WIDJOJO, UJANG, DAN ELITISME PENDIDIKAN ITU

Arsitek ekonomi Orde Baru, Widjojo Nitisastro sudah tiada. Ia berpulang padaWidjojo Nitisastro hari Jumat 9 Maret 2012 pukul 02.30 WIB setelah menderita sakit yang cukup lama. Widjojo meninggalkan keluarga, sahabat, murid, pemuja, dan bahkan -mungkin- “musuh-musuhnya”. Banyak orang yang kagum, memuji, dan bersepakat dengannya, tetapi tidak sedikit yang mengritik, mengecam, dan bahkan membenci gagasan-gagasan yang muncul dari benaknya.

“Mafia Berkeley” menjadi sebutan yang telah melegenda. Boleh jadi Widjojo dan koleganya, M. Sadli, Emil Salim, Ali Wardhana, Soebroto, atau Soemarlin, “berterima kasih” kepada aktivis-penulis “kiri” AS, David Ransom. Karena dari Ransom itulah nama “Mafia Berkeley” melambung dalam jagat intelektual dan ekonomi-politik negeri ini setelah ia menulis dalam sebuah artikel Rampart Edisi 4 tahun 1970. Rampart adalah majalah yang awalnya terbit sebagai corong kelompok Katolik, tapi belakangan menjadi media kelompok “kiri baru”.

Saya tidak tahu siapa itu Widjojo Nitisastro, pada mulanya. Nama itu terasa asing bagi saya yang memang lahir, menyelesaikan masa kecil dan remajanya di daerah yang juga “asing”. Saya mulai mengenal diri dan kiprah Widjojo setelah saya kuliah di Yogya dan berteman secara akrab dengan seorang mahasiswa jurusan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi (FE), Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya dan teman-teman biasa memanggilnya Ujang, tanpa tahu siapa nama dia sebenarnya (di mana dia sekarang?).

Ada yang -menurut saya- “aneh” dari Ujang ini. Setiap menyebut nama Widjojo wajah Ujang seperti dua sisi mata uang, berbeda tapi menyatu dalam satu bentuk. Di satu pihak, seolah ada ketidaksukaan yang tak pernah surut pada wajahnya, tapi di pihak lain, seakan ada getar bangga yang tak terhindarkan saat berbicara mengenai Widjojo. Paradoks? Mungkin. Tapi, kedua wajah itu bisa berubah-ubah dalam waktu seketika, tanpa perlu hitungan hari, bulan, atau tahun.

Bagi Ujang, Widjojo adalah pilot yang membuat negeri ini tersandera oleh liberalisme pasar yang absurd karena menanggalkan warisan gagasan-gagasan besar semacam Ekonomi Berdikari-nya Sukarno atau Ekonomi Kekeluargaan-nya Bung Hatta. Dengan konsep triloginya yang berintikan pada pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, dan pemerataan pembangunan, Widjojo secara langsung telah menancapkan kapitalisme-liberalisme sebagai wajah tunggal ekonomi di negeri ini, bahkan hingga sekarang.

Widjojo niscaya bisa mengelak, bahwa hanya itulah wajah realistis dan faktual yang semestinya dipegang -tanpa sekalipun mau mengungkapkan sebutan atau labelnya hingga Yasuhiro Kunio menyebutnya sebagai Erzat Capitalism (Kapitalisme Malu-Malu)-, sebab itulah faktanya. Istilah deregulasi adalah magnet baru yang menjadi pintu masuk bagi kalangan para pemilik modal untuk menanamkan kepentingan demi mengejar perkembangan bisnisnya. Negara, tentu saja, diuntungkan karena pertumbuhan ekonomi ikut terangkat naik.

Namun, wajah Ujang juga memerah bangga kala bercerita tentang Widjojo. Karena nama Widjojo itulah ilmu ekonomi menjadi ilmu yang disegani dan terpandang di kalangan banyak orang di negeri ini. Ia bukan lagi ilmu minor yang hanya sebatas berbicara mengenai produksi dan konsumsi para pedagang atau tengkulak di pasar. Ia juga tidak selayaknya dinisbatkan sebagai sekadar hukum dagang yang memuat angka-angka yang bersliweran di atas kertas.

Di bawah Widjojo, ilmu ekonomi bukanlah ilmu yang “diam” melainkan ilmu yang “menggerakkan”. Maka setiap lembaga atau instansi, kantor atau perusahaan memerlukan sarjana ekonomi. Bahkan negara atau pemerintah tak lengkap kalau kabinetnya tidak diisi oleh para ahli di bidang ekonomi. Jadilah, Fakultas Ekonomi menjadi fakultas yang berkibar tinggi di atas fakultas-fakultas  lain, sedangkan jurusan yang bernaung di bawahnya, seperti akuntasi, manajemen, atau ilmu/studi pembangunan menjadi incaran banyak calon mahasiswa.

Di masa Orde Baru, agaknya, ilmu ekonomi menggapai masa keemasannya. Ia sulit tertandingi. Namun, di masa Orde Baru pula perlahan-lahan ilmu ekonomi mulai surut gemanya. Ini setelah nama B.J. Habibie mulai menjadi figur yang menentukan dalam arah gerak pembangunan saat menjadi “tangan kanan” Soeharto. Sebagai teknolog, Habibie seolah mengabaikan ekonom. Ia lebih memerlukan buah kerja dan buah karya para insinyur. Apalagi ia sukses menancapkan namanya sebagai arsitek pesawat terbang yang hebat.

Alhasil, nama insinyur mulai dianggap lebih mentereng dibanding sarjana ekonomi. Insinyur menjadi buruan baru bagi perusahaan, instansi, atau lembaga yang berkiprah di berbagai bidang. Bahkan lembaga keuangan pun, tak luput dari jamahan tangan-tangan insinyur. Mereka tak hanya mampu membangun jalan, jembatan, atau gedung-gedung mewah, tapi mereka juga cakap dan piawai dalam menangani persoalan-persoalan keuangan dan bank.

Kini, di era kekuasaan SBY, saya tidak tahu siapa yang lebih bersinar di antara keduanya,  insinyur atau ekonom. Saya pikir, mungkin tidak kedua-duanya atau malah kedua-duanya.  Di era politik sebagai panglima, politikus pasti lebih bersinar dibanding yang lainnya karena mereka masuk ke dalam denyut nadi kehidupan rakyat. Tak ada sektor yang tidak disentuhnya. Politik, pertahanan, pertanian, kehutanan, peradilan, keuangan, bank; semua dirambahnya.

Sayang, menjadi politikus tidak ada sekolahnya. Universitas tidak meluluskan mahasiswanya dengan ijazah yang bergelar “politikus”. Politikus dilahirkan dari rahim rakyat. Karena itu, tidak ada politikus yang sejatinya berkehendak untuk melukai hati rakyat. Tragisnya, politikus di negeri ini berbeda. Mereka tidak hanya bersusah payah melakukan segala macam cara demi mendapatkan ijazah, tetapi mereka juga tak pernah berhenti menyakiti hati rakyat. Sungguh politikus seperti ini bukan lagi politikus, melainkan zombie! ***

(Sumber gambar: bisnis.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: