KENAPA BELAJAR DI BARAT?

Seorang sahabat bercerita kepada saya. Katanya, pemilik perusahaan tempatnya bekerja kebingungan hendak menyekolahkan anaknya yang sudah selesai menyelesaikan studinya di sekolah menengah atas (SMA). Ia bingung antara memilih belajar ke Amerika/Eropa atau Australia. Sahabat saya itu tak tahu harus menjawab apa saat atasannya itu meminta pertimbangan dirinya.

“Aku bingung harus menjawab apa. Boro-boro belajar di Amerika atau Australia, bahkan belajar di negara-negara yang paling dekat dengan negeri kita, seperti Malaysia atau Singapura saja saya tak tahu,” katanya dengan nada sedikit “serampangan”.

Saya paham, sahabat saya itu tidak terlalu peduli dengan segala macam persoalan yang berkaitan dengan pendidikan. Baginya, tinggi rendahnya pendidikan tidak menjamin suksesnya seseorang dalam pekerjaan. Paling tidak, jabatannya sebagai kepala keuangan padahal ia hanya lulusan sekolah menengah atas telah membuktikan hal itu.

“Kamu jawab apa pertanyaan dari bosmu itu?” tanya saya sedikit penasaran.

“Ya aku jawab saja. Kenapa tidak di Indonesia saja, Pak? Indonesia itu negeri yang super komplit. Orang pinter banyak, orang bodoh juga seabreg. Pakar hukum berlebih, tapi orang yang dihukum juga bejibun. Orang yang cinta damai tidak sedikit, tapi orang yang suka kekerasan juga tidak kurang.”

“Lalu, bagaimana reaksi bosmu?”

“Diam saja. Wong aku juga menjawabnya asal-asalan….”

Saya tersenyum mendengar jawaban sahabat saya itu yang sejak saya mengenalnya tidak pernah berubah sikapnya; serampangan, seenak udelnya sendiri, dan cuek. Hingga tulisan ini dibuat, saya tidak tahu bagaimana akhirnya “nasib” si anak pemilik perusahaan tempat sahabat saya itu bekerja, jadi belajar ke Barat atau tidak.

Tapi, kenapa sih harus belajar ke Barat?

Alasan yang paling sederhana, Barat adalah pusat ilmu. Barat menjadi tempat hampir seluruh pemuda-pemudi di dunia untuk belajar dan menggali kedalaman pengetahuan yang terukir di sudut-sudut kampus yang elit dan mewah di sana. Peradaban dunia Barat yang menjulang tinggi dan mengatasi peradaban-peradaban bangsa lain tentu menjadi kemasan yang layak dijual.

Namun, selalu saja bila ada orang atau pihak-pihak yang memunculkan persoalan studi di Barat, tiba-tiba saya teringat kembali tulisan lama M. Amien Rais (1989) tentang krisis ilmu-ilmu sosial di negeri kita. Kata sang Lokomotif Reformasi itu, kebanyakan alumni universitas-universitas  Amerika yang berasal dari Indonesia hanya melanjutkan belaka kerangka berpikir (frame of reference) yang pernah mereka terima saat mereka studi.

Para alumni itu seringkali tidak mempedulikan bahwa dengan rujukan baku yang made in Amerika itu belum tentu mereka dapat memecahkan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang pelik di tanah air. Para alumni tak peduli karena mereka telah dihinggapi penyakit parrotism, yakni mengikuti tanpa sikap kritis. Tak heran jika alumni Amerika yang pulang ke Indonesia hanya membawa dua pisau analisis, liberalisme dan marxisme.

Ohio State University, Colombus, USA, tempat kebanyakan para mahasiswa Indonesia studi di AS.

Para mahasiswa yang telah selesai studi di AS seolah lupa dengan peringatan Leonard Binder, Profesor Sosiologi dari Universitas Chicago. Kata Binder, ada satu hal yang harus diingat oleh pemuda-pemudi dari luar AS yang ingin belajar di AS, yakni bahwa ilmu-ilmu sosial yang diajarkan di universitas-universitas di AS adalah ilmu sosial yang sesuai dengan masyarakat borjuis-kapitalis sehingga belum tentu sesuai dengan masyarakat Indonesia.

Memang, saat seseorang hendak belajar di Amerika, yang terpikir olehnya hanyalah menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian disumbangkan kepada negeri tercinta. Namun, orang sering lupa bahwa belajar di Amerika tak hanya menyangkut soal ilmu pengetahuan atau metodolog keilmuan, tetapi juga kultur, budaya hidup orang Amerika yang hendak ditempati.

Justru yang terjadi adalah tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang pulang dari Barat dianggap lebih Barat daripada orang Barat sendiri. Pikiran dan benaknya Barat, lebih-lebih lagi sikap dan perilaku hidupnya. Ironisnya, kadangkala ilmu yang sebelumnya hendak digapai justru tidak diperoleh, tetapi yang sukses ia bawa dan tularkan ke bangsanya adalah nilai-nilai kultur Amerika yang bertolak belakang dengan budaya bangsanya.

Maka saya kadangkala “memahami” dengan orang-orang yang sinis terhadap niat seseorang saat hendak studi di Barat, baik Amerika, Eropa, atau Australia. Katanya, ngapain belajar jauh-jauh di Barat. Barat adalah penindasan. Barat adalah pusat kebiadaban. Orang yang belajar di Barat sesungguhnya adalah orang-orang yang sedang belajar untuk menjadi seorang penindas.

Inggris menjadi penjajah bagi hampir semua negara di Asia, Amerika, atau Afrika.  Belanda  bertindak biadab di Indonesia, Papua, Suriname. Perancis menguasai Vietnam, Laos, Kamboja, Aljazair, Timur Tengah. Jerman dominan berbagai negeri di Afrika. Italia melindas Libya, Sudan, dan Somalia. Spanyol mencengkeram Filipina dan negara-negara di Amerika Latin. Australia menindas Papua Nugini dan Aborigin.

Amerika? Hingga sekarang Amerika tak henti-hentinya seolah-olah menjadi polisi dunia yang berhak mengatur dunia, tentu untuk kepentingannya sendiri. Irak, Afganistan, Libya menjadi korbannya secara langsung dengan agresi militernya. Belum lagi persoalan negara-negara lain di berbagai belahan dunia yang ditekan secara diplomatik.

Masih kurang? Dua perang dunia, yakni Perang Dunia I dan II bermula dari peristiwa yang di wilayah Eropa (baca: Barat) karena keserakahan mereka yang bernafsu menguasai wilayah-wilayah di negeri lain. Bahkan karena itu, wilayah-wilayah di benua lain menjadi korbannya. Jadi, memang diperlukan kematangan sikap dalam berpikir dan bertindak sebelum berangkat ke Barat untuk belajar. Siapa tahu ada apa-apa. Wong saya belum pernah belajar di Barat.* * *

Sumber gb: http://www.e-dol.com/wp-content/uploads/2009/01/rodin.jpg dan http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/01/74/63/67/ohio-state-university.jpg

One Response

  1. ane suka tuh cara berfikir sahabat ente yang idealis-praktis-serampangan hahaha lucu aja . iyasih.. pengaruh kultur juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: