KENAPA TAKUT DENGAN FILSAFAT?

Seorang teman karib yang juga istri dari sahabat saya mengirimkan curahan hatinya kepada saya. Kata dia dalam pesannya melalui jejaring sosial.

The Thinker

“Met malam, Mas Sigit. Maaf mengganggu. Mau curhat dikit. Coba Mas  lihat “catatan” yg dibuat suamiku berminggu-minggu, tak kenal waktu. Susah hati aku melihatnya “bertahan” seperti itu. Kupikir musibah bertubi-tubi yang menimpa kami akan membuatnya “belajar” mengenal kehendak Allah. Tapi, dia masih sama dengan 15 tahun lalu. Dipeluk dan dibacanya tentang Karl Mark, Hegel, Nietzche… dan entah siapa lagi, tapi, tidak sekalipun dibacanya Al-Qur’an.”

Saya tahu dan kenal kedua teman saya itu yang kini telah menjadi sepasang suami-istri. Dalam kategori benak dan hati saya, mereka berdua adalah orang-orang baik. Mereka bukan orang-orang yang tercela alias “orang pinggir jalan”. Saya sebut mereka “orang baik” dalam pengertian mereka adalah orang-orang yang jarang menyakiti hati teman-temannya. Apalagi sampai membuat ulah yang merepotkan.

Sejak lama saya sudah mengenal mereka. Saya mengenal mereka sejak masa-masa kuliah yang mengasyikkan dulu di kota pelajar, Yogya sekitar akhir tahun 80-an hingga pertengahan 90. Karena itu, saya hanya bisa berusaha menerka-nerka kok istrinya mengirimkan pesan seperti itu kepada saya. Pasti ada masalah besar yang sulit untuk dikomunikasikan kepada suaminya. Ah, itu bukan urusan saya.

Tapi, begini. Tiba-tiba saja saya berusaha untuk menjawab persoalan mereka dengan mengangkat tiga hal yang -menurut saya- cukup penting untuk diungkapkan di sini, yakni cobaan yang bertubi-tubi, filsafat, dan Al Qur’an. Tiga hal itulah yang dalam pandangan saya menjadikan si istri berkeluh kesah mengenai suaminya. Ia seolah tak lagi mampu memahami suaminya karena ketiga persoalan tersebut.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang disebut si istri itu dengan “percobaan bertubi-tubi”. Apakah keluarga itu memiliki utang bejibun? Apakah salah satu dari pasangan itu pernah kena tipu? Apakah suami-istri tersebut dirongrong oleh keluarga salah satu pihak? Entahlah, saya tidak tahu. Tapi, memang kedua teman saya itu telah kehilangan buah hatinya yang sedang sangat lucu-lucunya, si bungsu yang baru menginjak usia setahun.

Jadi, apa yang bisa saya katakan kepada istri dari teman saya itu yang pasti sedang terlanda gundah gulana?

Saya hanya bisa berucap, sabar. Ini klise, namun itulah memang yang pertama kali harus saya ungkapkan kepadanya. Sabar adalah landasan paling hakiki saat kita didera ujian. Tanpa kesabaran yang tak ada ujung batas, mana mungkin ia mampu bertahan menghadapi gejolak yang niscaya sudah dipendamnya selama ini. Bisa-bisa keluarganya berantakan dan dirinya harus menangung derita dalam rasa sakit.

Kemudian, saya juga berusaha memberi pemahaman kepadanya bahwa filsafat tak sejahat yang dia bayangkan. Bukankah filsafat berasal dari kata philosophia yang bermakna cinta (philos) dan kebijaksanaan (sophos)? Kata Phytagoras, manusia pada hakikatnya dibagi menjadi tiga, yakni mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan, dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Para pecinta kebijaksanaan adalah filsuf.

Sebagai pecinta kebijaksaan, para filsuf tak mungkin menutup mata. Mereka pasti akan selalu membuka benak, hati, dan matanya selebar-lebarnya demi menemukan kebijaksanaan. Mereka akan merengkuh Karl Mark, Hegel, atau Nietzche. Namun, mereka juga tak berat untuk memeluk Ibn Khaldun, Al Ghazali, atau Hossein Nasr. Bagi para filsuf, kebijaksanaan dapat ditemukan di mana saja. Mereka tak ragu untuk percaya kepada premis itu.

Maka yang bisa saya katakan kepada istri dari teman saya itu adalah jangan risau dengan filsafat. Biarkan suaminya itu menggelutinya, bahkan sampai lunglai hingga tak berdaya sama sekali! Percayalah, Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur). Allah niscaya paham sampai titik di mana intelektualitas suaminya itu akan berhenti dan kemudian berbalik untuk kemudian mengkaji Al Qur’an sekeras-kerasnya.

Saya percaya demikian karena Islam sesungguhnya adalah thoriq atau jalan. Islam menuntut setiap umatnya untuk bersikeras dalam mencari jalan kebijaksanaan, kemuliaan, dan bahkan kebenaran. Ada banyak pintu menuju Islam. Pintu-pintu itu akan selalu terbuka dan membuka kepada siapa saja untuk memasukinya. Kesadaran akan muncul saat seseorang “terbentur” hingga ia tak mampu lagi untuk bangun.

Siapa tak kenal Soedjatmoko, intelektual kondang berpaham sosialis yang disebut tak ada duanya di negeri ini. Semua intelektual kelas satu di tanah air memuji dan memujanya. Tulisan-tulisannya menjadi dambaan mahasiswa untuk dibaca, diulas, dan didiskusikan. Konon, setelah melalui berbagai macam jalan yang penuh onak dan ombak, Soedjatmoko justru kembali kepada jawaban Islam sebagai pegangan otak dan benaknya.

Lalu, siapa tak tahu dengan Umar Kayam, si penulis buku “Kunang-Kunang di Manhattan” dan “Para Priyayi” yang legendaris itu? Sepanjang hidupnya ia dikenal “tidak dekat” dengan Islam. Namun, di ujung senjanya Kayam nekad berhaji untuk memuluskan ke-Islam-annya. Konon, saat banyak orang mempertanyakan niatnya itu, Kayam menjawab singkat.

“Jika orang menjadi Islam mulai dari rukun Islam yang pertama, biarlah saya ber-Islam dari mulai rukun Islam yang terakhir menuju yang pertama.”

Jadi, benarlah pernyataan pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Bana seperti yang kerap dikutip Amien Rais mengenai orang-orang Islam yang larut kepada filsafat atau ideologi di luar Islam. Kata Hasan Al Bana, “Mereka itu bagaikan sekumpulan anak kecil yang sedang bermain-main dengan mainan yang baru. Suatu saat mainan itu pasti akan ditinggalkannya…” * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: