HANTU ITU BERNAMA “POLITISASI SEPAK BOLA”

Stadion Gelora Bung Karno tak pernah sepi dari pendukung Timnas

Harapan yang membubung tinggi itu akhirnya kandas sudah. Firman Utina dkk. gagal mempersembahkan Piala AFF 2010 untuk pertama kalinya bagi para pecinta sepak bola di tanah air. Kegagalan yang patut disesali karena di sepanjang turnamen, Tim Nasional dinilai sebagai salah satu favorit juara. Performa apik di sepanjang babak penyisihan menjadi faktornya. Belum lagi di final, Timnas berhadapan dengan Malaysia yang di pertandingan penyisihan diganyang habis dengan skor telak 5-1.

Ironis, babak final justru menjadi anti klimaks. Dalam pertandingan dengan menggunakan sistem tandang-kandang, Timnas dijungkalkan Malaysia dengan skor 0-3 dan 2-1. Para pecinta bola seperti tak percaya, bahkan termasuk -mungkin- Presiden SBY, para pejabat negara, dan para elit politik yang tiba-tiba menjadi demikian “gila bola”. Mata dan benak mereka dibuat tertutup oleh fakta bahwa Timnas ternyata gagal menjadi jawara di kawasan Asia Tenggara.

Di ujung yang lain, banyak pengamat sepak bola mengumbar analisisnya. Dari mulai persoalan para pemain yang kehilangan konsentrasi di final hingga masalah fisik yang melempem. Namun, dari kesemua analisis tersebut meruncing kepada faktor politisasi sepak bola kita sebagai salah satu penyebab kegagalan meraih gelar untuk yang pertama kali. Faktor teknis, fisik, dan psikis bukan menjadi alasan karena Pelatih Alfred Riedl cukup mumpuni dalam menangani tim yang berlaga di turnamen Piala AFF itu.

Benar memang. Euforia Timnas maju ke final menjadikan para elit politik kita bak memiliki medium baru untuk mengangkat citra mereka sendiri sebagai penggila bola. Padahal, Timnas Indonesia sudah tiga kali masuk final di Piala AFF yang sebelumnya bernama Piala Tiger dan tidak pernah terdengar mereka teriak-teriak tentang bola. Tak tanggung-tanggung mulai dari Presiden, para ketua umum partai politik,  hingga para menteri kabinet tiba-tiba menjadi pemuja olah raga berbasis kaki itu.

Akibatnya, Timnas malah menjadi korban dari politik pencitraan tersebut.  Sebab, para pengurus PSSI telah mengesahkannya. Timnas dibuat sibuk dengan aneka kegiatan di luar lapangan yang sejatinya tidak ada urusan dengan menendang bola. Menjelang bertanding di Stadion Bukit Jalil (Malaysia), Timnas menghadiri jamuan makan pagi di rumah Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Tentu Partai Golkar, bukan partai yang lain karena Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid adalah juga kader Partai berlambang beringin itu.

Seolah tak mau ketinggalan dengan politisi, para ulama yang dipimpin KH. Muhammad Nur Iskandar dan KH. Yusuf Mansyur menggelar acara istighosah di Pondok Pesantren Assidiqiyah, Jakarta. Tujuannya jelas, mendoakan para pemain agar mampu membawa pulang gelar juara sehingga kebanggaan patut disematkan ke dada bangsa Indonesia. Yang dianggap keliru, para pemain Timnas diboyong ke acara itu sehingga mata kamera media massa menyorot mereka yang memang sedang menjadi bintang. Akibatnya, para pemain kehilangan fokus pada saat laga di Bukit Jalil (Malaysia).

Tim nas dan Pengurus PSSI beranjang sana ke rumah Ical jelang final Piala AFF

Bagi para pecinta sepak bola, politisasi sepak bola merupakan tindakan dan langkah yang keliru besar. Politisasi sepak bola tidak memiliki siginifikansi dengan urusan pemain menendang bola. Politisasi justru akan menghancurkan sendi-sendi dasar persepakbolaan nasional yang bertumpu kepada pembinaan bibit pemain, nilai-nilai sportivitas olah raga, dan pencapaian prestasi. Para elit politik bicara tentang sepak bola bukan karena kesadaran bahwa sepak bola mampu mengangkat derajat dan kebanggaan bangsa, melainkan karena sepak bola kuasa untuk menampilkan citra dan sosok dirinya sebagai  “orang yang peduli”.

Namun, memang demikian yang umumnya terjadi di negeri ini. Sebab, faktanya tidak hanya sepak bola yang telah menjadi korban hantu bernama politisasi. Bahkan bencana alam, seperti banjir, gunung meletus, tsunami dan yang lainnya, tempat orang menangis karena kehilangan segalanya; harta, benda, dan bahkan nyawa, politisasi muncul dalam wujud gerakan pertolongan yang membawa baju identitas politik. Mereka tak risih menggunakan medium penderitaan sebagai upaya untuk mencari basis dukungan demi masa depan politik mereka.

Karena itu, “politisasi sepak bola” mestinya dihentikan dan bahkan diganti dengan “sepak bola-isasi politik”. Dalam idiom yang kedua ini, dunia politik kita niscaya perlu menyeret nilai-nilai mendasar yang terpatri secara kuat dalam olah raga sepak bola yang sudah sedemikian mendunia itu. Sportivitas, kejujuran, keadilan, pantang menyerah, bermental baja menjadi bekal yang melekat kuat dalam hati dan benak politisi kita sehingga saat mereka terjun  ke dunia politik, mereka tak ubahnya olahragawan sepak bola yang jempolan.

Politik uang, tak punya rasa malu, jauh dari kejujuran, mau menang sendiri, serakah, rakus, dan suka membolak-balik persoalan adalah kecenderungan watak para elit politik kita yang seharusnya dihilangkan. Mereka semestinya tak malu belajar dari dunia olah raga semacam sepak bola yang sarat dengan nilai-nilai luhur, dan bukan malah kebalikannya, menjadikan sepak bola sebagai alat untuk mencapai ambisinya. Tapi, maukah mereka bersikap seperti itu? Ah, jangan-jangan malah sepak bola yang justru menolak untuk bersanding dengan para elit politik kita! * * *

Sumber gambar: http://stay4liv.files.wordpress.com/2009/05/6.jpg dan http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2010/12/12928637161754561210.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: