“CABE JAWA” DAN GADIS JAWA

Serombongan ibu berjalan di depan rumah saya. Ketika sampai di pojok

Pohon cabe rawit

rumah saya yang berbatasan dengan rumah tetangga sebelah, salah seorang dari ibu-ibu itu berteriak.

“Hei, bagus banget tuh cabe. Kuning, hijau, merah….”

Tanpa dikomando, ibu-ibu itu mendekat dan berusaha melihat keindahan tanaman cabe yang memang amat terawat itu. Namun, wajah mereka yang sumringah seketika sirna setelah melihat tanaman cabe itu dari dekat. Mereka seperti kecewa. Entah kenapa. Namun, celetukan seorang ibu seperti memberikan jawaban.

“Ah, cabe jawa. Pedas banget. Nggak enak. Dimakan nggak enak, buat masakan juga nggak enak.”

Rombongan ibu itu berlalu. Seolah tanpa perasaan dan tanpa kesan. Mereka bahkan mungkin tidak peduli seandainya pun sang pemilik tanaman tak jauh berada dari situ dan mendengar ucapan ibu-ibu itu. Saya yang mendengar percakapan ibu-ibu itu dari teras rumah justru terkesima sejenak. Sore itu, saat matahari mulai menyipit di arah barat.

Cabe jawa? Pedas banget? Nggak enak dimakan dan buat masakan?

Istilah “cabe jawa” niscaya sangat asing di telinga saya dan baru saya dengar. Ya, dari ucapan ibu-ibu itu. Tanaman “cabe jawa” yang ditanam oleh tetangga sebelah rumah saya itu dalam benak saya bukanlah “cabe jawa” seperti yang dipahami oleh ibu-ibu itu. Saya dulu, di kampung, lebih mengenalnya sebagai “cabe cengek”, yakni sejenis cabe rawit yang agak besar, (memang) pedas banget, dan biasanya lebih sering dimanfaatkan sebagai hiasan.

Istilah “cabe jawa” tidak dikenal dalam khasanah ingatan saya, bahkan sejak saya lahir sebagai orang Jawa. Kalaupun kata “jawa” dipertautkan dengan benda-benda lain, saya lebih sering mendengar kata itu disambungkan dengan “gula” atau “asem”, hingga muncul istilah “gula jawa” atau “asem jawa”. “Gula jawa” adalah istilah pengganti yang digunakan untuk menyebut “gula merah”. Sedangkan “asem jawa” merupakan sejenis buah yang masam rasanya dan biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan, terutama sebagai penambah rasa asam.

“Gula jawa” dan “asem jawa” memiliki warna yang hampir mirip. Keduanya berwarna coklat kemerah-merahan dan agak gelap sehingga kadangkala lebih berkesan hitam pekat. “Gula jawa”  tentu berbeda dengan gula pasir yang serupa butiran pasir putih nan bersih dengan rasa manis yang menyengat. Gula pasir terasa lebih istimewa karena ia disuguhkan sebagai bagian rasa manis dalam setiap minuman. “Asem jawa” lain lagi karena tentu rasa asam adalah rasa yang kerap dihindari oleh lidah kita, kecuali bila sudah berbentuk sayur asem.

“Gula jawa” dan “asem jawa” tak beda dengan “ayam jantan jawa” dan “kambing jawa”. Mereka semua berada dalam “kultur” paling bawah dalam otak bawah sadar kita. “Ayam jantan jawa” jauh berada di bawah “ayam bangkok” yang dicirikan besar, gagah, dan tak pernah menyerah dalam bertarung. “Ayam jantan jawa” itu kecil, tak suka bertarung, dan lebih senang bergerombol dengan para betinanya. “Kambing jawa” tentu berlainan dengan “kambing etawa” yang bertubuh besar, tinggi, dan bobotnya dapat mencapai 91 kg sehingga pantas dirindukan para pecinta kambing.

Karena itu, setiap saya mendengar kata “jawa” disematkan dengan kata lain di depannya selalu saja yang hadir dalam benak saya adalah semacam stereotip, yakni konsepsi tentang sifat suatu golongan masyarakat berdasarkan prasangka yang kerapkali subjektif dan amat tidak tepat. Kenapa harus “Jawa” yang disambungkan dengan kata-kata, seperti gula, asam, kambing, ayam, dan lain-lain? Kenapa tidak Batak, Sunda, Bugis, atau yang lain? Adakah nuansa “istimewa” pada kata “Jawa” hingga ia mesti ditautkan dengan kata-kata itu?

Semua itu persis kala saya berusaha menafsirkan buku (lama/terbit tahun 1977) karya budayawan Mochtar Lubis yang menelanjangi sisi-sisi buram masyarakat bangsa kita dalam “Manusia Indonesia”. Dalam persepsi saya, Lubis tidak sedang membuka borok bangsa Indonesia yang memiliki sifat, seperti hipokrisi atau munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, tidak hemat, dan boros.

Yang Lubis bidik sebenarnya adalah kelamnya masyarakat Jawa yang memang menguasai segenap panggung kehidupan bangsa Indonesia, baik dari aspek politik, kekuasaan, sosial, atau budaya. Tak hanya menjadi mayoritas penduduk terbanyak di negeri kita, kultur Jawa juga seolah menjadi peletak sendi kekuasaan di pentas politik bangsa.  Dua presiden terlama dalam sejarah nasional kita adalah Sukarno dan Soeharto yang tak lepas dari kultur Jawa dalam kepemimpinannya.

Persepsi saya tentang “Jawa” seolah mendapat pengesahan bila saya mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat saya sedang getol-getolnya bergym ria. Karena tidak juga mendapat seorang istruktur pelatihan, saya memprotes pengelola gym dengan mendatanginya.

“Mas, kenapa saya tidak diberi instruktur pelatihan. Padahal saya sudah lama meminta.”

“Oh, sudah ada. Mulai minggu depan Bapak sudah ada instrukturnya.”

“Siapa instrukturnya?”

“Jawa, Pak.”

“Jawa?”

“Iya. Nama sebenarnya Asep. Asli Sunda. Tapi, karena kulitnya agak legam, teman-teman memanggilnya Jawa.”

Saya hanya melongo. Tak bisa berkata-kata. Oh, jadi “pria Jawa” selalu berdekatan dengan hitam, legam, atau pekat malah. Tapi, bagaimana dengan “gadis Jawa”? Entahlah….

Namun, saya paham, betapa persoalan stereotip memang selalu menjadi problem bagi bangsa kita. Ia sebenarnya kecil, ringan, tapi nyatanya ia kerap menjadi “api” yang mampu menghanguskan persaudaraan dalam berbangsa dan bernegara, -mungkin- seperti nasib “asem jawa”, “gula jawa”, atau “cabe jawa”. * * *

Sumber Gb: http://nofisonkurwasit.files.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: