DEDY N. HIDAYAT; Intelektual yang Jauh dari Gempita

Dedy N. Hidayat

Kabar duka selalu dipandang datang secara tiba-tiba kendati ia kerapkali sudah memberikan pertanda. Kabar duka serupa gerimis atau hujan dari langit yang kadangkala didahului atau tidak didahului kabut, mendung, atau petir. Kabar duka itulah yang menghentak irama jantung saya ketika membaca status Ade Armando yang Dosen Komunikasi FISIP, UI, di situs jejaring sosial pada Selasa (9/11). Tulis Ade Armando,

Dosen kami, senior kami, Mas Dedy Nur Hidayat baru saja meninggal dunia sekitar pukul 13.15. Semoga Allah mempermudah jalannya dan memberikan tempat yang indah di sisi-Nya.

Puluhan sms bernada serupa kemudian masuk ke nomor handphone saya. Meskipun saya tahu Pak Dedy -begitu saya dan teman-teman lain biasa memanggil- telah beberapa waktu sakit dan bahkan dirawat secara intensif di sebuah rumah sakit di Jakarta, tetap saja berita duka seperti itu meninggalkan perasaan yang aneh pada diri saya. Jiwa terasa kosong, tubuh seperti luluh, seolah ada piranti yang lepas dari hidup kita. Entah apa, saya sendiri tidak tahu. Untuk beberapa detik saya hanya bisa diam terpaku. Suwung.

Lalu, benak ini tiba-tiba mengawang jauh dan terbang menjelajahi setiap sudut-sudut kampus di Departemen Komunikasi, FISIP, UI di Salemba, Jakarta hingga terantuk pada sesosok lelaki bertubuh sedang yang kalem dan ramah, sedikit pendiam dan terkesan “misterius”. Prof. Dr. Dedy Nur Hidayat atau Dedy N. Hidayat, begitu ia biasa menuliskan namanya, pemegang gelar Ph.D. dari College of Communication, University of Wisconsin, Madison, USA yang bergengsi itu.

Mulanya saya tidak paham, kenapa begitu banyak rekan mahasiswa didiknya yang menyukai pria yang terbilang sederhana itu. Tak hanya menyukai, karena tidak sedikit orang yang menghargai, menghormati, dan bahkan -saya yakin- seperti memujanya. Padahal, bagi saya, ia sungguh pria yang terbilang “biasa” dan tidak ada yang spesial saat pertama kali saya bertemu dengannya. Ia seperti Dosen-Dosen Pascasarjana Departemen Komunikasi UI lainnya, semacam Prof. Sasa Djuarsa, Prof. Alwi Dahlan, atau Prof. Andre Hardjana.

Bahkan di waktu-waktu saya mengikuti kuliah MPS (Metodologi Penelitian Sosial) dan Statistika yang diampu olehnya, saya mendapati kenyataan bahwa Pak Dedy bukanlah sosok pengajar yang ideal. Cara Pak Dedy menjelaskan topik di depan kelas jauh dari runtut dan sistematis sehingga kadangkala mahasiswa dibuat saling berpandangan. Tatapan mata dan posisi tubuh Pak Dedy saat mengajar juga kerap menyamping, tidak menghadap ke arah mahasiswa. Ia seperti menghindari tatapan puluhan mahasiswa didiknya. Tak salah bila sebagian teman menyebut Pak Dedy sebagai pria pemalu.

Namun, seiring berjalannya waktu saya kemudian menyadari bahwa segala persoalan “teknis” dalam proses transfer of knowledge yang berlangsung di depan kelas itu tidak sebanding dengan nilai ketulusan seorang pendidik yang ia praktikkan di lingkungan kampus UI. Apa yang tidak bisa didapatkan oleh seorang ahli komunikasi paripurna seperti dirinya di tengah negeri yang kekurangan orang-orang cerdas nan berkarakter? Andaikata mau, Pak Dedy niscaya bisa mendapatkan segalanya. Uang, jabatan politis, atau penghargaan. Namun, segala tarikan itu tampaknya tidak membuat ia silau meski banyak rekan atau malah mahasiswa didiknya yang justru mendapatkannya.

Hidup Pak Dedy hanya untuk Departemen Komunikasi UI, tempat ia saban hari menaburkan benih-benih ilmu kepada anak-anak didiknya. Di tempat yang sebenarnya dekat sekali dengan gempita itu, ia serasa leluasa memotret dan mengaduk segala problema sosio-politik bangsa seolah tanpa ingin larut ke dalam dunia itu. Tak hanya ilmu komunikasi sebagai objek, sebab Pak Dedy faktanya juga sangat piawai mengurai benang kusut ilmu-ilmu lain, semacam politik, sosiologi, atau bahkan sejarah.

Saya terkejut saat mendapati artikel politik-sejarah Pak Dedy yang begitu padat, runtut, dan “hidup” dalam “Marhaen Pergi Bersama Bung Karno” [St. Sularto (ed), Dialog dengan Sejarah: Sukarno Seratus Tahun, Penerbit Kompas, Jakarta, 2001]. Layaknya seorang sejarawan berpaham strukturalis, Pak Dedy sangat piawai mengurai sebuah narasi besar tentang persoalan ideologi marhenisme yang pernah jaya di masa Sukarno berkuasa dulu.

Dalam paparannya, Pak Dedy meyakini bahwa kelompok seperti Marhaen sesungguhnya tidak memiliki signifikansi politik. Namun, kelompok Marhaen bisa digali dimensi kemanusiaannya sebagai human agencies dalam struktur produksi pertanian. Berbeda dengan buruh tani yang hanya memiliki tenaga dan keterampilan atau pengusaha pertanian yang menguasai lahan dan modal produksi lainnya, kelompok Marhaen adalah insan tani yang mampu memelihara the unity of works-labor-means of production.

Kedudukan kelompok Marhaen di Indonesia, tegas Pak Dedy,  sangat mirip dengan petani Yeoman di Amerika. Keduanya cenderung menonjolkan rasionalitas substantif dan berpedoman pada tujuan-tujuan mulia, seperti aktualisasi diri, pelestarian lahan pertanian, keseimbangan lingkungan, serta pewarisan tradisi. Bagi keduanya, bertani merupakan bagian dari identitas diri dan keluarga, bukan sekadar aktivitas mencari nafkah atau bisnis.

Karena itu, Pak Dedy percaya, bila kita bersepakat bahwa tujuan pembangunan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya, maka kelompok Marhaen -dalam posisi struktural dan rasionalitas yang dimilikinya- bisa ditempatkan sebagai representasi sosok manusia yang utuh di sektor pertanian. Ia merupakan sosok dari sebuah lambang yang semestinya dibangun dan diberdayakan oleh semua kalangan, baik pemerintah ataupun kalangan lembaga sosial kemasyarakatan.

Sayangnya, semenjak liberalisasi perdagangan global telah menjadi aksioma pembangunan, nasib kelompok Marhaen hampir sepenuhnya ditentukan oleh the invisible hands kekuatan-kekuatan pasar yang dikuasai oleh para pemodal besar yang kejam. Tragisnya lagi, semenjak sang ideolog Marhaen pergi, tak ada lagi pelanjut paham marhaenisme, bahkan sekalipun itu anaknya yang saat itu pernah berkuasa.

Kini, di tengah kabar duka itu, saya paham, kenapa sosok seperti Pak Dedy amat dihormati, dicintai, dan dikagumi, oleh orang-orang yang mengenalnya secara dekat. Sebab, Pak Dedy memang mengajarkan ketulusan dalam profesi yang melekat pada dirinya kepada semua orang. Ia “besar”, tapi ia tidak mudah terombang ambing oleh sesuatu yang “besar” . Ia sangat dekat dengan gempita, tapi ia tak mau larut dalam gegap-gempita. Ia sadar, di posisi mana ia selayaknya duduk dan berdiri.

Pada hari ini, 10 Nopember 2010, tepat di hari Pahlawan, Pak Dedy dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur. Mungkin terlalu berlebih, tapi saya paham, Pak Dedy sejatinya adalah pahlawan dalam makna yang sesungguhnya, bagi orang-orang yang mencintai ketulusan. Selamat jalan guruku…. Allah pasti sudah menyediakan tempat yang sangat layak untuk Anda. * * *

Sumber foto: diambil dari FB Zakaria Lantang

2 Responses

  1. Saya bukan anak dep kom UI tapi jurusan lain. Dan pak Dedy adalah pembimbing skripsi saya di tahun 2006-2007.
    Pak Ded yang saya kenang selalu menggali kemampuan berpikir saya sebagai mahasiswa. Setelah selsai skripsi pun dia sering mengirimi saya email tentang tulisan2nya di blog atau artikel2 tentang subjek yang dia tahu menjadi interest saya. Sms terakhir yang saya dapat dari pak Dedy sekitar Februari atau Maret tahun ini, isinya undangan untuk menghadiri peluncuran buku salah seorang temannya. Satu-satunya hal yang belum saya penuhi ke pak Ded adalah janji saya untuk meneruskan S2.

    Saya sempat menjenguk pak Dedy 2x dalam 2 minggu kemarin. Tgl 24 okt saya datang bersama teman mahasiswa bimbingan beliau, saat itu beliau masih bisa berbicara meskipun sedang diinfus dan nyaris tak bisa bersuara. Beliau menyapa saya pertama kali dan menanyakan kabar saya. Senang rasanya beliau masih ingat muka saya meskipun terakhir bertemu di tahun lalu, kemudian beliau menanyakan kabar kami semua satu persatu sambil menyebutkan nama2 kami sebagai pertanda bahwa beliau masih perhatian dan mengingat kami. Kunjungan hanya berlangsung sebentar karena khawatir membuat beliau lelah. Di akhir pertemuan beliau masih sempat2nya mengepalkan tangan erat2 dan bilang MERDEKA! haha.. saya selalu cinta humor pak Ded yang garing. Kunjungan kedua saya hari kamis minggu lalu, saat saya tahu pak Ded sudah di ICU, saat itu saya sudah pasrah. Tapi waktu datang ke RS, istri pak Ded bilang kalau sudah agak membaik setelah alat bantu napasnya dilepas. Saya pulang dengan lega.

    Tgl 7 kemarin Romo Bowo, dosen politik ahli Cina FIB UI yang juga teman pak Dedy meninggal setelah berjuang melawan kanker paru2nya selama 6 bulan. Saat itu saya mulai khawatir sekali dengan pak Dedy. Sampai akhirnya tanggal 9, saya membaca status teman saya di FB yang memberitahukan kalau pak Ded sudah berpulang. Sedih, tapi memang sudah pasrah, mungkin memang itu yang terbaik untuk beliau.

    Bagaimanapun Pak Ded adalah dosen terbaik yang pernah saya kenal.

    • Trima kasih atas komentarnya, Mbak Felicia. Setiap mahasiswa yang pernah didiknya akan mengakui bahwa beliau adalah salah satu guru terbaik yang dimiliki UI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: