MENONTON STEVEN SEAGAL BERCINTA

Hingga kini saya tidak tahu kenapa saya begitu menyukai film-film yang

Steven Seagal

dibintangi Steven Seagal, aktor laga asal AS yang minim ekspresi itu. Saya bahkan bisa menonton film-filmnya lagi, lagi, dan lagi seolah tanpa berhenti. Saya kini jadi percaya bahwa suka, senang, atau cinta memang absurd. Susah untuk diterangkan dengan kata-kata.

Mengapa bisa seperti itu? Ya, karena kalaupun disuruh memetakan faktor penyebab kesukaan terhadap film-film Seagal, saya memang benar-benar tidak bisa. Sungguh! Pokoknya, saya suka film-filmnya Steven Seagal! Titik, habis perkara. Tak peduli banyak orang yang tidak suka kepadanya, tak peduli banyak pecandu film yang mencaci makinya, tak peduli banyak kritikus yang mencela film-filmnya.

Fanatik? Naif? Bodoh? Mungkin iya! Jujur, apresiasi saya terhadap film memang rendah. Saya bahkan tidak paham apa yang menjadikan sebuah film dinilai “terbaik”, “terpuji”, “jelek”, “buruk”, atau “asal-asalan”. Jadilah, saya berpikir awut-awutan tentang sebuah film. Film yang dalam benak saya bagus, nyatanya bisa dibilang jelek oleh para kritikus film di koran atau majalah. Film yang bikin saya melengos dan pergi malah dapat beragam penghargaan.

Saya memang memiliki preferensi tersendiri terhadap sebuah film yang disebut “bagus” atau “jelek”. Bagi saya, film yang “bagus” adalah film yang mampu membuat mata saya melotot, pantat betah duduk berlama-lama, dan hati tertambat tanpa teralihkan pada yang lain. Tak peduli ia film bergenre apa; komedi, horor, laga, drama, atau yang lain. Sebaliknya, film yang “jelek” adalah film yang menjadikan mata saya mengantuk atau berkehendak untuk segera meninggalkannya.

Kadang-kadang saya suka menjawab sendiri bahwa saya suka film Seagal lebih karena faktor kekerasan yang ada di dalamnya dibanding keutuhan jalinan cerita. Sebagai seorang tokoh “kebaikan” ia mempraktikkan adu pukul, adu tendang, atau adu peluru yang dimilikinya secara indah. Tapi, ternyata jawaban ini juga tidak selalu benar. Sebab, banyak film-film yang bertema kekerasan justru kerapkali menjadikan saya mual dan seolah hendak muntah.

Steven Seagal dalam sebuah aksi

Mungkin pula saya suka Seagal karena ia mempraktikkan seni bela diri yang kental dan menyeluruh dalam film-filmnya. Bisa iya, bisa tidak. Karena pada kenyataannya saya juga bukan orang yang terlalu suka dengan film laga yang dibintangi oleh aktor-aktor, semacam Stallone, Van Damme, Lundgren atau bintang-bintang laga Asia, seperti Jacky Chen, Andy Lau, ataupun yang lainnya.

Jadi, apa dong?!

Oh, ya. Saya penggemar fanatik aikido! Mungkin ini yang menjadikan saya tergila-gila dengan Steven Seagal, bahkan hingga kini. Sejak Seagal bermain dalam film pertamanya Above The Law (1988) hingga film terakhir yang dibintanginya, yakni Born To Raise Hell (2010) aikido menjadi satu-satunya formula yang membuat saya tidak pernah meninggalkannya. Lagi-lagi, saya tidak tahu kenapa saya suka aikido.

Namun, bagi saya, aikido di tangan Seagal menjadi seni bela diri yang sangat unik, bahkan dibanding seni beladiri lain, seperti karate, silat, kung fu, atau taekwondo sekalipun. Sebagai seni bela diri, aikido jauh dari kesan garang, kasar, dan keras. Aikido berkesan sebaliknya lembut, halus, dan membuai. Meski demikian, seperti umumnya seni bela diri lain, aikido juga berfungsi melumpuhkan dan mematikan.

Saya berpandangan bahwa keindahan film-film Seagal terletak pada gerakan tangan dan tubuhnya saat melumpuhkan lawan di atas medan tanding yang dikemas dalam nuansa sinematografi unggul. Gerak memutar, menyusup, dan berbalik merupakan cara khas aikido yang kerap ditampilkannya dalam mengendalikan lawan-lawannya. Teknik aikido yang memang tidak menggunakan banyak tenaga dan sedemikian efisien ditunjukkannya secara paripurna.

Maka fungsi Seagal dalam keseluruhan film adalah melumpuhkan lawan atau musuh-musuhnya, bukan yang lain. Apalah artinya seorang Seagal jika ia berlagak layaknya Richard Gere atau Michael Douglas dalam melumpuhkan wanita di atas ranjang. Jauh dari kesan asyik, bahkan perlu ditertawakan! Sebab, itu memang bukan watak dan gayanya. Tapi, inilah yang coba disuguhkan Seagal dalam Born To Raise Hell (2010) yang menjadikan saya terpingkal-pingkal saat menontonnya.

Penasaran? Tonton saja filmnya!* * *

3 Responses

  1. Temen saya lain lagi Pak. selain Aikido-nya, dia kagum sama rambutnya om Seagal yang ga berubah walau doski bergerak memutar dan menghantam lawannya. Saya sendiri suka dg gayanya yg begitu santai saat melumpuhkan lawan, meskipun agak kurang sreg karena seringkali dia ga dapat lawan yang cukup tangguh dan berimbang. jadilah dia selalu menang dg cukup mudah. Dijotos kayak gimana pun, dia ga pernah mengerang “aduoh!” atau setidaknya mengernyitkan bibirnya saat berdarah. After all, aikido pak steven emang yahud. dan pensaran jg kalau dia tampil flamboyan ya…kapan2 musti nonton

    • He..he..Iya, Mas Rudi. Aikido memang diciptakan sebagai bela diri yg “santai”. Mungkn cocok juga bgi orang yg berwatak santai ha..ha..

  2. Saya juga suka Steven Seagal. Gayanya cool dan nggak genit spt James Bond. Body-nya juga tinggi besar. Jadi ada kesan macho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: