KUNCI SUKSES; ISLAM YANG “DIPERAS”?

islam a“Islam itu syamil! Agama yang sudah lengkap. Paripurna! Islam itu kamil! Agama yang sempurna! Tak ada bandingannya. Buat apa diperas-peras dan dipilah-pilah seperti itu. Kayak tidak ada pekerjaan yang lain. Mereka pikir umat tidak bingung apa?!”

Teman saya yang memiliki pandangan ekstrim dalam soal-soal agama berkata keras kepada saya. Ia tidak dapat menerima model dakwah yang dikembangkan oleh beberapa ustadz akhir-akhir ini. Baginya, model dakwah layaknya “dokter spesialis” itu sangat tidak lazim dan terkesan menerobos nalar yang bersih.

Siapa mereka, para ustadz  itu?

Semua pasti sudah tahu. Sebab, media massa, seperti televisi, koran, majalah, internet, tabloid, tidak pernah tidak memberitakan tentang mereka. Mereka layaknya para selebriti yang berperan di panggung hiburan dan mengisi relung-relung hati para pemirsa pada setiap waktu. Alhasil, tak hanya pengetahuan dakwah yang mengalir ke telinga publik, bahkan kehidupan pribadi mereka juga menjadi intipan para awak infotainment.

Dari aspek “marketing”, jualan para ustadz itu sebenarnya hanya satu, yakni meraih kunci sukses dalam hidup. Para ustadz itu berusaha meyakinkan publik bahwa dengan mengamalkan apa yang mereka titahkan, maka hidup menjadi terasa lebih menyenangkan dan membahagiakan. Dunia bukan lagi tempat yang merisaukan, sedangkan akhirat tidak lagi jauh dari impian yang muskil. Keduanya bisa direngkuh sejauh mereka mengamalkan apa yang mereka ajarkan.

“Manajemen Hati” menjadi milik Aa’ Gym alias Abdullah Gymnastiar. Ustadz asal Bandung -yang kepopulerannya surut seiring dengan isu poligami yang dilakukannya- mengungkapkan bahwa hati adalah sumber segalanya. Baik dan buruk seseorang bergantung kepada hatinya. Jika kotor hatinya, maka kotor pula tindak-tanduknya. Sebaliknya, bila bersih hatinya, tentu bersih pula sikap dan perilakunya. Karena itu, kunci sukses seseorang dalam hidup dan kehidupan adalah jika ia mampu mengelola hatinya layaknya ia merawat tanaman. Disiram, dipupuk, dan dirawat sebaik-baiknya.

Aa Gym dikerubungi para jamaah

M. Arifin Ilham lebih memilih “Zikir”. Bagi ustdaz bersuara serak itu, hanya zikirlah yang pantas menjadi jalan utama bagi kaum muslimin dalam mencapai kebahagiaan hakiki. Mengapa demikian? Karena zikir menjadikan seseorang selalu ingat akan kehadiran Sang pencipta dan karena zikir pula seseorang tidak mau teralihkan dari nama Tuhan. Zikir dalam setiap waktunya akan mampu menghadirkan Allah dalam dekapnya. Allah menjadi dekat sedekat dekatnya. Kalau Allah sudah dekat, maka kesucian adalah wujud jalan hidupnya.

Nurul Huda Haem menisbahkan “Birrul Walidain” alias hormat kepada orang tua sebagai altar tertinggi dalam pencapaian kebahagiaan kemanusiaan seseorang. Bisa dipahami, sebab orang tua adalah wakil Tuhan di muka bumi. Segala sikap, ucapan, dan tindakan selayaknya menjadi panutan dan bahkan teladan bagi anak-anaknya. Karena itu, anak yang durhaka kepada orang tua sejatinya juga adalah orang yang durhaka kepada Tuhan. Tuhan tidak mungkin memberi label sukses kepada orang yang durhaka kepada orang tuanya.

Manakah yang sebaiknya dipilih?

Tentu, saya tidak kuasa memaksa untuk memilihkan salah satu dari perihal di atas, bahkan untuk sekadar menganjurkannya. Sebab, saya yakin pilihan kita sebenarnya tidak hanya itu, tetapi banyak. Bukankah dakwah Islam di era modern kini serupa benar dengan etalase barang  dagangan yang tersedia dan terpajang di mal-mal yang sejuk dan bersih? Tinggal mendengar, melihat, dan mengikutinya, kita dapat memilih salah satu di antaranya bila merasa cocok.

Kita bisa memilih manajemen hati, zikir, atau birrul walidain sebagai sebuah bentuk keyakinan yang akan mengantarkan kita menuju gerbang kebahagiaan di dunia dan kahirat. Namun, bukan itu saja sesungguhnya. Karena di era ketika agama telah menjadi “industri” dan para ustadz tak beda dengan para marketer yang “berjualan” di industri agama, puluhan tema diolah dan digodok agar laku di hadapan publik. Kini, selain manajemen, hati, zikir, dan birrul walidain juga muncul sedekah, ESQ, bengkel hati, dan lain-lain.

Tidak ada yang salah dengan fenomena tersebut. Sebab, itu hanya persoalan kepercayaan dan keyakinan dalam benak dan hati kita. Jika kita yakin dengan pilihan tema di atas, peluk dan amalkan dalam kehidupan keseharian! Begitu jalan dan rumusannya. Hal itu sama saja dengan hati dan benak kita yang meyakini jika jalan kebenaran itu berada pada model dakwah haraqiyah, semacam salafy, tarbiyah, Hizbut Tahrir, atau yang lainnya. Tentu sah-sah saja. Bahkan jikapun itu juga berupa organisasi Islam semacam Muhammadiyah, NU, atau Persis. Silakan! Bukankah Islam itu merupakan sebuah jalan, thoriq?

Maka, pilihan terhadap suatu model dakwah sebagai sebuah keyakinan niscaya sah-sah saja adanya. Hal yang penting adalah bahwa pilihan itu merupakan sebuah upaya untuk menunjukkan peningkatan mutu atau kualitas hidup seseorang, dan bukan semata-mata trend atau kecenderungan belaka. Sebab, jika yang kedua yang terjadi, maka sebaik apa pun bentuk, model, atau organisasi dakwah akan menjadi sia-sia adanya. * * *

Sumber gb: http://www.kutaikartanegara.com/berita/aa-gym5.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: