AA’ GYM; Pelajaran dari Kebesaran Seorang Tokoh

Aa' Gym

Saya tidak kuasa membayangkan bagaimana perasaan Abdullah Gymnastiar alias Aa’ Gym, dai asal Bandung itu, akhir-akhir ini. Sakit hati, marah, jengkel, kecewa, sedih, bingung; mungkin ribuan perasaan yang ada dalam hatinya tidak mampu ia tampung menghadapi gempuran dahsyat pemberitaan media massa yang menguliti diri dan keluarganya seolah tanpa henti.

Setelah isu poligaminya dengan Teh Rini alias Alfarini Eridani yang konon masih kerabat keluarga mantan Presiden BJ. Habibie terkuak beberapa waktu lalu, kini Aa’ Gym kembali menjadi bulan-bulanan pers setelah kabar perceraiannya dengan istri pertamanya, Teh Ninih atawa Ninih Muthma’innah muncul ke permukaan. Entah siapa yang memunculkan, tiba-tiba saja publik seperti terhentak dengan kabar pisahnya pasangan yang selama ini seolah menjadi cermin bagi banyak kalangan.

Koran, majalah, televisi, radio; hampir semua media cetak dan elektronik membicarakan tentang berita yang bagi sebagian orang sungguh mengejutkan itu. Akibatnya, rumah, jalan, gang, kantor, bahkan mungkin kamar tidur orang-orang tak lepas dari gosip tentang Aa’ Gym dan keluarganya. Kabar tentang Aa’ Gym dan keluarganya layaknya seekor burung yang terbang dan hinggap dari satu dahan ke dahan lain tanpa mampu diketahui apa yang sedang terjadi dengan burung itu. Burung itu bak misteri, bahkan bagi burung-burung yang lain.

Sebagai orang yang selama ini bergiat secara aktif dalam dakwah hingga tak ada orang yang tidak mengenalnya, saya paham, pasti Aa’ Gym menolak dengan teramat sangat keras segala hal ihwal pribadinya diumbar ke hadapan publik. Sebab, bagaimana mungkin ia tidak menolak bila saban hari kediamannya didatangi, ucapannya ditunggui, dan tindak tanduknya diintipi oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. Kalaupun publik diperbolehkan tahu, maka pengetahuan itu mestilah sebatas pada ucapan, nasihat, dan dakwah dirinya selaku mubaligh.

Pemberitaan atas segala hal ihwal pribadi dan keluarganya tidak ada untungnya sama sekali bagi publik, lebih-lebih bagi dirinya selaku tokoh agama Islam. Bahkan pemberitaan yang seolah tanpa batas itu niscaya telah mengarah kepada persoalan yang selama ini justru dibenci dan sekaligus menjadi perhatian Aa’ Gym dalam gerakan dakwah Islam untuk dihilangkannya, yakni ghibah atau bergunjing mengenai keburukan seseorang yang hakikatnya orang tersebut tidak menyukainya.

Aa' Gym dan kedua istrinya

Namun, layaknya pers di negara-negara Barat yang menjunjung tinggi kaidah kebebasan pers hingga seolah tanpa batas, tentu pers di tanah air pun tak mengenal istilah ghibah alias bergunjing. Istilah ghibah termasuk dalam terma agama [baca: Islam] yang tidak selayaknya mendapat tempat secara baku dalam lingkungan pers. Karena itu, insan pers pasti tak ingin menempatkan ghibah atau bergunjing sebagai bagian yang semestinya dilarang dalam kaidah atau kode etik pers.

Justru pers di Indonesia sangat lekat dengan idiom bad news is good news yang bermakna bahwa setiap kabar buruk merupakan berita yang bagus bagi setiap insan yang bekerja di dunia pers. Apalah artinya kabar kenaikan jumlah wajib pajak seperti yang kerap diutarakan Dirjen Pajak dibanding berita mengenai kedigdayaan seorang Gayus yang mampu mengobok-obok institusi peradilan yang seharusnya bersih sebersih kertas putih. Tidak heran bila idiom bad news is good news lekat di benak dan hati para pemburu berita dibanding idiom-idom yang lain.

Jadi, siapa yang tidak ingin tahu urusan “dapur” orang, apalagi tokoh ulama sekaliber Aa’ Gym yang tersohor itu? Pers sepertinya paham, publik tak hanya ingin tahu apa yang diucapkan Aa’ Gym dalam setiap ceramahnya, tetapi mereka juga ingin tahu siapa sesungguhnya figur yang bernama lengkap Abdullah Gymnastiar dalam keseluruhannya itu. Dari mana asalnya, bagaimana keluarganya, siapa saja putra-putrinya, apa saja kegiatan kesehariannya, dan lain-lain.

Harap dimaklumi, publik yang hidup di Indonesia bukanlah publik yang dirundung secara akut oleh paham individualistis yang tidak peduli satu dengan yang lainnya. Mereka akan selalu “peduli” walau kepedulian itu hanya berbentuk ucapan belas kasihan. Dan “kepedulian” inilah yang menjadikan masyarakat di negeri ini masih disebut sebagai masyarakat paguyuban karena seringnya hubungan pribadi antara anggota masyarakat justru menimbulkan ikatan batin yang kuat, dan bukan menimbulkan pamrih.

Aa’ Gym mungkin sadar bahwa dengan menunjukkan momen kegiatan dakwahnya bersama istri tercintanya, Teh Ninih di berbagai media massa (ingat: sangat jarang ulama membawa-bawa istrinya dalam kegiatan dakwah), ia seolah ingin berbicara kepada publik bahwa, beginilah semestinya sebuah keluarga sakinah dalam Islam terbentuk. Ia bisa saling bercanda, saling menggoda, dan bahkan memboncengkan istrinya dengan sepeda kesayangannya.  Momen hidup seperti ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh para pemburu berita.

Namun, pada titik inilah sejatinya Aa’ Gym tidak sadar pada diktum bahwa sepanjang media massa telah mencengkeram kehidupan seseorang bak selebritis, maka jangan berharap media akan rela melepaskanya. Karena itu, ketika media massa berkehendak untuk memotret kehidupan Aa’ Gym yang penuh berkah, bersahaja, dan dibaluri kebahagiaan; sejatinya, media massa tetap menunggu saat-saat yang tepat beragam kasus yang berkebalikan dengan itu semua muncul dari Aa Gym untuk disebarkan ke hadapan publik, termasuk poligami dan perceraian.

Mengapa media massa bisa berbuat seperti itu? Karena media massa, baik cetak maupun elektronik memang tidak berkehendak untuk memilih! * * *

Sumber gambar: http://srikayaku.files.wordpress.com dan http://ruanghati.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: