“POKOKE’ SLAMET”

“Ati-ati yo. Sing penting slamet….”

Begitulah pesan kedua orang tua saya, ayah dan ibu, setiap saya berpamitan kepada mereka untuk suatu urusan. Bahkan ketika usia saya mulai menuju garis setengah abad, pesan yang bermakna “hati-hati ya, yang penting selamat” tetap beliau ungkapkan. Bagi keduanya, itulah pesan yang pantas diberikan oleh setiap orang tua kepada anaknya, tanpa kecuali.

Dulu saya berpandangan pesan seperti itu merupakan buah tertinggi dari kasih orang tua kepada anaknya. Keselamatan menjadi bukti faktual bahwa orang tua tidak ingin kehilangan anaknya. Mereka boleh kehilangan harta, uang, rumah, atau barang berharga lainnya. Tapi, kehilangan anak? Wow! Sungguh sesuatu yang amat sangat harus dihindari. Kehilangan anak mungkin sama saja dengan kehilangan salah satu anggota tubuh mereka.

Jadi, betapa saya paham bagaimana perasaan kedua orang tua saya kepada saya kala pesan itu diucapkan. Mereka sejatinya sedang menabur benih cinta sebagai elemen paling utama dalam merangkai jembatan hubungan yang abadi antara orang tua-anak. Mereka berharap anaknya memahami bahwa kasih tertinggi orang tua kepada anaknya adalah saat orang tua memesankan kata “selamat” dan bukan kata yang lain.

Secara tersirat, pesan itu mengesahkan kecenderungan orang Jawa kepada filosofi ngalah (mengalah) dalam berhadapan dengan pihak lain. Ngalah dimaknai sebagai keharusan untuk menghindari konflik atau bersitegang dengan pihak lain. Bahkan seandainya pun terjadi, maka konflik yang tersulut akan mudah terselesaikan jika kita memahami dan melaksanakan filosofi ngalah. Harmonisasi antardua pihak menjadi yang utama dibanding konflik.

Dalam filosofi ngalah kita merasa tidak perlu merasa kalah meski kita mendudukan diri bukan dalam posisi “pemenang”. Bahkan bagi kebanyakan orang Jawa, ngalah merupakan refleksi kerendahhatian seseorang saat berhadapan dengan pihak lain. Dengan ngalah, jaminan keselamatan akan diraih tanpa merasa perlu berhadap-hadapan dengan pihak lain yang mungkin lebih kuat atau bisa juga lebih lemah.

Seandainya pun ngalah tidak membawa hasil, kita masih memiliki kiat mendapatkan keselamatan pada filosofi ngalih. Ngalih bermakna berpindah tempat. Namun, ngalih sejatinya tidak melulu berpindah tempat karena ngalih juga membawa seseorang pada suasana baru yang berbeda dengan suasana sebelumnya yang -mungkin- penuh intrik, hasut, dan fitnah. Dengan ngalih, orang akan terjamin keselamatannya karena ia sengaja menghindar dari tempat dan persoalan yang mendera.

Lalu, apa yang akan dilakukan jika ngalih dan ngalah sudah dilakukan, tetapi jaminan keselamatan masih tetap saja belum didapat?

Ngamuk! Ya, orang Jawa memilih mengamalkan ajaran, ngamuk. Ngamuk memiliki banyak makna. Ngamuk bermakna marah, melawan dengan sekuat tenaga, dan tidak mau tinggal diam dengan segala persoalan yang ada. Ngamuk merupakan pilihan yang tersisa dan terakhir yang harus dilakukan demi menjaga keselamatan dirinya. Juga harga dirinya! Batas dirinya yang terus “diinjak-injak” hanya bisa ditegakkan bila kita melawan hingga darah penghabisan.

Sebagai orang Jawa, saya yakin filosofi itu mampu mendudukan pesan orang tua dan anak pada posisi yang tepat. Karenanya, pesan keselamatan berupa “pokoke slamet” akan terjaga bila kita mengiringinya dengan pemahaman yang tepat terhadap filosofi ngalah, ngalih, dan ngamuk.  Bagaimanapun juga, filosofi itulah yang seringkali dipersepsikan sebagai akar dari kesabaran yang dikonotasikan melekat pada orang Jawa.

Karena itu, saya sedikit tidak percaya jika filosofi “pokoke slamet” dan ngalah, ngalih, serta ngamuk itu justru malah dianggap sebagai faktor utama yang menjadikan orang Jawa susah untuk diajak maju. Adalah Prof. James C. Scott, seorang Antropolog dan Guru Besar Yale University yang mengemukakan. Apa alasannya? Kata Scott, karena filosofi itu membuat kebanyakan orang Jawa tidak pernah berani mengambil risiko dalam menjalani hidup. Mereka hanya berpikir “pokoke slamet” alias yang penting selamat.

Saya tersenyum masam mendengar alasan Prof. Scott. Namun, diam-diam saya berusaha mengamati orang-orang Jawa yang berada di lingkaran saya, seperti teman-teman, sahabat, juga kerabat dan saudara. Tak hanya itu karena saya juga mengamati perilaku pemimpin tertinggi kita yang kebetulan adalah orang Jawa, sang Presiden SBY. Tiba-tiba saya ingin tersenyum sendiri. Ah, safety player, memang bukan risk taker.* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: