NASIB PEMIMPIN PESOLEK

Mulanya saya tersenyum dan tertawa terkekeh. Tapi, kemudian saya tak mampu lagi tersenyum dan terkekeh. Saya justru berusaha untuk merenungi celetukan-celetukannya. Ini semua gara-gara lalu lintas status pada jejaring sosial milik Bramantyo Prijosusilo, seorang pegiat teater, jurnalis, dan ahli pencak silat.

Dalam salah satu celetukannya, dia -kurang lebih- menuturkan bahwa kegamangan dan keragu-raguan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menangani berbagai macam persoalan sosial, politik, dan keamanan di negeri ini membuat bangsa Indonesia tak kunjung bangkit dari keterpurukannya. Presiden gamang bukan karena dia tidak mampu. Presiden ragu-ragu bukan karena dia tidak berani. Presiden gamang dan ragu-ragu karena dia memang tipikal Prabu Lesmana Mandrakumara.

Saya bukannya mengamini pernyataan Prijosusilo, melainkan tiba-tiba saja ingatan saya meluncur pada sebuah acara di TVRI setiap Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WIB di masa lalu. Dalam acara beratajuk “Ria Jenaka” yang digawangi oleh komedian Ateng, Iskak, Sampan Hismanto, dkk. itu ditampilkan kisah tentang Punakawan yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Togog. Namun, di antara para Punakawan itu kerap muncul satu tokoh yang berciri khas unik; lemah, lamban, agak kemayu, dan pesolek. Dialah Prabu Lesmana Mandrakumara.

Siapa sejatinya Prabu Lesmana Mandrakumara?

Dalam dunia pewayangan, Prabu Lesmana Mandrakumara bukanlah tokoh sembarangan. Dia adalah putra sulung dari Prabu Duryudana, Raja dari Kerajaan Hastinapura dengan permaisuri Dewi Banowati. Dewi Banowati sendiri adalah putri dari Prabu Salya yang menikah dengan Dewi Setyawati dari Kerajaan Mandaraka.

Prabu Lesmana bernama lengkap Bambang Lesmana Mandrakumara atau biasa juga disebut dengan nama Bambang Sarajakusuma. Prabu Lesmana Mandrakumara mempunyai seorang adik perempuan bernama Dewi Lesmanawati, yang menjadi istri Arya Warsakapura, putra kedua Adipati Karna dengan Dewi Surtikanti dari Kerajaan Awangga.

Sejak kecil Raden Lesmana sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Segala macam keinginan dari dirinya tidak pernah tidak dituruti oleh kedua orang tuanya. Prabu Duryudana sangat memanjakan dia karena dia merupakan anak lelaki satu-satunya. Tidak heran bila Raden Lesmana dikenal sebagai pangeran atau calon raja yang lemah dan lamban, penakut dan pesolek.

Prabu Lesmana berdiri di tengah dalam acara "Ria Jenaka" di TVRI

Padahal, sebagai calon Raja Hastinapura, Raden Lesmana harusnya bersikap layaknya ksatria agung yang berani, tegas, dan jantan. Tapi, semua ini tidak dimiliki oleh Raden Lesmana. Bahkan dalam soal olah diri dan olah batin, Raden Lesmana dianggap sebagai pribadi yang malas sehingga ia tidak mempunyai kesaktian sama sekali. Tidak ada ksatria dari kerajaan lain yang takut kepada dirinya.

Ketika dewasa Raden Lesmana jatuh cinta kepada Dewi Titisari, putri Prabu Kresna yang titisan agung Dewa Wisnu. Ia bersikeras hendak menikahinya. Ayahnya tidak bisa menolak kehendak Raden Lesmana meskipun tidak ada sinyal positif dari pihak perempuan. Akhinya, ia ditolak mentah-mentah oleh Dewi Titisari.

Dalam pewayangan yang bertajuk “Wahyu Cakraningrat” dikisahkan bahwa Raden Lesmana pernah bersaing dengan dua ksatria agung, yakni Raden Samba, putra Kresna dan Abimanyu, putra Arjuna untuk memperebutkan Wahyu Cakraningrat. Wahyu Cakraningrat adalah semacam lambang atau simbol yang bermakna siapa saja yang mampu mendapatkan wahyu cakraningrat, maka kelak keturunannya akan menjadi raja hingga akhir zaman.

Akhirnya, ksatria yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat adalah Raden Abimanyu meski kelak Abimanyu tidak menjadi raja. Kenapa Raden Abimanyu yang sukses mendapatkannya? Ada pelajaran moral yang terkandung dalam kisah itu. Raden Abimanyu dikenal sebagai ksatria yang menjunjung tinggi panji-panji kebaikan dan keluhuran budi serta ketangguhan tubuh.  Abimanyu dikenal sebagai sosok pribadi yang penuh keteladanan.

Raden Lesmana dan Raden Samba memiliki kepribadian yang berkebalikan dengan Abimanyu. Namun, keduanya bersumberkan dari satu kenyataan bahwa Lesmana dan Abimanyu merasa sebagai anak raja sehingga mereka merasa pantas berbuat demikian. Lesmana memilih bersikap manja, sedangkan Samba memilih arogan. Kedua watak itu jauh dari Wahyu Cakraningrat.

Di masa Perang Baratayudha, Raden Lesmana ikut berperang meskipun dibarengi dengan perasaan yang amat takut. Puluhan prajurit selalu berusaha melindunginya dari serangan pasukan lawan. Saat perang pun watak lemah, penakut, ragu-ragu tak kunjung hilang. Bahkan sifat pengecutnya muncul tatkala Raden Abimanyu yang sudah tak berdaya hendak dibinasakan sendiri olehnya.

Tragisnya, bukan Lesmana yang menikamkan senjata kerisnya ke dada Abimanyu, tapi justru Abimanyu yang masih sanggup menyerang balik Raden Lesmana. Saat itu juga Lesmana tewas di tangan Abimanyu yang sebenarnya sudah dalam keadaan tidak berdaya akibat dikeroyok pasukan Kurawa yang dipimpin Adipati Karna.

Nasib Lesmana adalah sebuah tragedi (calon) raja yang penakut, lamban, lemah, dan pesolek. Ia tak mampu berbuat apa-apa saat negaranya memerlukan kepemimpinannya. Bahkan untuk memimpin dirinya sendiri ia tak mampu. Ia gagal mentransfer watak dirinya dari lamban ke cepat, takut menuju berani, lemah ke kuat.

Pesolek? Ah, ini  sih bawaan lahir yang susah dihilangkan agar terlihat gagah! ***

Sumber gambar: http://lh6.ggpht.com dan http://i28.photobucket.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: