AKHIRNYA BUKU SAYA, “MASJID TANPA MUJAHID” TERBIT JUGA

“Bukumu bikin aku mau menangis,” cetus seorang teman yang telah selesai membaca buku saya. Saya hanya tersenyum mendengar komentarnya dan menjawab singkat.

“Padahal saya tidak berniat membuat buku yang bisa menjadikan orang menangis.”

“Iya, tapi, bukumu juga bikin aku kadang tersenyum.”

“Aduh, apalagi ini. Saya tidak berniat membuat buku yang menjadikan orang tersenyum.”

Saya jadi bingung dengan pernyataan teman saya itu. Sebenarnya, buku saya membuat dia menangis atau tersenyum?

Ah, biarlah kesan itu sepenuhnya menjadi rahasia teman saya. Buku saya dibaca dan dikomentari orang saja rasanya saya sudah bersyukur. Wong niat saya memang hanya mau bikin buku. Itu saja! Sederhanakan? Tapi, kenapa saya menuliskan kisah-kisah tentang seorang figur yang bernama “Pak Ustadz”?

Sejujurnya, dalam bayangan saya, seorang ustadz adalah seorang lelaki yang memiliki ketinggian akhlak, kesempurnaan ilmu dan keparipurnaan amal. Ia menjadi rujukan bagi siapa saja yang berkehendak untuk mendapatkan pencerahan dalam hidup. Ia tidak pernah mengusir seorang tamu yang datang, tetapi ia juga tidak pernah menolak undangan yang mampir.

Seorang ustadz adalah seorang manusia yang mampu “menutupi” segala kelemahan yang ada pada dirinya sebagai insan Tuhan. Ia marah, tapi tidak pernah terlihat mengumbar amarah. Ia sedih, namun ia selalu mampu mengekang segala derita dan airmata yang jatuh dari pipinya. Ia bercanda, tetapi ia cukup pandai menjaga hatinya agar tidak terjerembab ke dalam jerat “mematikan hati” seperti wasiat yang disabdakan Nabi.

Apakah saya telah menemukannya dalam kehidupan nyata? Entahlah. Saya memang pernah terlibat dalam berbagai macam kegiatan keagamaan saat saya masih kuliah di Yogya, dan bahkan hingga kini ketika saya bermukim di kota hujan, Bogor. Saya pernah mengikuti beragam kajian keagamaan dari mulai yang “keras” hingga yang “lembut”. Saya juga rajin mendengar dan mengamati “lalu-lalang” para ustadz dari medium komunikasi, seperti televisi, radio, majalah atau malah tatapan nyata mata.

Saya mengambil kesimpulan tidak ada figur yang ideal dari seorang ustadz. Masing-masing figur memiliki kekuatan dan kelemahannya. Ada yang memiliki retorika bagus, tapi lemah dalam penalaran. Ada yang kuat dalam pemahaman, namun menjemukan dalam penyampaian. Ada yang berlaku layaknya motivator jempolan, namun ternyata minus dalam pengetahuan ayat-ayat Al Qur’an.

Maka saya tidak menampik bila ada beberapa kisah dalam buku saya itu dituding sebagai, ah, ini khas penyelesaian ustadz A atau oh ya, ini kisah yang pernah dituturkan ustadz B, atau malah, walah ini sih kasusnya ustadz C. Sekali lagi, saya tidak menampik. Sebab, saya memang menuliskan semua itu dari hasil “perkelahian” yang seru dalam mata, benak, dan hati setelah mendengar, membaca, dan mengamati beragam peristiwa yang terjadi.

Saya hanya berpikir bahwa kisah-kisah yang saya tulis dapat memberi manfaat bagi orang lain. Saya tidak berharap tulisan-tulisan yang saya suguhkan dapat mengubah pandangan, sikap, atau tabiat seseorang. Jauh dari niat itu! Semacam renungan setelah membacanya lebih saya harapkan sebab dari renungan biasanya muncul sikap kritis, baik terhadap diri maupun terhadap isi tulisan.

“Tapi, kok namamu jadi A. Husna?” tanya teman saya lagi.

Kali ini saya tak menjawab. Biarlah itu menjadi rasa penasaran dirinya untuk terus menebak-nebak kenapa saya menggunakan nama A. Husna dalam buku itu.* * *

2 Responses

  1. Wah ….
    Selamat ya mas Sigit

    Pasti isi bukunya bagus, terutama segi manfaat/ilmu
    Ada edisi free gak? hehehe

    Sukses lah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: