SUNNAH-SYIAH DAN ISLAM PRA SIFFIEN

Entah kapan konflik Sunnah-Syiah akan berakhir, tak ada seorang pun yang tahu. Sejarah pertikaian antar kedua kelompok dalam Islam itu seolah akan menjadi kisah abadi, sepanjang bumi masih dihuni oleh orang-orang yang mengaku dirinya muslim. Dua peristiwa paling akhir yang terjadi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, seakan menguatkan hal itu.

Di Yaman, pemberontak Syiah Houti menyerang habis-habisan Pesantren Darul Hadist yang didirikan ulama sunnah terkemuka (alm.) Sheikh Muqbil Bin Hadi Al Wadie di distrik Dammaj,  sejak bulan Oktober 2011. Puluhan santri tewas dalam peristiwa tersebut dan ribuan santri lainnya masih terkepung, tanpa mampu memberikan perlawanan yang berarti. Dua santri asal negeri kita yang sedang belajar di sana juga ikut tewas.

Di Madura, sebuah kompleks Pesantren Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, dibakar massa pada Kamis (29/12) sekitar pukul 09.15 WIB. Pembakaran itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa, tetapi ratusan warga yang tinggal di kompleks itu harus kehilangan harta benda, tanpa tahu apa yang hendak mereka lakukan selanjutnya.

Jujur, setiap mendengar konflik Sunnah-Syiah muncul di media cetak atau elektronik, yang pertama terlintas di benak saya adalah mantan guru saya dulu ketika saya belajar sejarah, yakni Prof. Ahmad Syafii Ma’arif. Kenapa Buya Syafii? Karena dari dialah saya pertama kali melihat wajah seorang intelektual muslim terkemuka yang seolah sudah begitu jenuh dan bosan mendengar segala macam tentang Sunnah-Syiah.

Sekalipun seolah jenuh dan bosan, Buya Syafii seperti tak pernah kehilangan nalar sehat saat membahas tentang hal itu di ruang-ruang kuliah. Baginya, konflik  Sunnah-Syiah adalah konflik yang unik, tapi sekaligus melelahkan di mata umat Islam secara keseluruhan. Bagaimana tidak unik bila konflik itu sejatinya hanya bermula dari perang di sebuah kampung kecil bernama Siffien yang terletak di sebelah Barat Sungai Furat, di perbatasan Suriah dan Irak .

Seperti kita ketahui, dalam Perang Siffien yang terjadi pada pada 657 -658 M, pasukan Ali hampir saja bisa memenangkan perang. Namun, berkat kelihaian Amr bin Ash -ketua perunding dari pihak Muawiyah yang melawan Ali- dalam berdiplomasi, akhirnya pihak Ali dikalahkan. Bukan dalam medan perang yang sesungguhnya, melainkan di meja perundingan.

Meski di kampung kecil, dampak Perang Siffien ternyata sangat melelahkan karena melumuri jalannya umat Islam pada tahun-tahun yang terus berputar, dan bahkan hingga kini. Perang Siffien tak hanya memunculkan kelompok Syiah (Partai) Ali dan Khawarij, tapi pada akhirnya juga menimbulkan klaim-klaim politik dan teologis yang memperparah pertikaian antar kelompok dalam Islam.

Karena itu, bagi Buya Syafii, konflik Sunnah-Syiah, dan bahkan konflik-konflik yang lain dalam Islam, hanya bisa diselesaikan jika umat Islam mau menengok kembali secara cerdas dan jujur warisan sejarah dan teologis di masa lalu. Tanpa itu, konflik akan terus berlangsung dan hanya memungkinkan umat Islam gagal memanggul tugas dan tanggung jawab Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Buya Syafii menyebut warisan sejarah dan teologis itu sebagai Islam Pra Siffien, yakni Islam yang dipeluk dan dianut, dibaca dan dipahami, oleh umat Islam sebelum terjadinya Perang Siffien. Islam Pra Siffien adalah Islam yang belum dilumuri daki-daki sejarah oleh insan-insan Tuhan yang penuh ambisi dan hawa nafsu tanpa berperi. Ia masih asli, orisinil karena ia memang Islamnya Muhammad, Sang Nabi yang langsung diberikan Tuhan.

Alhasil, Islam Pra Siffien akan menjadikan umat Islam berpikir, bertindak, dan berbuat tanpa atribut, label, atau embel-embel. Islam Pra Siffien akan meniadakan semua kelompok atau golongan. Tak ada lagi sebutan Islam Syiah, Islam Khawarij, Islam Sunni, Islam Wahabi, dan Islam-Islam yang lain. Bukankah Nabi Muhammad juga menginginkan umat Islam sebagai ummatan wahidah, umat yang satu?

Hingga kini, saya tidak tahu, apakah Buya Syafii masih terus mengkampanyekan gagasannya itu atau tidak. Hanya yang saya tahu, di tengah-tengah dakwah Islam, sekarang telah muncul sebuah gerakan dakwah yang mengajak umat Islam untuk kembali kepada warisan dan pemikiran generasi awal Islam, yakni generasi sahabat. Mereka menyebutnya sebagai Salafi.

Mirip dengan ide Islam Pra Siffien, dakwah Salafi mengajak umat Islam untuk ber-Islam seperti halnya para sahabat ber-Islam. Dari mulai berpikir, berbuat, bertindak, dan beramal; semua harus mengacu kepada generasi awal, yakni generasi sahabat. Kenapa sahabat? Karena para sahabatlah -dan bukan ulama, intelektual, pakar, ahli- yang pertama kali belajar Islam secara langsung dari sumbernya yang otentik, yakni Nabi Muhammad.

Apakah pemikiran Buya Syafii tentang Islam Pra Siffien seiring dan sebangun dengan dakwah Salafi? Seratus persen saya tidak yakin, bahkan seribu persen. Buya Syafii pasti akan menolak jika gagasan Islam Pra Siffien dianggap sama dengan dakwah Salafi. Demikian pula, para tokoh salafi di negeri kita pasti keberatan jika garis pemikirannya dinilai tak berbeda dengan pemikiran Buya Syafii.

Tak percaya? Tanya saja kepada kedua pihak itu! * * *

One Response

  1. Sebenarnya pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis (cucu Umar bin Khattab r.a.) pernah ada upaya rekonsiliasi. Sayang sang khalifah meninggal di usia muda dan upayanya tidak dilanjutkan oleh khalifah pengganti. Sejarah kemudian mencatat bahwa sunni dan syiah selalu terseret dalam perseteruan politik dan kekuasaan hingga saat ini. Toleransi merupakan solusi yang paling masuk akal dibanding penyatuan 2 kelompok yg telah bertikai hampir 13 abad tersebut.
    Mungkin kita bisa ambil contoh konflik katholik vs protestan yang terjadi 5 abad lalu.. Meskipun dari pihak katholik juga melakukan reformasi internal terhadap masalah yang menjadi sumber konflik dan cenderung bersikap kooperatif dan sering melakukan rekonsiliasi terhadap protestan beberapa dekade terakhir, toch tetap mustahil menyatukan mereka. Hasil terbaik yang dicapai adalah saling memaafkan dan mengubur masa lalu untuk bersama-sama melangkah ke depan pada jalannya masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: