ILMU KEBAL SAYA DAN AMALAN-AMALAN ITU

Sebagai mantan tentara KNIL dan Heiho di masa penjajahan Belanda dan Jepang, saya tahu kakek saya memiliki ilmu kebal. Kakek memang tidak pernah menunjukkan kepada saya tentang ilmunya itu, tapi saya meyakininya. Cerita-cerita kakek di masa perang dan kesehariannya sesudah pensiun dari dinas ketentaraan menjadi bukti keyakinan saya itu. Apalagi nenek saya yang baik hati selalu menambahi cerita itu tanpa bermaksud membesar-besarkannya.

Kata nenek, kakek adalah penganut kejawen tulen, meskipun di kartu tanda penduduk tertulis Islam. Dari paham kejawen itulah kakek meniti jalur untuk mendapatkan ilmu kebal. Kakek rajin berpuasa. Kakek kerap mempraktikkan “amalan-amalan”. Cerita kakek, ilmu kebal dan sejenisnya sangat bermanfaat bagi dirinya sebagai tentara rakyat dalam menghadapi ganasnya militer Belanda, lebih-lebih Jepang.

Sejujurnya, memang ada yang aneh dengan kakek setelah ia pensiun dari dinas ketentaraan. Hingga kakek meninggal di tahun 1989 saya tidak pernah melihat satu kalipun dari tubuh kakek mengeluarkan darah. Ya, darah! Padahal betapa sering kakek menggunakan benda-benda tajam, seperti pedang, keris, atau golok untuk beres-beres di rumah. Beberapa kali saya melihat kakek tergores benda-benda tajam itu, tapi tak sekalipun darah keluar dari tubuhnya.

Ketika menginjak usia SD, kakek menginginkan saya mewarisi ilmu kebalnya itu. Entah kenapa saya yang diminta kakek. Padahal, dari enam cucu kakek, ada lima lelaki yang semestinya bisa dijadikan sebagai “korban”. Namun, kakek ternyata memilih saya. Tentu saja saya tak menolak permintaan kakek karena dalam bayangan saya, ilmu kebal warisan kakek akan menjadikan saya seolah übermensch yang kuat, berani, dan sangat super untuk meminjam istilah Nietzsche.

Sayangnya, impian kakek dan saya hanya sia-sia belaka. Sebab, saya tidak mampu melaksanakan segala persyaratan untuk menjadi manusia super. Sungguh, betapa berat persyaratan itu. Di usia menjelang 11 tahun saya harus menjalani puasa mutih selama satu minggu yang diakhiri dengan pati geni di hari yang terakhir. Saya menyerah! Saya tak kuat! Di hari yang kelima saya memutuskan untuk menyerah.

Saya tak mampu membayangkan wajah kakek saya. Kecewa, sesal, dan sedih. Lecutan semangat darinya setiap hari tak mampu menumbuhkan keinginan saya untuk meneruskan puasa mutih dan pati geni. Bagi saya, tempe dan tahu goreng serta sayur asem lebih terasa nikmat dibanding kepemilikan ilmu kebal. Wajar pikiran anak kecil! Jadilah, übermensch bak layang-layang putus.

Hingga kini sebuah pertanyaan kerap menggelayut di ranting benak saya, kenapa dulu kakek saya memilih saya untuk mewarisi ilmu kebal miliknya? Mengapa bukan saudara-saudara saya yang juga lelaki seperti saya?

Pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, tapi kemudian sulit untuk menjawabnya. Mengapa? Karena apa yang dilakukan kakek saya kepada saya dahulu ternyata juga sering dilakukan oleh beberapa orang kepada saya. Bahkan hingga kini ketika usia saya menuju setengah abad.

Sewaktu saya kuliah di Yogya, seorang seniman yang juga kyai kampung memberikan “bacaan-bacaan” yang harus diamalkan oleh saya jika saya hendak menjadi manusia yang “dikasihi atau disayangi” sesama. Menurut seniman itu, hanya saya yang pantas memperolehnya, bukan yang lain. Saya hanya tersenyum sambil berusaha menyenangkan hatinya. Saya memang selalu ingat akan bacaan itu, tapi saya amat jarang mengamalkannya.

Kejadian yang hampir sama juga saya alami sesudah saya menikah dan tinggal di Bogor. Seorang ustadz di kota Bogor memberi saya bacaan-bacaan yang harus saya amalkan setiap selesai sholat. Tak cukup itu, ia juga menyarankan agar saya membaca kalimat-kalimat itu setiap menjelang tidur. Diyakini, bacaan-bacaan itu akan menjauhkan saya dari kefakiran. Saya tak akan jatuh miskin!

Apakah saya kini mewarisi ilmu kebal kakek saya? Apakah saya kini menjadi orang yang “dikasihi” sesama? Apakah saya sekarang menjadi orang yang jauh dari miskin? Ah, boro-boro! Hingga kini saya merasa tak kebal, jauh dari dikasihi sesama, dan dekat dengan kefakiran.

Sumber gb: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f6/Golok.jpg

One Response

  1. Cerita masa lalu yang menyentuh . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: