LENGKAP SUDAH TUHAN MENGUJIKU SEPULANG HAJI

“Aku cari-cari ternyata di sini.”

Ia datang tergesa-gesa dengan napas satu-satu. Menemui saya di tempat saya biasa nongkrong, serambi masjid di masjid kantor. Tubuhnya ringkih, meski belum lagi menuju usia limapuluh. Wajahnya kelu, seperti ada beban yang menyelimuti. Matanya sembab, seakan kekurangan istirahat. Entah apa yang ada dalam pikirannya selama ini.

“Memang ada apa?” tanya saya kepada Jalu.

Saya biasa memanggilnya Jalu dari nama dia Janu. Entah mengapa, saya lebih suka memanggilnya demikian. Nama Jalu seolah pas sekali dengan sosoknya. Keras, Kuat, dan pemberani. Nama itu selalu mengingatkan saya kepada sosok ayam jantan yang berjalu. Tapi, itu dulu, bukan sekarang.

“Nggak ada apa-apa.”

“Bener nih?”

Jalu tampak ingin bercerita banyak kepada saya. Entah cerita apa. Seluruh gerak tubuh dia menandakan seperti itu meski dia mengatakan tidak ada apa-apa. Tapi, saya memang ingin menegaskan. Tak mungkin mencari-cari kalau tak ada keperluan.

“Aku hanya mau tanya, menurut kamu, saat aku haji dulu mabrur enggak?”

Saya tersentak. Coba melihat cara dia bertanya. Serius, setengah serius, atau main-main. Dari mulai dia berusaha mencari saya hingga muncul pertanyaan seperti itu, saya yakin Jalu serius . Namun, bagaimana saya mesti menjawab?

“Lho, memang kenapa?” tiba-tiba tiga kata itu sudah meluncur dari bibir saya, tak bisa dicegah.

“Soalnya semenjak aku haji, kehidupanku tidak malah lebih baik, bahkan lebih buruk. Inikan aneh. Biasanya orang setelah haji itu hidupnya tambah enak, nikmat, sejahtera. Pokoknya calon penghuni surga. Ini malah beda seratus delapan puluh derajat. Makanya aku curiga, jangan-jangan hajiku keliru hingga jauh dari mabrur.”

Saya ingin tertawa keras-keras. Sebab, omongan Jalu jauh dari nalar. Kenapa mesti menyalahkan haji di Mekah jika hidupnya amburadul setelah menunaikan ibadah haji?

“Ah, ada-ada saja…”

“Eh, bener.”

Jalu lalu bercerita secara panjang lebar tanpa berusaha untuk membesar-besarkan atau mengecil-kecilkan kisahnya. Ia berusaha jujur. Kata Jalu, semenjak kepulangannya dari berhaji atas biaya kantor tiga tahun lalu, kehidupannya laksana kapal yang terombang-ambing di laut lepas. Penderitaan seolah datang bertubi-tubi tanpa mampu ia hindari.

Istrinya yang sudah dinikahinya hampir sebelas tahun dan telah memberinya dua anak, meminta cerai. Alasannya, tak jelas, konon karena tidak ada kecocokan lagi. Belum selesai itu dilalui, Jalu harus menerima kenyataan pahit, ia mesti lengser dari kedudukannya sebagai kepala bagian yang sudah didudukinya selama delapan tahun.

Belum lenyap rasa sedih akibat kehilangan jabatan, rasa pusing yang menderas tiba-tiba menyerangnya hingga akhirnya ia terjatuh sepulang dari kantor. Di rumah sakit ia mesti berhari-hari menginap, sampai kemudian muncul kesimpulan yang menyentak hatinya. Dokter memvonis dirinya terkena serangan stroke.

Saya terkesima mendengar penuturan Jalu meski saya sudah lama mendengar desas-desus mengenai dirinya di lingkungan kantor. Namun, saya lebih terkesima lagi ketika Jalu menutup kisahnya itu dengan ucapan yang menyentak hati saya.

“Lengkap sudah Tuhan mengujiku sepulang dari haji. Semoga ini tidak berlanjut hingga menuju kematian….”

Saya tidak mampu berkata-kata. Saya hanya mampu menatap seluruh tubuh Jalu yang kini seolah ringkih.

“Sabar ya….”

Saya tahu ada rahasia Tuhan di balik kehidupan Jalu yang dia sendiri mungkin tidak menyadarinya. Tapi, apa?! Ah, saya benar-benar tidak tahu sampai kemudian saya kembali mendengar desas-desus kalau Jalu diminta mengundurkan diri sebagai karyawan di kantor saya akibat kesehatannya yang terus menurun.  ***

4 Responses

  1. kisah yg sarat sekali dengan makna kehidupan

  2. […] LENGKAP SUDAH TUHAN MENGUJIKU SEPULANG HAJI […]

  3. Sopo iki, pakde?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: