapak tersenyum senang sambil menyadari betapa teknologi telah berbaik hati meringankan penderitaan dirinya akibat tenaga tubuhnya yang kini ringkih dimakan usia.

Tidak lama Ibu mengikuti jejak Bapak. Ia mengganti kompor sumbunya dengan kompor gas karena munculnya kebijakan konversi dari pemerintah. Minyak tanah mesti diganti dengan gas. Ibu tersenyum karena ia tidak lagi mengeluhkan tangan dan tubuhnya yang kerap terkena bau minyak tanah. Ia juga tak lagi ngomel-ngomel akibat harga minyak tanah yang melangit dan bahkan susah didapatkan.

* * *

Banyak pihak yang meyakini bahwa perjalanan waktu menuju masa depan akan menghasilkan perubahan ke arah kemajuan. Hidup menjadi lebih mudah dan praktis, efektif dan efisien karena semata-mata kebaikan hati sebuah mantra bernama teknologi. Namun, banyak orang yang kemudian tidak menyadari bahwa perjalanan waktu ke depan rupanya juga membuahkan ketergantungan yang akut, termasuk pada diri Bapak dan Ibu saya.

Seringkali Bapak-Ibu bercerita dengan nada mengeluh dan senyum yang pudar. Saat air PDAM mati untuk waktu yang lama dan gas tiba-tiba lenyap dari pasaran, Bapak-Ibu kebingungan. Mereka tidak tahu mesti berbuat apa. Mereka tidak tahu hendak menyalahkan siapa. Pemerintah? Tidak. Bukankah pemerintah yang melindungi rakyat seperti dirinya?

Bapak-Ibu hanya seperti tersadarkan bahwa mereka telah kehilangan daya kreatif warisan intelektual masa lalu. Padahal daya kreatif inilah yang dulu mereka bangga-banggakan. Bapak-Ibu tak kuasa menemukan jalan keluar karena para tetangga terdekat juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Mereka semua tak berdaya di hadapan sebuah sistem yang tidak menciptakan etos kemandirian.

Maka saya kini hanya tahu bahwa Bapak selalu menyisihkan uang pensiunnya untuk membeli air mineral galon demi memenuhi kebutuhan minum yang kerap tidak lagi didapatnya. Air ledeng PDAM kadang kotor dan berbau, dalihnya. Saya memaklumi. Namun, yang membuat saya tidak memaklumi dan menjadi miris adalah ucapan Bapak-Ibu bahwa dapur kini bukan lagi menjadi tempat yang menarik bagi mereka. Dapur, bagi Bapak-Ibu adalah sebuah ancaman kematian. Buuum!!!! Ledakan gas! * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: