“PAUS SASTRA” DAN “PAUS” ILMUWAN LAIN

HB. Jassin di ruang kerjanya

Ribut- ribut soal Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin yang ditelantarkan pemerintah, semua pihak yang peduli dengan kehidupan sastra berhak untuk marah. Betapa tidak, hidup H.B. Jassin adalah hidup untuk kemajuan sastra. Ketekunan dan ketelitian pria bernama lengkap Hans Bague Jassin menjadikan ia dikenal sebagai kritikus dan dokumentator sastra terkemuka di tanah air.

Begitu besarnya pengaruh H.B. Jasin sampai-sampai sastrawan Gajus Siagian (alm.) menjuluki Jassin sebagai “Paus Sastra Indonesia”. Siagian menjuluki Jassin karena hanya Jassin seorang yang dinilai mempunyai otoritas untuk membaptis seseorang menjadi “sastrawan”. Meskipun kedengarannya berlebihan namun begitulah adanya. Tanpa Jassin, sulit sekali nama seseorang diklaim sebagai sastrawan di kancah sastra nasional.

Saya tidak hendak membicarakan kisruh PDS H.B. Jassin dan kiprah Jassin yang telah meninggalkan warisan lebih dari 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi para pengarang yang dihimpun dan tersimpan di PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Biarlah urusan kisruh itu menjadi bagian dari pertanggungjawaban pemerintah sebagai pemegang otoritas suatu lembaga kebudayaan.

Saya hanya hendak mengungkapkan bahwa pada kenyataannya betapa tidak sedikit “Paus-Paus” di bidang keilmuan lain di negeri ini, selain Jassin di bidang sastra. “Paus-Paus” itu bak menjajah benak dan hati kita sehingga kita susah untuk berpaling dari nama dan kiprahnya yang telah tertulis dalam lembaran sejarah. Paus itu seolah sendiri, berdiri dalam wujud rupa yang menantang, kepada siapa saja yang mampu melampauinya. Walau demikian, rupa itu mungkin jauh dari arogan, apalagi pongah.

Di bidang ekonomi, sungguh pikiran kita tak mungkin berpaling dari nama besar Widjojo Nitisastro. Banyak pihak, baik negarawan maupun ilmuwan dari seluruh dunia mengakui bahwa dialah arsitek utama pembangunan ekonomi Indonesia di masa Orde Baru. Kelihaian dan kepiawaian peraih Ph.D dari University of California at Berkeley (USA) itu telah membawa Indonesia keluar dari berbagai krisis yang telah diwariskan oleh pemerintahan Sukarno.

Pemikiran Widjojo seolah tak lekang oleh arus pergantian pemerintahan. Sejak Soeharto hingga Gus Dur nama Widjojo tetap semerbak dan bahkan jejak-jejaknya dapat ditelusuri hingga pemerintahan SBY. Begitu besar gaung Widjojo hingga banyak pihak mengusung konsep pemikirannya sebagai Widjojonomics. Padahal, Widjojonomics adalah pemikiran ekonomi Keynesian yang mengombinasikan antara mekanisme pasar dan intervensi pemerintah dengan menekankan prinsip kehati-hatian yang “sangat”.

Di bidang sosiologi, nama Selo Soemardjan tak mungkin dihilangkan dari kamus ilmu sosiologi di tanah air. Berkat ketekunan dan keterampilannya alumnus Cornell University itu dijuluki sebagai Bapak Ilmu Sosiologi Indonesia. Tak ada yang menolak karena semua pihak yang bergelut dalam sosiologi tak pernah ragu untuk mengakui peran dan kiprahnya dalam membangun sosiologi sebagai bidang keilmuan.

Tak hanya itu, disertasi Selo yang berjudul Social Changes in Jogyakarta kemudian dibukukan dan bahkan menjadi acuan kebanyakan sarjana asing yang menulis tentang perubahan sosial di Indonesia pasca kemerdekaan. Sedemikian lekatnya sosiologi dengan Selo Soemardjan sampai-sampai seorang mantan asistennya, yakni Drs Wahyu Sardono (alm.) atau yang lebih dikenal sebagai Dono Warkop memelesetkannya menjadi “Selologi”.

Widjojo Nitisastro dan Selo Soemardjan secara tak sadar sebenarnya telah menjadi “Paus-Paus” di bidang keilmuan lain yang sulit untuk ditandingi kiprah dan keilmuannya oleh orang lain. Adakah bidang-bidang keilmuan sosial lain juga mengalami persoalan yang sama? Tentu, anthropologi tak jauh dari nama Prof. Koentjaraningrat sebagai “Paus Anthropologi” dan sejarah lekat dengan Prof. Sartono Kartodirdjo sebagai “Paus Sejarah”, sedangkan politik tak jauh dari Prof. Miriam Boediardjo.

“Paus” tak ubahnya puncak keilmuan yang telah didaki dan direbut oleh seorang ilmuwan sepanjang hayat. Ilmuwan lain sulit untuk menandinginya kalau tidak memiliki “sesuatu” yang memang layak dijual kepada khalayak atau publik. Sejarah telah menentukan nasib seseorang di mana seseorang dapat berdiri! Ketelitian, ketekunan, dan kepiawaian menjadi kuncinya jika kita ingin melewati kapasitas dan intelektualitas para “Paus” tersebut.

Apakah ini sebenarnya sebuah persoalan? Mungkin, bila kita melihatnya dari perspektif dunia pendidikan di negeri kita yang kerap dipandang dan dinilai sebagai basis bagi kemunculan “Paus-Paus” itu. Sebab, perihal tersebut dapat dibaca bahwa dunia pendidikan kita tak lagi kuasa dan mampu menghasilkan ilmuwan-ilmuwan mumpuni yang setara dengan kualitas para “Paus”. Para “Paus” kebanyakan adalah hasil didikan dan ajaran di masa penjajahan Belanda atau Jepang.

Tapi, benarkah para “Paus” itu memang benar-benar “Paus” dalam pengertian sebenarnya, bukan sekadar mitos yang diciptakan oleh para pemujanya? Saya tidak dalam posisi meragukan para “Paus” di negeri ini. Sebab, mereka pasti punya sesuatu hingga layak disebut “Paus”. * * *

Sumber gb: http://prov.jakarta.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: